Mendikti: Jangan Takut Pulang ke Indonesia

Rizki W. · 4 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Mendikti: Jangan Takut Pulang ke Indonesia

Gambar atau konten salah?

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, memberikan pesan tegas kepada para penerima Beasiswa Garuda. Ia meminta mereka tidak takut kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studi di luar negeri.

Aturan program ini mewajibkan penerima Beasiswa Garuda jenjang sarjana untuk berkontribusi kepada Indonesia. Masa kontribusi minimalnya adalah dua kali lipat dari lama masa studi. Bentuk kontribusi itu nantinya akan ditentukan oleh Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi (Ditjen Saintek).

Brian mengaku sering mendengar keluhan dari lulusan beasiswa. Mereka khawatir tidak mendapat pekerjaan yang cocok atau tidak difasilitasi setelah pulang. Ia punya jawaban sendiri untuk kekhawatiran itu.

"Nah saya sering mendapat pertanyaan para lulusan beasiswa LPDP nggak pulang ke Indonesia. Dia kemudian mengeluh, 'Wah saya tidak dapat pekerjaan yang sesuai, saya tidak difasilitasi', Saya selalu jawab, Anda adalah putra-putri yang jauh lebih baik kualitasnya dibandingkan yang tidak mendapatkan beasiswa keluar negeri. Kalau Anda mendapat beasiswa, Anda sudah terbaik. Kalau Anda terbaik, kenapa Anda harus takut bertarung di Indonesia melawan yang tidak bisa keluar negeri?," ucapnya.

Ia melanjutkan, "Jadi jangan takut, jangan nanti setelah lulus, 'Wah di Indonesia nggak ada yang memfasilitasi saya', Tidak mungkin Anda sekarang sudah dapat fasilitas. Anda nanti harus berani bertarung di sini."

Pernyataan itu disampaikan Brian pada Kamis, 09 Juli 2026. Acaranya adalah Orientasi Program SMA Unggul Garuda Transformasi dan Pembekalan Batch 1 Awardee Beasiswa Garuda Tahun 2026. Acara berlangsung di Graha Diktisaintek, Jakarta.

Brian bercerita tentang pengalamannya sendiri. Ia mencari dan mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Jepang untuk kuliah. Sambil belajar, ia bekerja sebagai petugas kebersihan kereta untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Ia berharap para penerima beasiswa mendapat pembekalan yang cukup. Mereka perlu mengasah kemampuan bertahan hidup dan semangat juang. Dua hal itu penting untuk melewati masa pendidikan dan setelah lulus yang tidak mudah.

"Saya mencari sendiri, saya dapat dan saya pulang ke sini. Gak pakai takut-takut begitu. Jadi Anda semua harus berani. Anda kalau gak ada bidangnya, gak ada yang sesuai, Anda buat di Indonesia," ucap Brian. Ia meraih gelar Ph.D pada tahun 2005 dalam bidang Quantum Engineering and Systems Science dari The University of Tokyo, Jepang.

"Jadi ini adalah satu perjalanan panjang. Dan ini perjalanan yang tidak mudah," sambungnya.

Aturan Kepulangan yang Lebih Fleksibel

Brian juga menjelaskan soal aturan kepulangan penerima Beasiswa Garuda. Ada relaksasi dalam ketentuan tersebut. Salah satu contohnya adalah jika penerima beasiswa ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang S2.

"Beberapa pendekatan ya, misalnya ternyata menerima diterima juga di sekolah lanjut S2, beasiswa dari profesornya, nanti kita akan relaksasi. Artinya kita sudah membuat aturan, namun tidak kaku. Karena ketika mereka justru terbuka peluang pengembangan diri lebih lanjut, kenapa tidak kita fasilitasi lagi, begitu. Misalnya, pulangnya ditunda, tetapi mereka bisa bersekolah lagi," sambungnya.

Brian menekankan bahwa penerima beasiswa adalah putra-putri terbaik bangsa. Mereka sudah mendapat fasilitas pendidikan. Tidak ada alasan untuk takut bersaing di Indonesia.

"Nah saya sering mendapat pertanyaan para lulusan beasiswa LPDP nggak pulang ke Indonesia. Dia kemudian mengeluh, 'Wah saya tidak dapat pekerjaan yang sesuai, saya tidak difasilitasi', Saya selalu jawab, Anda adalah putra-putri yang jauh lebih baik kualitasnya dibandingkan yang tidak mendapatkan beasiswa keluar negeri. Kalau Anda mendapat beasiswa, Anda sudah terbaik. Kalau Anda terbaik, kenapa Anda harus takut bertarung di Indonesia melawan yang tidak bisa keluar negeri?," ucapnya.

Ia menambahkan, "Jadi jangan takut, jangan nanti setelah lulus, 'Wah di Indonesia nggak ada yang memfasilitasi saya', Tidak mungkin Anda sekarang sudah dapat fasilitas. Anda nanti harus berani bertarung di sini."

Brian juga bercerita tentang perjalanan hidupnya. Ia mencari sendiri beasiswa dari Pemerintah Jepang. Sambil kuliah, ia bekerja sebagai petugas kebersihan kereta untuk membiayai hidup.

Ia berharap para penerima beasiswa mendapat pembekalan yang baik. Mereka harus mengasah kemampuan bertahan hidup dan semangat berjuang. Dua hal itu akan membantu mereka melewati masa pendidikan dan setelah lulus yang tidak mudah.

"Saya mencari sendiri, saya dapat dan saya pulang ke sini. Gak pakai takut-takut begitu. Jadi Anda semua harus berani. Anda kalau gak ada bidangnya, gak ada yang sesuai, Anda buat di Indonesia," ucap Brian. Ia meraih gelar Ph.D pada tahun 2005 dalam bidang Quantum Engineering and Systems Science dari The University of Tokyo, Jepang.

"Jadi ini adalah satu perjalanan panjang. Dan ini perjalanan yang tidak mudah," sambungnya.

Relaksasi untuk Studi Lanjut

Brian juga menjelaskan soal aturan kepulangan. Ada kelonggaran untuk beberapa situasi. Misalnya jika penerima beasiswa diterima di program S2 dan mendapat beasiswa dari profesor di luar negeri.

"Beberapa pendekatan ya, misalnya ternyata menerima diterima juga di sekolah lanjut S2, beasiswa dari profesornya, nanti kita akan relaksasi. Artinya kita sudah membuat aturan, namun tidak kaku. Karena ketika mereka justru terbuka peluang pengembangan diri lebih lanjut, kenapa tidak kita fasilitasi lagi, begitu. Misalnya, pulangnya ditunda, tetapi mereka bisa bersekolah lagi," sambungnya.

Sebanyak 390 pelajar telah terseleksi sebagai penerima Beasiswa Garuda Batch 1 tahun 2026. Proses seleksi untuk pendaftar batch 2 masih berjalan.

Penerima Beasiswa Garuda mendapat pendanaan penuh untuk kuliah S1 di luar negeri. Ada juga opsi program joint degree atau dual degree di dalam dan luar negeri. Mereka juga berkesempatan magang, termasuk di BUMN. Magang itu akan diakui sebagai kredit di universitas tempat mereka belajar.

Brian sendiri adalah contoh nyata. Ia mencari dan menerima beasiswa dari Pemerintah Jepang. Sambil kuliah, ia bekerja sebagai petugas kebersihan kereta untuk mencukupi kebutuhan hidup. Setelah selesai, ia pulang ke Indonesia tanpa rasa takut.

Pesan Brian sederhana. Jangan takut pulang. Jangan mengeluh tidak difasilitasi. Jika tidak ada bidang yang sesuai, buatlah lapangan sendiri di Indonesia.

Beasiswa GarudaBrian YuliartoKembali ke IndonesiaBertarung di IndonesiaRelaksasi aturanPendidikan luar negeriKontribusi ke Indonesia

Komentar

Memuat komentar...