Kepala Sekolah Disorot soal Twibbon MPLS Viral
Gambar atau konten salah?
Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Bali menyoroti secara langsung peran kepala sekolah dalam kasus twibbon MPLS yang viral. Twibbon tersebut menampilkan foto sejumlah siswi yang dinilai vulgar. Disdikpora menegaskan bahwa masalah ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab manajemen sekolah, terutama kepala sekolah sebagai pemimpin.
"Titik penguatannya adalah di manajemen sekolah, di kepala satuan pendidikan yaitu kaseknya. Kaseknya karena wajah sekolah dengan kualitas dan kompetensi kaseknya," kata Kadisdikpora Bali Ida Bagus Gde Wesnawa Punia pada Selasa, 14 Juli 2026.
Menurut Wesnawa, setiap sekolah memiliki pendekatan pembinaan yang berbeda. Namun, semua sekolah tetap harus mengoptimalkan pembinaan karakter peserta didik sesuai dengan kondisi masing-masing. "Misalnya di satuan PGRI apa di menengah swasta kayak begini, sudah barang tentu harus intensitas optimalisasi untuk pembinaan karakternya," jelasnya.
Wesnawa menjelaskan bahwa Disdikpora memiliki pola dan data untuk mengkaji berbagai persoalan di satuan pendidikan. Data ini menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan, termasuk penggunaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) dalam proses penerimaan peserta didik. "Masyarakat kan sudah bisa melihat ekosistem satuan pendidikan yang terpola. Bukan kita memilah memisah-misahkan ya. Itu kan mekanisme pasar jadi anak-anak yang memiliki TKA lumayan standarnya lebih tinggi kan bergabung dalam ekosistem yang sama," beber Wesnawa.
Ia menyayangkan unggahan twibbon MPLS tersebut. Menurutnya, pembinaan karakter harus sejalan dengan upaya pemerintah menyukseskan visi Indonesia Emas 2045. "Pola itu selaras dengan visi kita wujudkan SDM Bali Unggul. Sudah barang tentu saya sebagai Kepala Dinas menyusun langkah-langkah strategis untuk mempercepat capaian yang diharapkan," tuturnya.
Wesnawa juga menekankan peran penting yayasan dalam mengawasi satuan pendidikan di bawah naungannya. Ia menegaskan tidak ada pembedaan antara sekolah negeri dan swasta.
Sebelumnya, twibbon MPLS milik SMK PGRI 5 Denpasar menjadi sorotan setelah foto beberapa siswa baru dinilai tidak mencerminkan etika berpakaian karena dianggap terlalu terbuka. Kepala SMK PGRI 5 Denpasar Nuning Kurniawati mengatakan pihak sekolah telah melakukan penelusuran dan investigasi internal. Hasilnya, sejumlah siswi telah diberikan pembinaan dan diminta mengganti foto yang digunakan pada twibbon.
"Memang ada beberapa siswi itu yang (bertanya) 'kenapa emang ada ya aturannya?' Seperti itu, 'emang ada ini kalau seandainya saya nggak ganti seperti itu'. Jadi memang ini akan kami lakukan pemanggilan," ujar Nuning ditemui di SMK PGRI 5 Denpasar, Senin, 13 Juli 2026.
Kasus ini menunjukkan bahwa pengawasan terhadap konten media sosial sekolah masih perlu diperkuat. Twibbon yang seharusnya menjadi ajang perkenalan siswa baru justru memicu kontroversi karena kurangnya kontrol dari pihak sekolah. Pembinaan karakter tidak hanya dilakukan di dalam kelas, tetapi juga harus tercermin dalam setiap publikasi yang dikeluarkan oleh satuan pendidikan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kapolri Duduk Bareng Pecalang dan Ojol di Bali
Sensatia Raih Sertifikasi Bebas Kekejaman dari Cruelty Free International
Kampung Gelgel Klungkung tak punya calon kades
Bangkai Paus di Pantai Perancak Kembali Muncul
Ledakan Tabung Gas Hanguskan Warung Bakso, Tiga Luka Bakar
Klungkung Kekurangan 8.300 PJU, Nusa Penida Paling Parah
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
