Legenda Hainan Western Singapura Tutup Usia
Gambar atau konten salah?
Singapura kehilangan salah satu ikon kuliner jalanannya. Wee Liang Kan, pemilik warung Hainan Western legendaris yang akrab disapa uncle Wee atau Oh Kee, meninggal dunia pada usia 82 tahun. Kabar duka ini pertama kali muncul di media sosial dan langsung menyebar luas di kalangan pencinta makanan kaki lima.
Wee Liang Kan bukan sekadar penjual makanan. Ia adalah bagian dari sejarah kuliner Singapura. Sejak 1969, ia mengelola warung bernama Chef Hainanese Western Food. Awalnya, gerainya berada di pusat kuliner Tanglin Halt. Di sana, penduduk kampung setempat mengenalnya sebagai warung milik Oh Kee. Nama panggilan itu melekat erat hingga papan namanya pun mencantumkan tulisan 'Oh Kee' sebagai ciri khas.
Hainan Western sendiri adalah hidangan perpaduan unik. Masakan barat bertemu dengan sentuhan cita rasa khas China, tepatnya dari Hainan. Banyak orang menyebutnya sebagai comfort food. Di Singapura, hidangan ini mudah ditemukan di warung kaki lima atau hawker stall. Harganya ekonomis, pilihannya variatif. Itulah sebabnya makanan ini begitu populer di kalangan warga Singapura dari berbagai kalangan.
Pada tahun 2022, warung Wee pindah ke Margaret Drive Hawker Centre. Sejak saat itu, antrean panjang pelanggan setia terus mengular. Mereka rela menunggu demi seporsi steak sirloin, chicken chop, atau fish and chips buatan tangan Wee. Yang menarik, warung ini hanya buka dua jam sehari, dari pukul 7 malam hingga 9 malam. Warung tutup pada hari Rabu dan Kamis. Total jam operasinya hanya 10 jam per minggu. Wee mengelola sendiri sebagian besar pekerjaan di dapurnya.
Wee meninggal dengan tenang pada 11 Juli lalu. Acara penghormatan terakhir diadakan pada 12 hingga 15 Juli 2026 di Commonwealth Drive. Berita duka ini diunggah di halaman Facebook resmi kiosnya. Unggahan itu juga dikutip oleh grup Facebook Administrator Hawkers United. Melvin Chew, salah satu administrator, menyampaikan belasungkawa. Ia menyebut Wee sebagai "seorang legenda pedagang kaki lima."
Sejak pengumuman duka, banyak pelanggan menyampaikan rasa kehilangan. Mereka mengaku akan merindukan masakan khas Wee. Namun, hingga saat ini belum ada kepastian apakah warung legendaris ini akan tetap buka. Tidak diketahui apakah ada penerus yang akan melanjutkan usaha atau gerai ini akan tutup selamanya.
Kisah Wee Liang Kan mengingatkan kita pada banyak pedagang kaki lima di Asia Tenggara yang membangun warisan dari dapur kecil. Mereka tidak hanya menjual makanan, tetapi juga menciptakan kenangan bagi generasi pelanggan. Warung yang buka hanya 10 jam seminggu namun mampu bertahan puluhan tahun menunjukkan betapa kuatnya ikatan antara penjual dan pembeli. Tanpa kepastian akan masa depan, satu-satunya yang tersisa adalah rasa yang pernah dinikmati dan kenangan akan sosok di balik wajan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Es Krim Baltic Tutup Setelah 87 Tahun
Argentina vs Inggris: Bukan Cuma di Lapangan, Juga di Pastry
PM Hungaria Terima 90 Mangga dari Pakistan, Simbol Diplomasi
Workshop Kotak Bunga Korea: Kado Personal Buatan Sendiri
Wisatawan RI Didenda Rp385 Ribu Bawa Bakso di KLIA
5 Tempat Ayam Bakar Enak di Jakarta, Mulai Rp23.000
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
