Makan Bersama Presiden Prabowo: Pelajaran Hidup Raja

Nurul H. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Makan Bersama Presiden Prabowo: Pelajaran Hidup Raja

Gambar atau konten salah?

Presiden Republik Indonesia ke‑8, Prabowo Subianto, sering terlihat bersantap di meja istana. Banyak orang mengenalnya lewat pidato‑pidatonya, namun bagi yang beruntung, makan bersamanya menjadi pengalaman berharga. Saya termasuk di antara mereka.

Di setiap pertemuan makan, tiga hidangan selalu hadir. Pertama, Kopi Hambalang, kopi yang diklaim sebagai rahasia semangat Presiden. Kedua, bakso, dan ketiga, nasi bakar. Ketiga menu ini hampir tidak pernah hilang dari meja makan dan juga di penerbangan dalam maupun luar negeri.

Di darat, koki pribadi dan koki langganan menyiapkan hidangan. Di udara, tim chef on board Garuda Indonesia bertanggung jawab. Salah satu chef tersebut adalah Yudi Mulyadi, asal Cimahpar, Bogor, yang bergabung dengan Garuda sejak 2012. Untuk penerbangan jarak jauh, Chef Yudi dan tim seringkali harus menyiapkan bakso dan nasi bakar di pesawat saat terbang. Menyiapkan makanan di dalam pesawat lebih sulit daripada di rumah, karena tidak ada kesempatan membeli bahan tambahan di warung. Misalnya, daun pembungkus nasi bakar tidak sembarang daun; Chef Yudi harus membawa daun yang tepat, dengan jumlah cukup, dari Indonesia. Karena kebiasaan lidah orang Indonesia, hampir semua bahan masakan baku harus dibawa dari tanah air. Sebagai tambahan, di setiap penerbangan jarak jauh Presiden, area crew rest tidak digunakan untuk istirahat kru; alih-alih, area tersebut disimpan sembako.

Namun, hidangan yang paling menarik di setiap sesi makan bersama Presiden tidak pernah tercantum di buku menu atau terlihat di meja. Hidangan tersebut adalah pelajaran hidup. “Chef” dari hidangan ini bukan koki Istana atau koki pribadi Presiden. “Chef-nya” adalah R.M. Margono Djojohadikusumo, pendiri Bank Negara Indonesia, anggota BPUPKI, dan kakek Prabowo Subianto. Dari beliau, serta guru‑guru yang ditemui sepanjang hidupnya, Presiden Prabowo menyerap banyak falsafah Jawa yang menjadi fondasi cara berpikir dan keputusan.

Setiap sesi makan bersama Presiden Prabowo hampir selalu membawa pelajaran baru. Salah satu pelajaran yang paling sering muncul adalah “becik ketitik ala ketara” – yang baik akan terlihat, yang buruk akan terungkap. Saat menghadapi fitnah atau tuduhan yang tidak benar, Presiden sering mengingatkan bahwa kebenaran memiliki cara untuk menemukan jalannya sendiri, walau tidak cepat atau instan. Selanjutnya, “sabdo pandito ratu” – ucapan seorang pemimpin adalah janji. Karena itu, ia selalu mengingatkan untuk berhati-hati dengan janji‑janji yang disampaikan kepada publik.

Prinsip berikutnya adalah “rame ing gawe, sepi ing pamrih”. Banyak bekerja, sedikit menuntut imbalan. Mungkin inilah salah satu prinsip yang paling sering saya dengar darinya. Fokus pada pekerjaan, bukan pada mendapatkan pujian. Presiden juga sering mengingatkan “ojo dumeh” – jangan sombong karena jabatan, kekuasaan, atau keberhasilan, sebab keadaan dapat berubah kapan saja. Berpasangan dengan “ojo dumeh” adalah “ojo ngoyo” – jangan memaksakan kehendak di luar kemampuan. Ambisi penting, tetapi harus disertai perhitungan kemampuan yang matang.

Dalam kepemimpinan, tidak ada ajaran yang lebih sering ia kutip daripada “ing ngarsa sung tulada”. Pemimpin harus di depan memberi teladan. Seorang pemimpin tidak cukup hanya memberi perintah. Ia harus menjadi contoh. Mengenai kekayaan, Presiden sering mengingatkan agar “sugih tanpo bondo” – kaya tanpa harta. Kekayaan sejati bukan terletak pada apa yang dimiliki, melainkan pada nilai, prinsip, kehormatan, dan pengabdian.

Dalam perjuangan politik, saya berkali‑kali mendengar falsafah “menang tanpo ngasorake”. Kemenangan yang terbaik adalah kemenangan yang tetap menjaga martabat semua pihak. Dan pada akhirnya, kuliah kepemimpinan di meja makan Presiden selalu bermuara pada satu ukuran sederhana yang sering Presiden kutip dari Cak Nur, mantan Gubernur Jawa Timur: “yen wong cilik iso gumuyu”. Jika rakyat kecil bisa tersenyum, berarti kita berada di jalan yang benar.

Mungkin inilah mengapa setiap porsi bakso, nasi bakar, dan setiap cangkir kopi Hambalang selalu terasa lebih istimewa ketika tersaji di meja Presiden. Yang sesungguhnya mengenyangkan kita yang berkesempatan makan bersama Presiden Prabowo bukan hanya makanan, melainkan juga bekal ilmu yang menyertainya. Bekal ilmu bagaimana seorang pemimpin sepatutnya memandang dan menjalani hidup: bekerja tanpa pamrih, memegang janji, rendah hati, berani memperjuangkan kebenaran, menghormati lawan, hidup sederhana, memberi teladan, dan mengukur keberhasilannya dari senyum rakyat kecil.

Catatan Dirgayuza jelang malam Satu Suro, 16 Juni 2026 (adr/adr)

Pengalaman makan bersama Presiden Prabowo Subianto tidak sekadar tentang hidangan. Setiap menu mengandung nilai filosofis yang menguatkan pemahaman tentang kepemimpinan, integritas, dan hubungan dengan rakyat. Hidangan biasa menjadi medium bagi pelajaran hidup yang mendalam, menegaskan bahwa kebijakan dan keputusan seorang pemimpin sering kali dipengaruhi oleh nilai-nilai tradisional dan pengalaman pribadi yang terjalin dalam suasana santai di meja makan.

Prabowo SubiantoKopi HambalangBaksoNasi BakarChef Yudi MulyadiFalsafah JawaKepemimpinan

Komentar

Memuat komentar...