BRIN: Teknologi Cegah Kebakaran TPA
Gambar atau konten salah?
Kebakaran di tempat pembuangan akhir (TPA) kembali menjadi perhatian setelah insiden terjadi di TPA Jatiwaringin. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebutkan bahwa risiko kebakaran sebenarnya bisa ditekan dengan memanfaatkan teknologi pemantauan dan sistem peringatan dini. Bukan hanya mengandalkan pemadaman saat api sudah membesar.
Wahyu Purwanta, Peneliti Ahli Utama di Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, mengatakan pencegahan kebakaran harus dimulai dari pengelolaan TPA yang lebih terkontrol. Salah satunya dengan menggunakan teknologi untuk mendeteksi titik panas sejak awal.
"Teknologi untuk mencegah kebakaran di fasilitas akhir juga perlu dikembangkan, antara lain pemantauan temperatur, kamera dan drone termal, sensor gas, pengelolaan gas landfill, serta sistem peringatan dini berbasis kombinasi data timbunan dan cuaca," kata Wahyu dalam diskusi di Media Lounge BRIN, Gedung B.J. Habibie, Jakarta, pada Rabu, 09 Juli 2026.
Menurutnya, pendekatan berbasis sains bisa membantu mendeteksi potensi kebakaran sebelum api meluas. Ada beberapa parameter yang bisa dipantau. Misalnya suhu permukaan dan bawah permukaan timbunan sampah, anomali panas, konsentrasi gas tertentu, jumlah hari tanpa hujan, kelembapan udara, hingga kecepatan dan arah angin.
"Ke depan, berbagai parameter tersebut dapat diintegrasikan menjadi sistem peringatan dini atau indeks risiko kebakaran TPA yang sesuai dengan karakteristik sampah dan iklim Indonesia," ujarnya.
Wahyu menjelaskan secara ilmiah, kebakaran terjadi ketika tiga unsur bertemu: bahan bakar, oksigen, dan sumber panas. Di TPA, bahan bakar tersedia melimpah. Bentuknya plastik, kertas, tekstil, kayu, karet, hingga sampah organik yang sudah mengering.
Gas landfill seperti metana juga bisa menjadi bahan bakar dalam kondisi tertentu. Oksigen masuk melalui permukaan, retakan, maupun rongga di dalam timbunan sampah. Namun menurut Wahyu, sumber penyalaan awal sering kali sulit dipastikan.
"Secara umum, pemicu dapat berasal dari api terbuka, puntung rokok, pembakaran di sekitar lokasi, benda atau abu panas, maupun sumber panas di dalam timbunan. Namun, untuk suatu kejadian tertentu, termasuk kebakaran TPA Jatiwaringin, penyebab spesifik sebaiknya tidak disimpulkan sebelum ada hasil investigasi yang memadai," jelasnya.
Selain sistem pemantauan, Wahyu menilai pengelolaan sampah juga harus disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah. Ia menegaskan tidak ada satu teknologi yang cocok diterapkan di semua TPA.
"Hal yang perlu ditekankan adalah bahwa teknologi bukan sekadar membeli peralatan. Keberhasilan sangat bergantung pada kesesuaian teknologi dengan karakteristik sampah, kualitas operasi dan pemeliharaan, kompetensi operator, sistem pemantauan, serta kepastian pengelolaan produk dan residunya," katanya.
Menurutnya, sampah organik sebaiknya diolah melalui pengomposan atau biodigester. Material yang masih memiliki nilai ekonomi perlu dipilah untuk didaur ulang. Sementara fraksi sampah yang mudah terbakar bisa dimanfaatkan menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) atau diolah menggunakan teknologi waste-to-energy yang memenuhi persyaratan teknis dan lingkungan.
Wahyu menegaskan pencegahan kebakaran tidak cukup dilakukan di dalam kawasan TPA. Upaya jangka panjang harus dimulai dengan mengurangi volume sampah campuran yang berakhir di fasilitas tersebut.
"Dalam jangka panjang, arah kebijakan perlu memastikan semakin sedikit sampah campuran yang masuk ke fasilitas akhir. Pengurangan, pemilahan, daur ulang, pengolahan sampah organik, dan pemanfaatan fraksi yang masih memiliki nilai harus diperkuat sehingga fasilitas akhir lebih banyak menerima residu dan dioperasikan secara lebih terkontrol," pungkasnya.
Kebakaran TPA bukanlah hal baru di Indonesia. Insiden di Jatiwaringin hanyalah salah satu dari sekian banyak kejadian serupa. Dari penjelasan BRIN, terlihat bahwa solusi jangka panjang ada pada pengelolaan sampah dari hulu. Mengurangi sampah campuran yang masuk ke TPA, memilah sejak dari rumah, dan mengolah sampah organik secara mandiri adalah langkah-langkah yang bisa meminimalkan risiko kebakaran di masa depan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Mastel Desak Pemerintah Siapkan Fondasi 6G
Mastel: Indonesia Bisa Loncat ke 6G
Mastel Desak Pemerintah Siapkan Pondasi Teknologi 6G
Gabe Newell Siapkan Rp14,6 Triliun untuk Kapal Riset Laut Dalam
CR7 Kalahkan Messi, Video Paling Banyak Ditonton di X
ATSI Minta Tarif Verifikasi Biometrik SIM di Bawah Rp 1.000
Berita Terbaru
BRIN: Teknologi Cegah Kebakaran TPA
Mastel Desak Pemerintah Siapkan Fondasi 6G
Ibu Penjual Air Minum di Sleman Sukses Kuliahkan Anak di UGM
52 Ruas Tol Diusulkan Naik Tarif Tahun Ini
Viking Kampanye 'No Denda' Usai Persib Kena Sanksi Rp6 Miliar
Polisi Razia Humanis: Pelanggar Dapat Nasihat Ustaz, Tertib Dapat Teh Manis
