Kurma Sugiarto, Hasil Petani Sederhana di Palembang

Dani L. · 2 min baca · 24 hari lalu · 53 dibaca
Bisik.id
Kurma Sugiarto, Hasil Petani Sederhana di Palembang

Gambar atau konten salah?

Sugiarto, seorang warga Palembang berusia 45 tahun, memulai petaniannya dengan keisengan. Pada 15 tahun yang lalu, ia menanam bibit kurma di sudut halaman rumahnya di Jalan KI Anwar Mangku, yang dulu disebut Jalan Sentosa, Lorong Nasional IV, Plaju Palembang. Tanpa pengetahuan khusus tentang jenis atau perawatan, ia hanya menanam bibit yang dibelinya dari teman dan sesekali menaburkan pupuk.

“Awalnya cuma iseng, tidak tahu juga jenis kurma apa,” ujar Sugiarto sambil tersenyum ketika dikunjungi pada 21 April 2026.

Selama bertahun‑tahun, pohon itu tumbuh besar dan dibiarkan berkembang secara alami. Setelah menunggu lama, akhirnya pada Maret 2025 hingga April 2025 pohon kurma miliknya mulai berbuah. Sebelum buah muncul, bunga pertama terlihat di tiga ruas batang.

Rasa kurma yang dihasilkan tak kalah dengan buah impor. Sugiarto menggambarkan rasanya manis dengan sensasi mirip jambu dan menilai kualitasnya setara premium.

Berita tentang pohon kurma yang berbuah menyebar cepat di lingkungan. Warga datang hanya untuk melihat, lalu mencicipi. Sugiarto memilih membagikan hasil panennya kepada tetangga. “Bahkan ada yang datang meminta yang muda untuk berikhtiar memiliki keturunan,” ujarnya.

Masuknya tahun 2026, Sugiarto melihat tanda-tanda pohon kembali berbuah. Meskipun hanya satu ruas yang mengeluarkan bunga, harapan panen kembali muncul. Ia tetap membiarkan pohon tumbuh alami tanpa perawatan khusus, hanya sesekali membersihkan ranting tua dan jarang memberi pupuk. “Tidak ada perawatan khusus, paling bersihkan ranting saja,” jelasnya.

Namun tantangan tetap ada. Saat buah mulai muncul, ia harus melindunginya dari kalong yang sering datang setelah magrib. Banyak buah yang hampir matang hilang karena dimakan kalong ketika magrib tiba.

Di lingkungan tempat tinggalnya, banyak warga yang mencoba menanam kurma. Namun, tidak semua berhasil berbuah seperti miliknya, sehingga pohon kurma Sugiarto semakin menarik perhatian.

Menanam bagi Sugiarto bukan sekadar hobi, melainkan sumber kebahagiaan. Di belakang rumahnya, ia juga merawat berbagai tanaman lain seperti durian, mangga, jagung, dan jambu. Ia berharap suatu saat bisa mendapatkan bibit kurma yang lebih baik untuk ditanam kembali. “Kalau ada bibit bagus, ingin coba tanam lagi. Memang hobi berkebun,” tambahnya.

Secara keseluruhan, kisah Sugiarto menunjukkan bahwa kesabaran dan perhatian sederhana dapat menghasilkan buah yang tak terduga. Dari keisengan menjadi kebahagiaan, pohon kurma di sudut rumahnya kini menjadi simbol ketekunan dan rasa komunitas di Palembang.

SugiartoPalembangkurmakebunkalongtetanggahobiketekunan

Komentar

Memuat komentar...