Mahasiswa ITS Ciptakan Pestisida Nano Tahan Hujan dan UV

Rini S. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Mahasiswa ITS Ciptakan Pestisida Nano Tahan Hujan dan UV

Gambar atau konten salah?

Mahasiswa dari Fakultas Vokasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil menciptakan solusi baru untuk masalah pestisida yang mudah rusak. Pestisida jenis dinotefuran selama ini dikenal memiliki kelemahan. Bahan ini mudah larut saat terkena air hujan. Selain itu, sinar ultraviolet (UV) dari matahari juga bisa menurunkan efektivitasnya.

Untuk mengatasi tantangan itu, para mahasiswa mengembangkan inovasi bernama DNF@S-MSN-CS. Ini adalah sistem pengiriman pestisida pintar yang menggunakan teknologi nano. Putri Mulia Hafiy Dzikrullah, salah satu peneliti di balik proyek ini, menjelaskan timnya berhasil memodifikasi bahan aktif pestisida. Mereka meraciknya dalam formulasi berukuran nano.

"Salah satu pendekatan yang kami kembangkan adalah penggunaan kitosan sebagai lapisan pelindung, serta silika sebagai pembawa dalam skala nano," ujar Putri dalam pernyataan yang dikutip pada Minggu, 05 Juli 2026. Ia menambahkan, "Struktur ini dirancang untuk memberikan perlindungan terhadap paparan UV dan air hujan."

Putri adalah mahasiswa dari Departemen Teknik Kimia Industri (DTKI) ITS. Ia mengatakan formulasi nano ini memungkinkan bahan aktif pestisida tersebar lebih merata. Tanaman pun bisa menyerapnya dengan lebih mudah. Hasilnya, penyemprotan cukup dilakukan satu kali saja. Efektivitasnya sudah optimal, lebih baik dibandingkan pestisida konvensional yang biasa dipakai.

Ari Ika Sari SP MAgr, Kepala Seksi Pelayanan Teknis Unit Pelaksana Teknis (UPT) Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Timur, memberikan apresiasi. Menurutnya, inovasi ini bisa membuat penggunaan pestisida menjadi lebih efisien. "Minimnya penggunaan pestisida tentu dapat mengurangi dampak terhadap lingkungan," kata Ari. Ia juga menilai teknologi nano tidak hanya berguna untuk pestisida. Teknologi ini berpotensi diterapkan pada agen pengendali hayati dan zat pengatur tumbuh tanaman.

Nurul Faizah STrT MT, dosen pembimbing penelitian, mengatakan pengembangan ini sejalan dengan identitas pendidikan vokasi. Pendidikan vokasi menekankan pada penerapan ilmu secara langsung. Faizah berharap penelitian ini tidak berhenti di laboratorium. Ia ingin inovasi ini bisa lanjut ke tahap uji komersial. "Hal ini bertujuan supaya hasil riset dapat benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat," harap dosen DTKI ITS itu.

Inovasi ini lahir dari kebutuhan nyata di lapangan. Petani sering mengeluh pestisida cepat hilang setelah hujan atau terkena panas. Dengan teknologi nano, pestisida bisa lebih tahan lama dan dosis yang dipakai pun lebih sedikit. Ini berarti biaya bisa ditekan dan lingkungan tidak terlalu tercemar.

pestisida nanodinotefuranteknologi nanokitosansilikaITSinovasi

Komentar

Memuat komentar...