Lampung Saksikan Puing Roket China Terbakar di Langit

Kartika D. · 3 min baca · 3 bulan lalu · 74 dibaca
Bisik.id
Lampung Saksikan Puing Roket China Terbakar di Langit

Gambar atau konten salah?

Di malam Sabtu, 4 April 2024, langit Lampung menyaksikan percikan cahaya terang yang berasal dari sebuah objek antariksa. Peristiwa ini mengingatkan bahwa orbit Bumi tidak sebarus yang sering dipikirkan. Sampah antariksa terus menambah jumlahnya, dan kejadian ini menjadi contoh nyata bahwa ruang angkasa tidak kosong.

Objek yang teridentifikasi oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai bagian dari roket Long March‑3B milik China hanyalah satu dari ribuan satelit, potongan roket, dan pecahan kecil yang dapat jatuh kembali ke atmosfer kapan saja. Thomas Djamaluddin, peneliti utama Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, menjelaskan secara tertulis bahwa:

“Bekas roket Tiongkok tersebut meluncur dari arah India menuju Samudera Hindia di pantai barat Sumatra,” katanya. Ia menambahkan bahwa pada sekitar pukul 19.56 WIB, ketinggiannya turun di bawah 120 km. Objek tersebut memasuki atmosfer padat, terus meluncur terbakar dan pecah. “Itulah yang disaksikan warga sekitar Lampung dan Banten,” rincinya.

Peristiwa ini dapat diibaratkan seperti bom waktu: puing‑puing yang tersisa di luar angkasa menunggu waktu jatuhnya ke Bumi. Ancaman ini semakin mengkhawatirkan. Sampah luar angkasa telah menjadi isu penting seiring dengan kemajuan teknologi antariksa. Sejak perlombaan antariksa antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, banyak negara lain yang mulai meluncurkan satelit sendiri. Namun, sedikit yang memperhatikan nasib wahana antariksa setelah misi selesai.

Sampah antariksa adalah objek buatan manusia yang berada di luar angkasa dan sudah tidak berfungsi lagi. Menurut laman Natural History Museum, sampah antariksa dapat berupa satelit mati, bagian roket, hingga pecahan kecil dari tabrakan di orbit. Objek-objek ini tetap mengorbit Bumi dengan kecepatan tinggi, dan jumlahnya terus bertambah seiring meningkatnya aktivitas peluncuran satelit dan misi luar angkasa. Kondisi ini membuat para ilmuwan khawatir karena sampah antariksa dapat mengganggu aktivitas di orbit.

Beberapa sampah antariksa pada akhirnya dapat masuk kembali ke atmosfer Bumi dan terbakar, menciptakan cahaya terang yang terlihat dari permukaan. Menurut perkiraan NASA, ada 23 ribu unit muatan yang dibuang ke orbit, terdiri dari badan roket dan puing‑puing lainnya yang panjangnya lebih dari 10 cm. Selain itu, ada 500 ribu benda kecil dengan panjang antara 1 cm hingga 10 cm. Semua benda ini bergerak setidaknya 18.000 mil per jam dan dapat bertahan selama beberapa dekade sebelum akhirnya terbakar di atmosfer.

Di orbit, sampah antariksa menimbulkan risiko bagi satelit komunikasi komersial, pengorbit ilmiah, dan cuaca. Bahkan Stasiun Luar Angkasa Internasional, tempat para astronaut bekerja, tidak luput dari bahaya ini. Ketika ruang angkasa semakin penuh, para ilmuwan memperingatkan kemungkinan terjadinya Kessler syndrome—skenario di mana kepadatan sampah membuat peluncuran satelit menjadi tidak mungkin dan mengganggu kehidupan modern yang sangat bergantung pada satelit, seperti telekomunikasi.

Ancaman lain datang dari tumbukan benda langit yang jatuh ke Bumi. Ledakan tidak diinginkan pada roket peluncur yang tertinggal di luar angkasa merupakan kasus paling banyak yang memproduksi sampah berukuran kecil dalam jumlah cukup banyak di luar angkasa. Sampah lainnya termasuk sisa bahan bakar padat, limbah cair yang membeku, dan pecahan satelit. Volume sampah di luar angkasa tidak diketahui secara pasti karena radar Bumi hanya dapat mendeteksi benda berukuran minimal bola sepak.

Upaya membersihkan ruang angkasa telah dimulai. Berbagai badan antariksa dan perusahaan teknologi luar angkasa berusaha menciptakan cara mengangkut sampah-sampah tersebut. NASA dan SpaceX akan menggunakan sistem roket Starship generasi terbarunya untuk membantu membersihkan orbit Bumi. Astroscale, perusahaan asal Jepang, bekerja sama dengan JAXA meluncurkan mesin pengangkut sampah luar angkasa magnetik bernama End of Life Services by Astroscale demonstration (ELSA‑d). Eropa juga berencana menjadi yang pertama membersihkan sampah antariksa; Badan Antariksa Eropa (ESA) meluncurkan misi pemindahan puing‑puing luar angkasa pada 2025 dengan bantuan startup asal Swiss bernama ClearSpace.

Semua upaya ini diharapkan dapat mengurangi jumlah sampah antariksa yang berserakan di orbit, sehingga tidak lagi menjadi bom waktu yang dapat meledak secara tiba‑tiba dan menimbulkan dampak lebih besar bagi kehidupan manusia. 4 April 2024 menjadi titik penting dalam sejarah pengamatan sampah antariksa, menegaskan bahwa ruang angkasa bukanlah tempat yang aman tanpa perhatian terus‑menerus terhadap konsekuensi aktivitas manusia di luar Bumi.

sampah antariksaLong March‑3BKessler syndromeAstroscaleSpaceXESABRIN

Komentar

Memuat komentar...