Mentan: Stok Beras Indonesia Aman di Tengah Krisis Global

Yuli S. · 3 min baca · 2 jam lalu · 29 dibaca
Bisik.id
Mentan: Stok Beras Indonesia Aman di Tengah Krisis Global

Gambar atau konten salah?

Ketegangan politik di berbagai belahan dunia kini menjadi perhatian serius. Banyak negara mulai khawatir rantai pasok makanan akan terganggu. Krisis pangan bukan lagi sekadar bayangan. Sejumlah negara sudah mengambil langkah antisipasi dengan meminta warganya menyiapkan stok darurat.

Di tengah situasi global yang tidak menentu ini, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan pandangannya. Ia mengatakan Indonesia patut bersyukur. Pasokan pangan di dalam negeri dinilai masih dalam kondisi yang relatif aman.

Menurut Amran, kondisi ini tidak terjadi begitu saja. Ada kerja keras para petani di lapangan. Ada dukungan dari pemerintah. Ada juga kebijakan strategis yang dirancang untuk memperkuat produksi. Semua itu bertujuan mewujudkan kemandirian pangan nasional. Amran menekankan kemampuan memenuhi kebutuhan pangan sendiri menjadi modal penting. Terutama di saat dunia dilanda ketidakpastian.

"Alhamdulillah, kita patut bersyukur. Di saat dunia sedang menghadapi ketegangan geopolitik, ancaman krisis pangan, dan gangguan rantai pasok, kondisi pangan Indonesia relatif aman. Kita punya produksi dalam negeri, punya cadangan, dan terus memperkuat kemampuan memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Ini yang harus kita jaga," ujar Amran dalam keterangan tertulis pada Minggu, 01 November 2026.

Kekhawatiran akan krisis pangan memang nyata. Setidaknya 33 negara sudah mengeluarkan imbauan kepada warganya. Masyarakat diminta menyiapkan persediaan kebutuhan dasar di rumah. Mulai dari makanan tahan lama, air minum, obat-obatan, hingga perlengkapan darurat. Beberapa negara bahkan merekomendasikan persediaan untuk setidaknya 72 jam. Ini adalah langkah antisipasi terhadap berbagai risiko. Risiko itu mencakup konflik geopolitik, bencana alam, cuaca ekstrem, serangan siber yang mengganggu infrastruktur, hingga terhambatnya rantai pasok dan distribusi kebutuhan pokok.

Indonesia punya pendekatan yang berbeda. Alih-alih hanya menyiapkan stok darurat di rumah tangga, pemerintah mengandalkan cadangan beras nasional. Cadangan ini menjadi salah satu penopang utama ketahanan pangan. Amran menjelaskan, per 26 Oktober 2026, cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog mencapai sekitar 4,5 juta ton.

Angka itu belum semuanya. Masih ada potensi beras dari standing crop atau tanaman padi yang siap dipanen. Jumlahnya sekitar 10 juta ton. Selain itu, ada stok di sektor hotel, restoran, dan katering (horeka) yang juga sekitar 10 juta ton. Jika ditotal, ketersediaan beras nasional diperkirakan mencapai sekitar 25 juta ton. Sementara kebutuhan beras per bulan hanya sekitar 2,5 juta ton. Artinya, stok yang ada sangat mencukupi.

"Kalau kita hitung, stok di Bulog sekitar 4,5 juta ton, standing crop sekitar 10 juta ton, dan stok di horeka sekitar 10 juta ton. Total sekitar 25 juta ton. Sementara kebutuhan kita sekitar 2,5 juta ton per bulan. Artinya, ketersediaan kita sangat kuat. Ini yang membuat kita lebih siap menghadapi berbagai gejolak global," tuturnya.

Berdasarkan data itu, Amran menegaskan Indonesia mampu mempertahankan swasembada beras tanpa impor. Ini menjadi fondasi penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Pemerintah berupaya mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari negara lain. Terutama ketika konflik dan ketegangan geopolitik berpotensi mengganggu perdagangan internasional.

Amran juga menekankan bahwa ketahanan pangan bukan sekadar soal stok yang tersedia. Ini menyangkut kedaulatan bangsa. Kemampuan memproduksi pangan sendiri memberikan ruang lebih besar bagi negara. Negara bisa melindungi masyarakat dari gejolak harga maupun gangguan pasokan global.

"Kita tidak boleh bergantung pada negara lain untuk urusan pangan. Bayangkan kalau terjadi konflik besar, jalur perdagangan terganggu, negara-negara menahan ekspornya, sementara kita masih bergantung pada impor. Risikonya sangat besar. Karena itu, swasembada adalah kekuatan dan perlindungan bagi bangsa," ucapnya.

Untuk mempertahankan kemampuan produksi, Kementerian Pertanian menjalankan sejumlah program strategis. Ada optimalisasi lahan. Ada pompanisasi. Ada perbaikan jaringan irigasi. Ada penyediaan benih unggul. Semua itu untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Pemerintah juga melakukan langkah antisipasi terhadap perubahan iklim dan potensi kekeringan. Tujuannya agar produksi pangan tetap terjaga.

Amran mengingatkan kondisi pangan nasional yang relatif aman saat ini harus disyukuri. Tapi rasa syukur saja tidak cukup. Harus ada upaya berkelanjutan. Pemerintah akan terus memperkuat produksi dalam negeri. Memastikan ketersediaan cadangan pangan. Serta melindungi petani sebagai garda terdepan ketahanan pangan nasional.

"Alhamdulillah, kita patut bersyukur pangan Indonesia aman. Tapi kita tidak boleh berpuas diri. Produksi harus terus ditingkatkan, cadangan diperkuat, dan petani dilindungi. Ada keringat petani dan ada negara yang hadir," pungkasnya.

Indonesia memang memiliki keunggulan dalam hal produksi beras. Dengan stok yang melimpah, negara ini lebih siap menghadapi gejolak global dibandingkan banyak negara lain. Namun, tantangan tetap ada. Perubahan iklim dan potensi bencana alam bisa mengancam produksi. Karena itu, upaya memperkuat ketahanan pangan harus terus dilakukan. Bukan hanya oleh pemerintah, tetapi juga oleh seluruh elemen masyarakat.

ketahanan pangankrisis panganswasembada berascadangan berasMenteri Pertanianrantai pasokgeopolitik

Komentar

Memuat komentar...