Korea: Cup Mie Instan Jadi Bahan Baku Plastik Dari Sampah
Gambar atau konten salah?
Cup mie instan sudah lama menjadi sumber sampah yang sulit diolah. Banyak bekas cup ini dibakar atau ditumpuk di tempat pembuangan akhir. Kini, Korea Selatan memperkenalkan metode baru untuk mengubah limbah cup mie instan menjadi bahan baku plastik.
Kenapa cup mie instan begitu populer? Karena praktis: cukup tambahkan air panas, selesai. Namun, dari sisi lingkungan, limbah cup ini menjadi masalah. Menyumbang pada polusi udara saat dibakar dan menambah volume di tempat pembuangan akhir. Pemerintah Korea Selatan berusaha mengubah perspektif ini menjadi peluang.
Inisiatif ini memanfaatkan dekomposisi termal, teknologi canggih yang memecah kertas polistirena—yang biasa disebut PSP—menjadi nafta, bahan dasar plastik baru. Sebelumnya, daur ulang mekanis hanya melelehkan dan membentuk kembali plastik, menghasilkan produk berkualitas rendah. Dengan pirolisis, limbah PSP dipanaskan pada suhu tinggi tanpa oksigen, mengubah plastik padat menjadi minyak cair. Minyak ini kemudian disuling menjadi nafta, komponen penting dalam produksi plastik.
Program ini menandai pergeseran signifikan dalam cara Korea Selatan mengelola limbah plastik. Sebelumnya, banyak bahan dianggap tidak dapat didaur ulang. Sekarang, Kementerian Lingkungan Hidup Korea Selatan memperluas inisiatif daur ulang kimia nasional. Hasil uji coba regional tahun lalu berhasil mengolah sekitar 15,8 ton limbah PSP, menunjukkan potensi skala besar.
Untuk mendorong sektor swasta, kementerian menggunakan sistem tanggung jawab produsen yang diperluas. Produsen dan importir diwajibkan mengelola siklus hidup kemasan mereka secara hukum. Perusahaan logistik dan kimia yang terlibat akan menerima subsidi pemerintah pada tahap pengumpulan awal dan akhir dekomposisi termal.
“Perluasan ini mengatasi keterbatasan teknis yang sudah berlangsung lama dalam mendaur ulang polistiren yang terkontaminasi,” kata Kim Go-eung, direktur divisi sirkulasi sumber daya di kementerian. “Ini akan membantu mengubah limbah bernilai rendah menjadi sumber daya kimia bernilai tinggi dan mempercepat transisi menuju ekonomi sirkular,” tutupnya.
Inisiatif ini tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru. Dengan mengubah limbah menjadi bahan baku, Korea Selatan menempatkan diri di garis depan dalam upaya global menuju ekonomi sirkular. Program ini menunjukkan bahwa solusi sederhana, seperti memanfaatkan limbah cup mie instan, dapat membawa perubahan signifikan bagi lingkungan dan industri.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kusuka Kembali di Jakarta Fair 2026, Hadir Tas Edisi Spesial
Warung Nasi Lemak di Sungai Bayor: 30 Tahun Harga Tetap 4 Ribu
Belong Coffee di Klungkung Viral Tanpa Influencer, Menjadi Destinasi Keluarga
Nasi Bakar Liwet Derajat Jadi Trend Ciledug Tangerang
Jamie Tan MasterChef: Roti Canai Metode Kontroversial
SU MA Jakarta Selenggarakan ‘Passage’ dengan Chef Baru
Berita Terbaru
Mi Instan: Beban Sodium dan Risiko Metabolik pada Konsumen
Bupati Empat Lawang Tegaskan Anti KKN, Panggil Warga Awasi
Temuan Kepingan Emas di Candi Losari, Fokus Eksplorasi Baru
Piala Dunia 2026 Meksiko: Brazil Siap Hadapi Grup C
Semifinal AFF U-19 2026: Indonesia vs Australia 0-0
XLSmart: Jembatan Integrasi Tujuh Pilar Digital Indonesia
Inna Sri Sugiati Buka Usaha Asinan Fermentasi, BRI Mendukung
Pertamax Naik Rp 16.250: Menteri Jelaskan Penyesuaian Pasar
