Komdigi: Spektrum 6G RI Masih Terfragmentasi
Gambar atau konten salah?
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyatakan bahwa persiapan untuk meluncurkan layanan 6G membutuhkan kesiapan yang sangat matang. Bukan hanya soal perangkat teknologinya, tetapi juga spektrum frekuensi yang akan digunakan. Saat ini, ketersediaan spektrum belum cukup untuk mendukung layanan 6G.
Adis Alifiawan, Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standardisasi Infrastruktur Digital di Kementerian Komdigi, menjelaskan bahwa di masa depan, pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI akan sangat membutuhkan koneksi 6G. Ia merinci beberapa keunggulan yang ditawarkan 6G. Kapasitas uplink-nya lebih besar, sehingga pengiriman data berjalan lebih lancar bahkan saat pengguna sedang bergerak. Latensinya super rendah. Jaringannya mampu menangani transmisi data dengan resolusi tinggi. Sistemnya juga mendukung komunikasi antar perangkat yang saling terhubung. Dan yang terpenting, semuanya terintegrasi dengan AI.
Saat ini, untuk menghadirkan layanan 6G, pemanfaatan spektrum oleh operator seluler di Indonesia masih belum memenuhi syarat. Alasannya, koneksi internet super cepat seperti 6G minimal membutuhkan lebar pita antara 200 MHz hingga 400 MHz. Sementara itu, total bandwidth yang digunakan oleh operator seluler seperti Indosat Ooredoo Hutchison, Telkomsel, dan XLSmart saat ini mencapai 452 MHz. Namun, tidak ada satu pun operator yang memiliki lebar pita minimal 200 MHz.
"Setelah lelang (frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz) itu total bandwidth 712 MHz, sedangkan kebutuhannya satu operator itu butuh 200 MHz," kata Adis di Jakarta, Kamis 09 Juli 2026.
Sebagai informasi, Komdigi saat ini sedang melakukan lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz. Total bandwidth yang dirilis dalam lelang ini adalah 70 MHz untuk frekuensi 700 MHz dan 190 MHz untuk frekuensi 2,6 GHz.
"Nggak ada satu pita frekuensi yang contigous, paling besar itu adalah lelang sekarang itu di 2,6 GHz itu nggak sampai 200 MHz. Jadi, kalau buat 6G itu nggak sampai buat satu operator," tuturnya.
Ke depannya, berdasarkan agenda sidang World Radio Communications Conferences (WRC) 2027, akan dibahas beberapa pita frekuensi baru. Pita frekuensi 4 GHz di rentang 4.400-4.800 MHz. Pita frekuensi 7 GHz di rentang 7125-8400 MHz. Pita frekuensi 15 GHz di rentang 14,8-15,35 GHz. Dan pita frekuensi di atas 6 GHz di rentang 6425-7125 MHz.
"Ada empat frekuensi dan masing-masing frekuensi sudah ada yang pakai. Jadi empat frekuensi ini tidak ada yang lahan kosong, ada yang dipakai microwave link, satelit, radio navigasi penerbangan. Ini situasi yang tidak mudah sebenarnya," pungkasnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan utama untuk mewujudkan 6G di Indonesia bukan hanya pada teknologi, tetapi juga pada ketersediaan spektrum frekuensi yang memadai dan berkelanjutan. Spektrum yang ada saat ini masih terfragmentasi dan belum ada satu operator pun yang memiliki pita frekuensi kontinu yang cukup besar. Sementara itu, frekuensi-frekuensi yang potensial untuk 6G di masa depan, seperti yang akan dibahas di WRC 2027, sebagian besar sudah digunakan oleh layanan lain seperti microwave link, satelit, dan radio navigasi penerbangan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Komdigi: Spektrum 6G RI Masih Terfragmentasi
Maroko: Tak Akan Ulang Kesalahan Lawan Prancis
Integrasi Stasiun Karet-BNI City Ditargetkan Beroperasi 2026
BTN Gandeng BPS, Data Jadi Kunci Atasi Backlog Rumah
Lurah Dicopot Gegara Jual Beli Stan Kuliner
Pemkab Sidoarjo Luncurkan 4.000 Beasiswa Pendidikan 2026
Pemerintah Jepang Siapkan Aturan Ketat untuk Makan Ayam Mentah