Keracunan Massal 200 Siswa Surabaya Akibat Menu Daging MBG

Dwi H. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 102 dibaca
Bisik.id
Keracunan Massal 200 Siswa Surabaya Akibat Menu Daging MBG

Gambar atau konten salah?

Surabaya – Sekitar 200 siswa dari 12 sekolah di kawasan Tembok Dukuh mengalami keracunan massal setelah mengonsumsi menu daging MBG. Pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) segera menarik semua menu makanan yang tersedia.

Ketua Satgas MBG Jatim, Emil Elestianto Dardak, memberi kabar terbaru tentang kondisi para korban. “Jadi laporan tim Dinkes Jatim di lapangan, ada 197 siswa (yang diduga keracunan massal),” kata Emil kepada detikJatim, Senin (11 Mei 2026). Dari total 197 siswa, tiga menjalani perawatan di rumah sakit, lima lainnya berada di Puskesmas Tembok Dukuh, sementara sisanya rawat jalan dan beberapa sudah pulang ke rumah.

Emil menekankan bahwa fokus utamanya adalah memastikan penanganan maksimal bagi korban. “Kita fokus khusus untuk case yang ada di Surabaya. Kita pastikan penanganan terhadap korban semaksimal mungkin dan dilayani sebaik‑baiknya,” tambahnya.

Dr. g Tyas Pranadani, kepala Puskesmas Tembok Dukuh, menjelaskan proses penanganan medis. “Gejalanya mual muntah kebanyakan sih. Pusing, mual, muntah setelah makan makanan dari MBG,” ujar drg Tyas saat ditemui wartawan di RSIA IBI Surabaya, Senin (11 Mei 2026). Ia menambahkan bahwa dugaan awal penyebab keracunan berasal dari menu olahan daging, karena ini kali pertama siswa mendapatkan menu daging selama program MBG.

Menurut Tyas, guru-guru biasanya tidak memberikan daging, namun pada hari itu menu daging hadir. “Kalau dari pantauan kami dan laporan dari guru‑guru itu, biasanya enggak dikasih daging, hari ini ada daging. Jadi mungkin, ini masih mungkin ya, mungkin dari dagingnya,” terangnya. Puskesmas belum dapat memastikan sepenuhnya sebelum hasil uji laboratorium keluar, dan telah meminta penjelasan dari penyedia makanan atau SPPG mengenai proses pengolahan menu.

Di lokasi, banyak orang tua siswa terlihat panik membawa anak-anak mereka ke fasilitas layanan kesehatan. Beruntung, kondisi siswa berangsur membaik setelah mendapatkan perawatan darurat. Tyas menegaskan bahwa tidak ada siswa yang harus menjalani rawat inap. Sebagian besar sudah diperbolehkan pulang setelah kondisi stabil. “Belum ada (rawat inap), semuanya hampir alhamdulillah, jangan sampai ada yang rawat inap. Alhamdulillah tadi ini sudah banyak yang pulang,” pungkasnya.

Insiden ini menyoroti pentingnya pengawasan ketat terhadap menu makanan sekolah, terutama ketika menu baru diperkenalkan. Penanganan cepat dan koordinasi antara pihak sekolah, penyedia makanan, dan layanan kesehatan dapat meminimalisir dampak keracunan massal di masa depan.

keracunan massalSurabayadaging MBGPuskesmas Tembok DukuhSPPGsiswapenanganan medis

Komentar

Memuat komentar...