Bocah 10 Tahun di Sukabumi Kecanduan Hirup Bensin
Gambar atau konten salah?
Seorang bocah perempuan berusia 10 tahun di Cikole, Kota Sukabumi, mengalami kecanduan berat menghirup uap bensin. Inisialnya H. Ia viral di media sosial belakangan ini. Kehilangan kedua orang tua menjadi pukulan batin yang sangat berat baginya.
Kebiasaan menghirup bensin ini tidak muncul sejak kecil. Kakak H yang kini merawatnya menceritakan, kebiasaan itu mulai muncul dalam setahun terakhir. Tepatnya setelah ayah mereka meninggal dunia. Ibu H sudah lebih dulu meninggal.
"Semenjak ayahnya meninggal tahun lalu, baru ada kebiasaan itu. Jadi kita belum tahu gimana cerita awalnya bisa adiksi terhadap uap bensin. Tetapi itu belum lama setelah meninggal kedua orang tuanya," kata Sekretaris Dinas Sosial Kota Sukabumi, dr. Lulis Delawati, Rabu (08 Juli 2026) malam di kediaman H.
Dinas Sosial menduga kuat trauma psikologis menjadi penyebabnya. Kehilangan figur ayah dan ibu membuat H mencari pelarian. Sayangnya, pelarian itu berupa zat adiktif. Uap bensin yang ia hirup kini sudah memengaruhi saraf dan kondisi psikologisnya.
Dua masalah besar sekaligus. Trauma berat bercampur kecanduan. Pemerintah Kota Sukabumi menghadapi dilema besar. Proses pemulihan terasa sulit. Selain adiksi bensin, H juga mengalami gangguan mental dan sosial yang cukup parah.
H sering menunjukkan perilaku agresif. Karena itu, ia belum bisa diterima di panti Griya Harapan Difabel (GHD) Provinsi Jawa Barat di Cimahi. Tim UPTD sudah datang langsung melakukan verifikasi ke rumah H. Tapi hasilnya belum memungkinkan.
"Ada masalah secara mental dan juga sosial yang cukup agresif. Sehingga apabila masuk di GHD bersatu dengan anak-anak yang lain, itu memang akan berisiko terhadap keselamatan anak-anak yang lain. Itu pertimbangannya," jelas Lulis.
Dinas Sosial harus menyusun strategi khusus. Mereka bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dan pihak berwenang Provinsi Jawa Barat. Satu opsi yang dipertimbangkan: menyembuhkan ketergantungan zat adiktifnya dulu. Caranya dengan merujuk H ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Cisarua, Bandung. Setelah itu, baru masuk ke tahap rehabilitasi mental dan sosial.
"Apakah penangannya akan kita lakukan untuk adiksi dari uap bensin terlebih dahulu, otomatis ini nanti alurnya alternatifnya kemungkinan untuk bisa masuk di RSJ dulu untuk penanganan adiksinya, selanjutnya nanti di-rehab. Kita akan mencari tempat mana dulu yang pertama akan kita tangani karena problemnya ada fisik, mental, dan sosial," tutur Lulis.
Dari sisi ekonomi, keluarga H tergolong tidak mampu. Dinas Sosial memastikan H dan kakaknya sudah masuk Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Mereka sudah menerima bantuan sosial dari pemerintah.
"Pada prinsipnya, Pemerintah Kota Sukabumi melalui Dinas Sosial kita berupaya untuk mencari solusi untuk anak H ini karena cukup kompleks permasalahannya," tutup Lulis.
Kasus ini menunjukkan bagaimana trauma kehilangan bisa mendorong anak pada perilaku berbahaya. Kecanduan uap bensin bukan sekadar kebiasaan buruk, melainkan gejala dari luka psikologis yang dalam. Penanganannya pun tidak bisa setengah-setengah, harus menyentuh aspek fisik, mental, dan sosial secara bersamaan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Pria di Ciamis Digigit Usaat Beri Makan Ayam
Perbaikan Jembatan Bodogol Dimulai Agustus, Warga Cari Jalur Alternatif
80 Siswa Bandung Didiskualifikasi dari SPMB karena Dokumen Palsu
Ridwan Kamil Daftarkan Arkana, Atalia Hormati Hukum
Wali Kota Ancam Pecat Kepala Faskes yang Tolak Pasien
Ridwan Kamil Urus Status Anak Angkat di PA Bandung
Berita Terbaru
Bocah 10 Tahun di Sukabumi Kecanduan Hirup Bensin
Anak-anak Nekat Seluncur di Bendung Semarang
Samsat Datangi Rumah Pemilik Tunggakan Pajak
Pohon Lontar Patah, Pria 42 Tahun Tewas
4 Cara Mudah Usir Nyamuk dari Halaman Tanpa Bahan Kimia
Petugas Samsat Datangi Rumah Warga Penunggak Pajak
Bupati Badung Dukung Penuh Proyek Sampah Jadi Listrik Benoa
Prancis Terlalu Tangguh, Musuh Terbesar Adalah Diri Sendiri
OJK Sita Rp113,97 Miliar Aset Indosurya
