Menteri Keuangan: Rupiah Menurun, BI Jaga Stabilitas

Fitri A. · 2 min baca · 56 menit lalu · 33 dibaca
Bisik.id
Menteri Keuangan: Rupiah Menurun, BI Jaga Stabilitas

Gambar atau konten salah?

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Menurut data Bloomberg, dolar AS menguat 77 poin atau 0,43% hingga mencapai level Rp 18.044 per dolar.

Purbaya menegaskan bahwa pengelolaan stabilitas nilai tukar merupakan kewenangan Bank Indonesia (BI). Saat ditanya apakah perlu menggelar rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyusul pelemahan rupiah, ia mengaku belum melihat kondisi yang mengharuskan langkah tersebut dilakukan.

“Nanti Anda ngelihat saya panik. Pada dasarnya BI masih menjalankan kegiatan dengan baik dan semuanya masih di bawah kendali mereka. Saya serahkan rupiah ke mereka,” kata Purbaya di Kompleks DPR RI, Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Meskipun demikian, ia mengakui pelemahan rupiah dapat meningkatkan beban pembayaran utang luar negeri dalam mata uang rupiah. Karena kupon atau bunga utang dalam dolar tetap, jumlah rupiah yang harus disiapkan untuk membayarnya akan lebih besar ketika kurs melemah.

“Harusnya sih fix kuponnya, tapi kan kalau dia jual di pembayaran utang kan lewat kupon. Kuponnya sih konstan. Cuma, pada waktu rupiah melemah ya ikut meningkat kan dalam rupiah pembayarannya,” ujar Purbaya.

Menurutnya, kondisi tersebut masih berada dalam rentang simulasi yang sebelumnya telah diperhitungkan pemerintah. Oleh karena itu, ia memastikan APBN tidak terdampak dan masih aman.

“Kan gini, pada waktu APBN pertama kan ada asumsinya berapa? Rp 16.500, ya? T api kan terus ada simulasi pada waktu harga BBM naik tinggi kan? Ya, kita hitung di situ. Adjustment-nya cukup tinggi, tapi kan saya nggak sebutkan kan nanti rupiah melemah signifikan, tapi basically, fundamental rupiah berada di bawah level yang sekarang, lebih kuat dari yang sekarang,” beber Purbaya.

Ia kemudian mengungkapkan pemerintah melakukan intervensi di pasar surat utang negara untuk membantu menjaga stabilitas pasar keuangan. Menurutnya, intervensi yang dilakukan mencapai lebih dari Rp 8 triliun di pasar obligasi.

“Mungkin Rp 8 triliun lebih yang di obligasi ya, tapi itu yang boleh diomongin, ya. Nggak apa-apa, biar Anda tahu, saya intervensi sedikit. Terus 10 tahun kan relatif stabil atau cenderung turun. Jadi, dampaknya ada ke surat utang kita,” tutup Purbaya.

Dalam konteks ini, pemerintah telah menyiapkan asumsi dan simulasi untuk mengantisipasi perubahan nilai tukar dan harga energi. Intervensi di pasar obligasi membantu menstabilkan pasar keuangan, sementara APBN tetap terlindungi dari dampak pelemahan rupiah. Dengan demikian, kebijakan fiskal dan moneter tetap berjalan sesuai rencana, menjaga kestabilan ekonomi nasional.

rupiahdolar ASBank IndonesiaKSSKAPBNintervensi pasar obligasisimulasi nilai tukar

Komentar

Memuat komentar...