Mendikti Soroti Budaya 'Panggil Prof' Sebelum SK

Maya K. · 2 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Mendikti Soroti Budaya 'Panggil Prof' Sebelum SK

Gambar atau konten salah?

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyoroti kebiasaan sebagian orang Indonesia yang terlalu bersemangat ingin dipanggil profesor. Menurutnya, budaya seperti ini jarang ditemukan di negara lain.

"Kita ini kan SK belum keluar aja kadang-kadang udah minta dipanggil 'Prof'. Dia dapet, katanya, dapet informasi, dia dapet informasi, 'Bapak udah lulus, Pak, di pemeriksaan'. 'Oh gitu, besok panggil saya Profesor, ya. SK belum keluar, udah (begitu). Ya memang kita masih perlu ini (humble)," kata Brian yang juga Guru Besar Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung (ITB).

Pernyataan itu disampaikan Brian saat acara Orientasi Program SMA Unggul Garuda Transformasi dan Pembekalan Batch 1 Awardee Beasiswa Garuda Tahun 2026. Acara berlangsung di Grha Diktisaintek, Jakarta, pada Kamis, 09 Juli 2026. Dalam kesempatan itu, ia berpesan kepada para penerima Beasiswa Garuda untuk selalu rendah hati. Para mahasiswa ini terpilih untuk menempuh pendidikan S1 di luar negeri atau program S1 joint/double degree di dalam dan luar negeri dengan dukungan dana dari pemerintah.

"Jadilah orang-orang yang humble," ucapnya. Ia menambahkan, "Orang sombong aja nggak suka sama orang sombong."

Brian kemudian memberi contoh nyata. Peraih Hadiah Nobel Kimia 2025, Omar M Yaghi, adalah sosok yang sangat rendah hati meskipun prestasinya luar biasa. Yaghi, yang menjabat sebagai University Professor dan James and Neeltje Tretter Professor of Chemistry di University of California (UC) Berkeley, justru meminta orang-orang memanggilnya dengan nama depan saja, tanpa gelar akademik.

Pakar kimia keturunan Palestina-Amerika yang lahir di Yordania ini dikenal karena mengembangkan blok kerangka logam-organik (MOF) yang lebih stabil dan fleksibel bersama Susumu Kitagawa. Temuan mereka bermanfaat untuk memanen air dari udara gurun, menangkap karbon dioksida, menyimpan gas beracun, hingga mengkatalisis reaksi kimia.

"Ini orang, kalau dosen tahu ya pasti, ada yang namanya H-index. H-index dia, Pak, 202. Jadi mungkin jumlah paper kita aja kalah sama H-indexnya dia. Jadi ini orang pinternya kebangetan lah kira-kira. Itu Pak, orang yang humble banget," tutur Brian.

Ia melanjutkan, "Kalau di Amerika ini biasa nih: dia gak minta dipanggil pake Prof. Dia bilang, 'call me Omar', panggil saya Omar aja, namanya Omar Yaghi. 'Call me Omar'."

Brian berharap para pelajar bisa meneladani sikap rendah hati dari ilmuwan sekelas Yaghi. Ia mendorong mereka untuk tekun belajar dan memiliki semangat juang yang kuat untuk terus berkembang.

"Orang-orang hebat itu, ternyata orang-orang yang tidak banyak drama-drama, tidak banyak tampil. Mereka bekerja dalam ketekunan," ucapnya.

Budaya memanggil gelar akademik di Indonesia memang terasa lebih menonjol dibandingkan di banyak negara lain. Di Amerika Serikat, misalnya, profesor sekelas peraih Nobel sekalipun lebih sering meminta dipanggil dengan nama depan. Hal ini menunjukkan bahwa kerendahan hati tidak berkaitan dengan tingkat kepintaran atau pencapaian seseorang. Justru, orang-orang dengan prestasi luar biasa seringkali adalah mereka yang tidak banyak pamer dan lebih memilih bekerja dengan tekun di balik layar.

budaya panggil profesorkerendahan hatiOmar YaghiBeasiswa GarudaMendiktisaintek Brian Yuliartogelar akademikhumble

Komentar

Memuat komentar...