Mantan Polisi 23 Tahun Kini Jual Ayam Goreng
Gambar atau konten salah?
Seorang pria di Singapura memutuskan meninggalkan seragam polisi yang sudah dipakainya selama 23 tahun. Kini ia membuka restoran ayam goreng. Namanya Shahrizan Mohamed Sapri, 42 tahun. Ia mendirikan Foxy's Chikn.
Keputusan itu tidak mudah. Shahrizan menginvestasikan tabungan pribadinya sebesar SGD 50.000 atau sekitar Rp701 juta. Uang itu dipakai untuk membuka restoran ayam goreng berkapasitas 35 kursi di Joo Chiat Road pada April 2026.
Awalnya, pendapatan restoran sangat kecil. Pada beberapa hari pertama, pemasukan hanya SGD 50 atau sekitar Rp701 ribu per hari. "Saat itu saya benar-benar ingin menangis. Banyak teman dan keluarga mengatakan saya gila karena meninggalkan pekerjaan yang stabil untuk terjun ke bisnis makanan dan minuman, apalagi kondisinya sedang sulit," kata Shahrizan.
Ia merasa momen itu adalah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan. Baginya, membuka usaha kuliner bukan sekadar mengejar impian. Lebih dari itu, ia ingin membangun masa depan bagi ketiga anaknya.
Keputusan ini juga dipengaruhi pengalaman pahit keluarganya. Pada 2019, Shahrizan mengetahui mantan istrinya melakukan kekerasan fisik terhadap kedua putrinya. Perempuan itu kemudian dijatuhi hukuman penjara tiga tahun pada 2021. Setelah bercerai, Shahrizan mendapat hak asuh penuh atas ketiga anaknya.
"Ironi dalam hidup saya adalah, sebagai polisi saya melindungi keselamatan masyarakat, tetapi di rumah saya menghadapi persoalan yang sangat berat," ujarnya.
Kecintaannya pada memasak sudah tumbuh sejak anak pertamanya lahir pada 2011. Ia rutin menyiapkan nasi goreng, makaroni, mie goreng, dan berbagai hidangan lain untuk keluarganya, bahkan setelah pulang bekerja. Sejak 2013, ia juga memanfaatkan cuti tahunan untuk mengikuti berbagai kursus kuliner guna mengasah kemampuannya.
Sekarang, Foxy's Chikn menyajikan ayam goreng bergaya fusion. Adonan tepungnya khas Amerika, dipadukan dengan rempah Asia seperti jintan dan ketumbar. Ayam direndam dalam buttermilk selama satu hari sebelum dibumbui dengan campuran lebih dari 10 jenis rempah.
Pendapatan restoran saat ini baru bisa menutupi biaya operasional. Shahrizan sendiri belum mendapatkan profit. Tapi kondisi usaha perlahan membaik. Restoran mulai memiliki pelanggan tetap dan menerima pesanan dari perusahaan.
"Saya memulai semua ini agar bisa meninggalkan sesuatu untuk anak-anak saya," ujar Shahrizan.
Selama 23 tahun menjadi polisi, ia melindungi masyarakat. Tapi di rumah, ia menghadapi persoalan berat. Kini, ia memilih jalan berbeda. Bukan untuk menjadi kaya raya, melainkan untuk membangun masa depan yang lebih pasti bagi anak-anaknya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Es Krim Baltic Tutup Setelah 87 Tahun
Argentina vs Inggris: Bukan Cuma di Lapangan, Juga di Pastry
PM Hungaria Terima 90 Mangga dari Pakistan, Simbol Diplomasi
Workshop Kotak Bunga Korea: Kado Personal Buatan Sendiri
Wisatawan RI Didenda Rp385 Ribu Bawa Bakso di KLIA
5 Tempat Ayam Bakar Enak di Jakarta, Mulai Rp23.000
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
