Kopi Cibulao: Tanaman Menyelamatkan Desa dari Longsor
Gambar atau konten salah?
Kampung Cibulao di Bogor sering diselimuti kabut tipis di sore hari. Rintik hujan turun perlahan, menetes di lereng perkebunan teh yang mengelilinginya. Sebelum hujan, warga sering merasa khawatir. Hujan dianggap membawa petaka, dan rasa was-was ini pernah dirasakan oleh Partinah (61). Di teras rumahnya, perempuan yang akrab dipanggil Emak duduk rileks sambil mendengarkan obrolan dengan takzim. Saat ia berbicara, terdengar logat Jawa kental. Senyumnya merekah, menambah kehangatan wajah yang dibingkai kerudung hitam, pudar oleh usia. Secara fisik, ia tampak biasa saja, namun di balik kesederhanaannya tersimpan kisah perjuangan yang mengubah kampung yang pernah muram.
Partinah mengingat kembali 36 tahun lalu, ketika ia dan suaminya, Nardi, pertama kali tiba di Kampung Cibulao. Mereka datang sebagai buruh di perkebunan teh. Kampung ini terletak di Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Lokasinya hanya sepelemparan batu dari Telaga Saat, titik nol kilometer daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung, yang alirannya membelah Jakarta. Bagi Emak dan keluarga kecilnya, tempat ini adalah dunia baru.
"Dulu Emak yang dibawa sama perusahaan ke sini," ujar Emak sambil mengetukkan jarinya ke lantai. Bertahun-tahun silam, pasangan itu bekerja sebagai pencari kayu bakar di Temanggung, Jawa Tengah, dengan penghasilan tak menentu. Akibatnya, mereka pindah ke Bogor di awal 1990-an. Di sana, mereka diupah Rp 1.000 per hari, minim tapi jauh lebih baik daripada sebelumnya.
Namun, krisis moneter menghantam Tanah Air di akhir dekade tersebut. Harga kebutuhan pokok melonjak, sementara penghasilan di kebun teh tetap terbatas. Dalam tekanan ekonomi, sebagian warga mengambil jalan pintas dengan merambah hutan. Mereka menebang pohon, menjual kayunya, membuka lahan sayuran, hingga berburu satwa liar. Perambahan ini perlahan mengubah wajah hutan di sekitar Cibulao. Akibatnya, longsor di musim hujan dan kekeringan saat kemarau silih berganti.
Menyaksikan itu, hati Emak gelisah. Ia sering membayangkan cara menyembuhkan alam. "Bisa longsor, kasihan orang yang di bawah nanti kebanjiran," ucap Emak. Namun keinginan itu seringkali terbentur kenyataan. Ia dan suaminya hanyalah buruh perkebunan yang kehidupannya pas-pasan.
Perubahan mulai muncul pada 01 Januari 2000, saat mudik ke Temanggung. Emak memperhatikan hamparan pohon yang menghijaukan lereng-lereng perbukitan milik kerabatnya. Pikirannya melayang ke Cibulao, tempat lahan-lahan bekas longsor dibiarkan menganga. Nalurinya mengatakan pohon kopi punya akar kuat sehingga bisa mengikat tanah yang rapuh. Dari momen itu lahir ide menanam kopi di Cibulao.
Emak meminta 50 batang bibit kopi kepada kerabatnya, meski tindakan ini dipandang aneh sang suami. "Saya bilang ke suami, 'Pak, saya mau bawa bibit ini' Terus bapak bilang, 'Gimana bawanya?' Saya bilang, 'Biarin, bapak enggak usah ikut campur. Saya aja yang bawa, walaupun dijinjing atau disunggi,'" tutur Emak. "Saya bilang juga, nanti kalau pohonnya tumbuh, kita enggak usah beli kopi lagi dari koperasi," imbuhnya.
Membawa pulang 50 batang bibit kopi dari Temanggung ke Cibulao menjadi perjuangan tersendiri. Bibit-bibit itu dibungkus daun pisang agar tak layu selama perjalanan 500 kilometer, yang memakan waktu belasan jam dan harus tujuh kali naik-turun angkutan umum. Singkat cerita, puluhan bibit kopi itu akhirnya bisa dibawa pulang dan ditanam oleh pasangan tersebut di lahan bekas longsor. "Waktu itu asal tanam saja, pokoknya nanam seperti di Jawa aja," kata Emak.
Di masa merintis, tak terbesit dalam niatnya untuk mencari untung. Ia hanya ingin menyembuhkan tanah yang rusak. Setelah 2,5 tahun, kopi itu berbuah. Walau berjenis robusta (Coffea canephora), tanaman itu tumbuh subur dengan akar kuat di ketinggian 1.391 mdpl. Idealnya, robusta tumbuh di dataran rendah dengan ketinggian 400-800 mdpl. Namun, karena tanah vulkanis di kawasan Puncak masih sehat, robusta bisa tetap tumbuh adaptif, sebagaimana terungkap dalam jurnal tim peneliti Universitas Trisakti (2023). "Di sini dua tahun setengah juga sudah berbuah. Makanya enggak dikasih rabuk (pupuk), tanahnya masih hidup, masih sehat gitu," ucap Emak.
Karena mengambil bibit dari Temanggung mahal di ongkos, Emak membeli bibit dari penjual di Jonggol. Sekali beli, ia memborong 500 hingga 1.000 bibit. Sebagian ditanam di lahan bekas longsor, sebagian lagi diberikan kepada tetangga, walau ironisnya banyak yang mati karena tidak dirawat. Celaan dari segelintir warga terkadang membuat telinganya panas, Emak dianggap boros. Ujian semakin berat saat suaminya wafat, namun hal itu tak menyurutkan semangatnya.
Tahun berikutnya, karena stok kopi terlalu banyak untuk dikonsumsi sendiri, ia menjual biji kopi kering (green bean) seadanya di Cipanas dengan harga murah Rp 5.000/kg. Melihat sang ibu jatuh bangun merawat pohon kopi setelah jam kerja, hingga harus memikul karung-karung berat demi rupiah yang tak seberapa, memahat memori mendalam di kepala anak-anaknya: Kiryono (46), Jumpono (43) dan Dasimto (33). Mereka kemudian ikut bergerak bersama meneruskan perjuangan ibunya dalam pemulihan hutan.
Beberapa jam sebelum kabut turun, Kiryono -anak sulung Partinah- menyuguhkan hasil panen terbaiknya dalam sajian kopi tubruk. Kepulan uap tipis menari di atas cangkir, menguarkan aroma manis lembut yang menyerupai jejak gula bakar. Saat disesap, kopi itu tak terlalu masam, menyegarkan seperti sentuhan citrus, lalu berubah menjadi manis karamel dengan aftertaste yang tertinggal lama. "Kopi dari Cibulao ini punya cita rasa yang khas. Salah satunya di rasa gula bakar itu ya atau gula ubi Cilembu. Aroma-aromanya seperti itu," ujarnya.
Manis ini kontras dengan masa kecil pria yang akrab disapa Yono. Merantau ke pegunungan terpencil adalah kenangan pahit baginya. Ia harus mengasong jagung di jalur Puncak hingga pendidikannya terhenti di kelas V SD. Pada 01 Januari 1994, Yono melihat pepohonan meranggas diguncang angin besar saat ia masuk ke hutan. Fenomena itu menggugah kesadarannya untuk menolong alam. "Nyut…nyut…nyut… Ada apa ini? Saya merasa ini panggilan alam, karena perasaan saya melihat pohon itu semuanya menangis," ucap Yono.
Dari sana, ia bergabung dengan Kelompok Peduli Lingkungan (KPL) Hulu Ciliwung dan menanam pepohonan keras. Tetapi kelompok itu bubar pada 01 Januari 2006, karena pohon yang membesar justru ditebang kembali masyarakat. Dua tahun pascabubarnya KPL, Yono menemui pencerahan. Pohon-pohon keras seperti rasamala (Altingia excelsa), saninten (Castanopsis argentea), puspa (Schima wallichii) ternyata tak disentuh perambah jika berdekatan dengan pohon kopi pelopor milik Emak.
Baru ngeh saat lihat kopi yang ditanam orang tua, pohon-pohon besar di sekitarnya tidak ditebang. Kalau sampai roboh kena kopi, nanti urusannya sama yang punya kopi," kata Yono. Dari sana, Yono memutuskan mengikuti jejak orang tuanya. Ketika Perhutani menawarkan program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM), Yono bersama Jumpono dan Dasimto menyusun strategi konservasi melalui budaya kopi hutan. "Saya bilang ke adik saya 'Jum, kalau mengajak masyarakat jangan sekarang. Malu kita. Kita harus jadi contoh dulu'. Kalau kita berhasil, satu jengkal tanah pun bakal jadi rebutan kelak," kenang Yono.
Untuk legalitas di lahan negara, mereka membentuk Kelompok Tani Hutan (KTH) Cibulao Hijau yang awalnya beranggotakan delapan orang, termasuk orang tua dan tetangga karib. Selama bertahun-tahun kelompok ini menapaki jalan pelestarian yang sunyi.
Belajar bersama, konsistensi KTH Cibulao akhirnya terpantau radar dua peneliti dari Pusat Penelitian Pengembangan Wilayah Institut Pertanian Bogor (P4W IPB), yang sedang memetakan kawasan Puncak. "Kok beda sendiri, yang lain menanam sayuran, kami menanam kopi," ucap Yono. Dialog terjadi hingga niat murni Emak menanam kopi untuk mencegah longsor dan banjir di DAS Ciliwung Hulu menggerakan hati para peneliti. Secara ilmiah, jurnal EnvironmentAsia (2024) mencatat bentang DAS Ciliwung Hulu memiliki pola aliran bercabang-cabang menyerupai urat ranting (dendritic). Ketika tutupan hijau beralih fungsi, pori-pori tanah kesulitan menyerap air sehingga hantaman curah hujan tinggi berubah menjadi limpasan permukaan liar yang meluncur cepat menuju leher botol di Katulampa, memicu banjir bandang.
Inisiatif datang dari IPB untuk mendampingi. Konsep agroforestri diperkenalkan. Jika Emak memelopori penanam kopi, maka anak-anaknya menerjemahkan cara budidaya kopi modern dari hulu ke hilir. "Di situ kita mulai sadar, oh ternyata ingin kualitas bagus itu enggak boleh petik ceri hijau seperti itu, awalnya kita masih panen sembarangan," katanya. Melalui pembinaan intensif, IPB dan para ahli yang didatangkan, kualitas kopi Cibulao membaik. Harga green bean kopi Cibulao naik menjadi Rp 30.000/kg. Peran dari tiga bersaudara itu pun mulai terbagi. Yono di bagian pemasaran, Jumpono mengurus hulu dan Dasimto mengawal kualitas hilir.
Menunggu pohon kopi siap panen membutuhkan waktu bertahun-tahun. Sebagai jalan tengah ekonomi agar petani tak merambah hutan, KTH Cibulao membuka usaha alternatif sepeda gunung (downhill) pada 01 Januari 2015. Pendapatan dari wisata ini berhasil membiayai pembibitan hingga penguatan kapasitas petani. Di saat yang sama, KTH juga mulai mengembangkan wisata edukasi kopi dan konservasi hutan. Berbagai paket wisata konservasi ditawarkan dengan melibatkan ibu-ibu di kampung sebagai penyedia katering, warga menyediakan penginapan, serta membekali pemuda kampung keterampilan fotografi. Setelah kebun kopi berbasis ilmu ini mulai menghasilkan buah yang melimpah, jalur sepeda gunung ditutup agar kelompok bisa fokus pada agrowisata kopi konservasi. "Kita kembali fokus lagi ke kopi," ucap Yono.
Lahir Kopi Spesialti Robusta Terbaik Nasional. Sistem tumpangsari di bawah naungan pohon hutan (shade grown coffee) yang awalnya dilakukan secara naluriah terbukti menjaga suhu tetap stabil sehingga buah kopi matang lebih optimal, dengan rasa yang kompleks. Di ketinggian tersebut, kopi robusta Cibulao melahirkan anomali rasa yang unik dengan sedikit karakter arabika yang fruity. Keunikan citarasa ini membawa Kopi Cibulao mewakili Distanhut Kabupaten Bogor dalam Kontes Kopi Spesialti Indonesia (KKSI) yang diselenggarakan Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) di Takengon, Aceh pada 01 Januari 2016. Yono menunggu hasil penjurian yang berlangsung dua bulan. Pasalnya, kopi Cibulao bersaing dengan 65 sampel kopi robusta lainnya, dari berbagai daerah di Indonesia. Dari 65 kopi itu, mengerucut menjadi 14 finalis. Setelah melalui proses uji cupping yang ketat oleh para profesional dari dalam dan luar negeri, pada 22 Oktober 2016, kopi Cibulao dinobatkan sebagai juara pertama kopi spesialti robusta terbaik nasional dengan skor 84,53. Kemenangan ini menjadi titik balik besar. Pamor kopi melambung, harga jual naik menjadi Rp 60 ribu/kg, dan warga yang semula ragu berbondong-bondong menanam kopi. "Karena melihat dari sisi ekonominya. mereka mulai bergabung satu orang, dua (orang) hingga terus bertambah," ujarnya.
Kampung yang Menemukan Jati Dirinya. Hampir satu dekade sejak kemenangan itu. Kini sulit menemukan rumah yang terpisah dari kopi di Kampung Cibulao. Teras rumah dipenuhi hamparan biji kopi berwarna gading yang dijemur, sementara pohon kopi tumbuh rapi menjadi pagar hidup di sepanjang jalan kampung. Dari 170 KK populasi di Cibulao, sebanyak 89 KK telah bergabung dengan KTH Cibulao. "Kalau dulu ngajak itu capek, kalau sekarang mereka mau sendiri. Dari sisi ekonominya juga bagus. Tak hanya dari kampung ini, dari kampung sebelah juga Cikoneng, Rawagede, Cisuren yang awalnya sayuran, sekarang sudah kopi semua," ujarnya. Yono kemudian mengajak ke dalam hutan, melewati jalan setapak perkebunan teh. Ia berhenti, tangannya menunjuk sebuah bukit yang tertutup lebatnya pepohonan. "Kita lihat hutan di sebelah sana, itu kelihatannya hutan lembap, tapi di bawahnya itu hampir kopi semua," ucap Yono. Lebih sulit lagi membayangkan bahwa kawasan yang kini tampak hijau dan teduh itu dulunya hanya hamparan lahan bekas ladang sayuran. Kopi itu sifatnya butuh pohon peneduh, butuh naungan. Akhirnya masyarakat juga menanam pohon-pohon keras juga," kata Yono dengan nada lega. Melalui skema agroforestri, sedikitnya 20 hektar lahan kritis bekas rambahan hortikultura di Cibulao telah bertransformasi kembali menjadi struktur kanopi hutan sekunder. Dokumen spasial melalui citra satelit Planet dengan resolusi tinggi, merekam potret lanskap itu dan divalidasi oleh tim peneliti dari Universitas Trisakti pada 2023. Pola jarak tanam 3x 2,5 meter yang diterapkan warga terbukti sukses menjaga kelembapan tanah jenis inceptisol (lempung liat berdebu) khas hulu Ciliwung. Warga melaporkan kemunculan satwa liar seperti burung cucak hijau dan trenggiling. Saat ini KTH telah menanam kopi dan tanaman keras lainya di lahan seluas 85 hektar dari total 610,6 hektar area kerjasama kerja sama dengan Perhutani.
Generasi Baru Penjaga Hutan. Setelah melihat hutan, langkah kami berhenti di sebuah rumah kayu sederhana yang letaknya berada di suatu lembah. Bangunannya tidak mewah. Dinding dan lantainya didominasi kayu. Namun bagi Yono dan anggota KTH, nilai terpenting rumah kayu itu bukan pada bangunannya. Di tempat itulah petani, peneliti dan wisatawan berkumpul bertukar gagasan. Tempat ini dilengkapi dua dry house kopi bertenaga surya dan sebuah embung konservasi. Di tepian embung, Herdi Suhendi (40), anak buruh teh, yang dulu terpaksa merambah hutan karena keterbatasan ekonomi menceritakan titik balik hidupnya. "Tadinya warga itu ragu-ragu sama (kapan) panennya, tapi pas tahun 2016 kelihatan tuh nilai ekonominya. Nah, makin terpaculah saya," kenang Herdi. Walau kopi saat ini naik daun, ujar Herdi, warga tidak lekas meninggalkan pekerjaannya di perkebunan teh. "Bukan istilahnya membuka perusahaan di atas perusahaan, tapi ini sampingan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat," kata Herdi. Sejak 01 Mei 2026 harga green bean kopi spesialti Cibulao dibanderol Rp 90 ribu/kg untuk robusta, dan Rp 140 ribu/kg untuk kopi arabika. Sekali panen, yang umumnya satu tahun sekali, petani kopi di Cibulao bisa meraup Rp 5 juta, Rp 15 juta, Rp 80 juta bahkan ada yang sampai Rp 130 juta dari penjualan green bean. Rata-rata produksi kopi di Cibulao mencapai 5-10 ton per tahun. Penghasilan penggarap kopi yang rata-rata bisa menyamai upah minimum kota-kota besar di Jawa Barat, membuat mereka enggan kembali merambah hutan. "Sekarang rotan-rotan di hutan itu sudah banyak. Kalau dulu rotan-rotan itu habis, karena memang untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Kalau sekarang sejak ada kopi, nilai ekonominya kita dapat. Jadi ngapain lagi harus merambah hutan?" ucap Herdi.
Nilai ekonomi yang berhasil menyelamatkan rotan hingga tegakan pohon di hulu Ciliwung ini tidak tercipta secara instan di dalam pagar hutan. Ia lahir dari rantai pasar yang panjang mulai dari petik ceri merah di lereng pegunungan, hingga tetes seduhan yang disajikan dari tangan barista ke cangkir penikmat kopi. Pengalaman rasa itu bisa dinikmati langsung di dua kafe yang dikelola Yono. Satu kafe berada di jalur menuju Telaga Saat. Di sini pengunjung bisa menyesap kopi Cibulao dengan suguhan bentang perkebunan teh Ciliwung dan Telaga Saat yang memanjakan mata. Sedangkan satu kafe lagi terletak di Jalan Raya Cisarua, Bogor. Aktivitas di sini lebih sibuk. Para pekerja -warga sekampung dan warga setempat- tak hanya melayani menyuguhkan kopi kepada pengunjung. Mereka juga menyangrai, mengemas dan mendistribusikan kopi dari Cibulao ke berbagai tempat di Nusantara. Di sini jasa ekspedisi berperan menjadi urat nadi ekonomi, yang menyambungkan kerja keras konservasi di hulu dengan gaya penikmat kopi di kota besar. Melalui pemanfaatan jasa ekspedisi, paket-paket kopi Cibulao kemudian menempuh perjalanan ratusan kilometer menuju kafe-kafe yang berada di Jabodetabek, Kuningan, Temanggung, Pekalongan, Yogyakarta, Bali, Kalimantan hingga Sulawesi. "Untuk pengiriman seperti ke Bogor, Jakarta, atau Depok. Ke Temanggung atau ke Jawa Tengah juga pakai itu, JNE," ucap Yono. Keterhubungan logistik inilah yang kemudian menciptakan ekosistem saling menguntungkan antara desa dan kota. Marketing Group Head JNE, Eri Palgunadi mengatakan akan ada dampak umpan balik ekonomi (economic feedback) jika produk lokal terjual ke luar daerah. Sebab aliran modal (capital flow) akan masuk kembali ke tempat produk itu berasal. Ekspansi pasar ini, ujar Eri, secara otomatis akan membuka lapangan kerja baru di tingkat lokal. Mulai dari tingkat produksi, pengemasan hingga pemasaran. Pendapatan asli masyarakat yang meningkat, akan menaikkan daya beli dan kesejahteraan keluarga di daerah, serta menghidupkan ekosistem pendukung, seperti penyedia bahan baku lokal dan pengrajin sekitar, ujar Eri dalam keterangan tertulisnya.
Harapan untuk Masa Depan. Bicara tentang kopi Cibulao, tak hanya tentang mencegah kerusakan alam dan memutus rantai kemiskinan. Tapi juga terselip harapan tentang generasi masa depan kampung. "Kalau saya sendiri terpikir soal masa depan anak, saya seperti orang sakit hati gitu. Dari kecil di Temanggung, dibawa ke sini ke perkebunan. Di sini kerja dari kecil, sekolah enggak. Jangan sampai terjadi ke generasi berikutnya," ujar Yono. Berkah dari mengelola kopi ini mengantarkan dua orang anak warga Kampung Cibulao ke bangku universitas. Jenjang pendidikan yang mungkin sebelumnya tak terpikirkan. "Ada seseorang yang saya hormati, dia bilang begini 'Kang Yono, enggak usah cemas, enggak usah takut. Kalau kita berbuat baik kepada alam, maka sang pemilik alam akan memberi kejutan pada kita'. Itu yang jadi pegangan buat saya," ucapnya. "Dulu juga saya enggak terpikir tentang ekonomi, saya hanya memegang kata-kata itu. Kok ya berbekas banget gitu. Tapi ternyata alhamdulillah seperti ini," katanya menambahkan. Andai pilihan hidup membuat anak-anak muda di Cibulao harus mencari pekerjaan, setidaknya mereka sudah dibekali ilmu menyeduh dan menyajikan kopi secara profesional. Di bagian ini, adik bungsu Yono, Dasimto yang mengambil peran. Dengan bekal lisensi barista Level 1 dari ASEAN Coffee Federation (ACF). Dasimto melatih anak-anak muda menjadi seorang barista. Berkat pelatihan itu, alumni pelatihan telah bekerja di kafe-kafe yang berada di Jabodetabek, bahkan ada yang berkarier di mancanegara. "Ya biar anak-anak muda juga mempunyai bekal pengalaman. Ibaratnya agar di sini tuh enggak ada yang menganggur lah seperti itu. Jadi anak-anak yang putus sekolah itu dia punya kemampuan," tutur Yono. Warisan yang Terus Mengalir. Halimun yang menggantung rendah di Kampung Cibulao tak lagi terasa muram. Rinai yang turun perlahan kini membawa berkah. Lantunan tarhim terdengar samar-samar dari pengeras suara masjid, penanda sebentar lagi waktu Magrib tiba. Sampai saat ini, Emak tak pernah menyangka jika 50 bibit kopi yang dibawanya dengan susah payah dari Temanggung, menjadi wasilah dalam mengubah nasib sebuah kampung. "Enggak nyangka sama sekali," ucapnya pelan. Dulu harapannya hanya ingin tanah itu tidak longsor lagi, dan kalau mau ngopi tak perlu beli dari koperasi. Tak lebih dari itu. Kini, kopi yang dulu ditanamnya telah menghidupi anak-anaknya, mengantar cucunya ke bangku kuliah, membuat warga berdaya, sekaligus membantu pemulihan hulu di hulu Sungai Ciliwung. "Kalau dulu orang bilang buat apa nanam kopi. Sekarang alhamdulillah bisa bermanfaat buat anak-anak, buat cucu, buat orang lain juga," ujar Partinah sambil tersenyum kecil. (yum/yum)
Di akhir cerita, terlihat bahwa perubahan kecil mulai merembet ke seluruh kampung. Dari sekadar menanam kopi, kini menjadi sistem ekonomi yang menyeimbangkan pelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat. Dengan dukungan penelitian, jaringan pasar, dan semangat generasi muda, Cibulao menunjukkan contoh bagaimana sebuah komunitas dapat memanfaatkan sumber daya alam secara bijak, sekaligus membuka peluang pendidikan dan pekerjaan bagi anak-anaknya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Pawai Obor Meriahkan Tahun Baru 1448 Hijriah di Tasikmalaya
SPMB 2026/2027 KBB Dibuka, Pendaftaran SD & SMP Mulai 19 Juni
Pawai Obor 1 Muharram 1448 di Cigugur Tengah, Cimahi
Pawai Obor 1 Muharram 1448 Soreang: 3.000 Peserta & Kain Kafan
UI dan Tongji Bangun Institut Riset Desain Arsitektur
BBM Naik, Cianjur Tambah Anggaran DLH agar Truk Sampah Tetap
Berita Terbaru
Kopi Cibulao: Tanaman Menyelamatkan Desa dari Longsor
Persik Kediri Ubah, Syahid Jadi Direktur Operasional
Puskesmas Kusuma Bangsa Terbangun di Bekas RS COVID-19
Tunisia Kalah 5-1 di Piala Dunia, Pelatih Dipertanyakan
Muharram 1448 H: Luncurkan Bantuan untuk Muslim
Pemerintah Usulkan Bagi‑Bagi Kompor Listrik Rp815 Miliar
Lapangan Merdeka Medan Belum Buka, Trek Lari Diperbaiki
LF PBNU Tetapkan 1 Muharram 1448 H Pada Rabu 17 Juni 2026
Spanyol Hadapi Cape Verde di Piala Dunia 2026, Siap Tantangan