Label Gula Tersembunyi: Pemerintah Terapkan Nutri Level

Ika P. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Label Gula Tersembunyi: Pemerintah Terapkan Nutri Level

Gambar atau konten salah?

Di Indonesia, banyak orang berusaha mengurangi gula dengan memilih produk “less sugar” atau “no sugar”. Namun, mereka sering tidak sadar bahwa gula harian bisa datang dari makanan dan minuman kemasan yang mereka konsumsi setiap hari. Gula tersembunyi ini muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari sukrosa, fruktosa, sirup jagung, hingga pemanis lain yang biasanya tidak disadari karena tersembunyi di label kemasan.

Taruna Ikrar, kepala BPOM RI, mengatakan pemerintah sudah mewajibkan pencantuman informasi kandungan gizi pada produk pangan kemasan yang memiliki izin edar. “Sayangnya, masyarakat belum terbiasa membaca label tersebut.” Ia menegaskan bahwa sejak 2019 pemerintah sudah memutuskan tentang kandungan nutrisi, dan kini makanan kemasan sudah memiliki keterangannya. “Sekarang makanan kemasan sudah ada keterangannya, hanya masyarakat kita belum terbiasa membaca kandungan itu,” ujarnya dalam sesi bincang di forum leaders, Jebakan Hidden Sugar: Ada di Mana-mana, Diam-diam Bikin Gemuk, pada 5 Juni 2026.

Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional, Mufti Mubarok, menambahkan bahwa masyarakat sering kesulitan membedakan istilah pada kemasan pangan. Ia menyoroti klaim seperti “less sugar” dan “low sugar” yang dapat menyesatkan konsumen. “Dari kacamata konsumen, istilah‑istilah itu cukup menyulitkan. Bagi kami masih seperti jebakan Batman. Lebih mudah kalau menggunakan warna‑warna yang jelas daripada istilah yang membingungkan,” katanya. Ia mencontohkan bagaimana konsumen sering terkejut ketika menemukan kandungan gula, garam, atau lemak yang tinggi meski produk diberi label sehat.

Untuk memudahkan edukasi gizi, pemerintah sedang melengkapi kebijakan Nutri Level. Saat ini kebijakan tersebut sudah berlaku di pangan siap saji dan akan segera diterapkan pada pangan olahan. “Label yang menunjukkan tingkatan tinggi gula, garam, lemak, berdasarkan warna dinilai lebih mudah untuk mengkomunikasikan edukasi gizi di masyarakat umum,” jelas Taruna. Ia menekankan bahwa hijau berarti lebih sehat, kuning menunjukkan perlu hati‑hati, sehingga masyarakat tidak perlu membaca informasi yang terlalu rumit.

Menurut dr. Laurencia Ardi, Health Communicator Kalbe Nutritionals, anjuran konsumsi gula harian untuk orang dewasa sekitar 50 gram atau setara 4 hingga 5 sendok makan per hari. Ia menyoroti bahwa banyak orang tidak menyadari jumlah gula yang masuk dari makanan dan minuman kemasan. “Yang jadi masalah adalah masyarakat Indonesia masih rendah kesadarannya untuk melihat nutrition facts. Padahal di situ sudah tercantum apa saja yang masuk ke tubuh kita,” ujarnya.

Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa sekitar 60 persen masyarakat Indonesia masih mengonsumsi makanan atau minuman manis setiap hari. “Hal yang kerap luput saat membaca label adalah tidak memerhatikan rincian jenis gula di suatu produk,” tambah dr Laurencia. Ia menekankan pentingnya melihat jenis atau komposisi bahan dalam produk kemasan, bukan hanya gula total.

Misalnya, sukrosa. Sukrosa adalah gula pasir atau gula tambahan yang perlu diperhatikan. “Yang perlu diwaspadai terkait batas 5 sendok makan tadi, adalah sukrosanya,” jelas dia. Ia menjelaskan bahwa gula total pada akhirnya merupakan bagian dari karbohidrat yang akan diubah tubuh menjadi energi. Jika dikonsumsi berlebihan, dapat meningkatkan risiko lonjakan gula darah hingga berujung pada diabetes.

Dr. Siti Nadia Tarmizi, Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, menekankan bahwa selain faktor asupan gula berlebih, minimnya aktivitas fisik juga menjadi alasan kasus diabetes terus meningkat. “Gula dalam hal ini, bukan sepenuhnya dilarang dan tidak dibutuhkan oleh tubuh, tetapi yang perlu ditekankan adalah keseimbangan asupan dengan aktivitas,” katanya. Ia menambahkan bahwa aktivitas fisik yang berkurang membuat risiko obesitas dan diabetes menjadi lebih besar.

Menurutnya, ketika aktivitas fisik berkurang tetapi asupan gula tetap tinggi, risiko obesitas dan diabetes menjadi lebih besar. “Kalau aktivitas fisik kita kurang, asupan harus dibatasi. Dengan adanya informasi di label pangan, sebenarnya masyarakat bisa mengatur dan membatasi asupan mereka sendiri,” ujarnya.

Selain melihat kandungan gula, masyarakat juga dapat memperhatikan indeks glikemik makanan. “Makanan dengan indeks glikemik rendah hingga sedang cenderung meningkatkan gula darah lebih lambat dibanding makanan dengan indeks glikemik tinggi,” jelas dr Laurencia. Ia menjelaskan bahwa makanan yang sangat manis, mudah dikunyah, dan cepat dicerna biasanya memiliki indeks glikemik tinggi. Sebaliknya, makanan yang perlu dikunyah lebih lama cenderung memiliki indeks glikemik lebih rendah.

Ia menegaskan bahwa bukan hanya jenis makanan yang penting, tetapi juga jumlah konsumsinya. “Semua yang berlebihan tidak baik. Jadi indeks glikemik dijaga, jumlah konsumsinya juga harus dijaga,” pungkasnya.

Secara keseluruhan, informasi pada label kemasan kini sudah lebih lengkap, namun masih banyak orang yang belum terbiasa membacanya. Dengan memahami istilah, warna, dan jenis gula, serta mengontrol aktivitas fisik, masyarakat dapat mengurangi risiko obesitas dan diabetes. Penerapan kebijakan Nutri Level yang berbasis warna diharapkan dapat mempermudah orang dalam memilih produk yang lebih sehat.

Gula tersembunyiLabel kemasanNutri LevelDiabetesObesitasIndeks glikemik

Komentar

Memuat komentar...