Menteri Tolak '3M', Luncurkan Bulan Pemberdayaan Perempuan

Ratna D. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 84 dibaca
Bisik.id
Menteri Tolak '3M', Luncurkan Bulan Pemberdayaan Perempuan

Gambar atau konten salah?

Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, mengangkat isu budaya lama yang masih mengakar di masyarakat tentang perempuan. Menurutnya, pandangan ini sudah tidak relevan dengan zaman sekarang.

Ia mengingatkan tentang istilah “3M” yang dulu sering dikaitkan dengan perempuan. “Mohon maaf masyarakat Jawa pada zaman dulu menyebut perempuan itu konco wingking yang tugasnya itu hanya tiga, 3M, masak, macak, manak, kira-kira itu,” ujarnya.

Menurut Mu'ti, 3M—masak, macak (dandan), dan manak (melahirkan)—menjadi penghambat pemberdayaan perempuan. Budaya ini masih tersebar di berbagai lapisan masyarakat, sehingga perempuan tidak diberi ruang untuk berkembang di bidang lain.

Ujarannya disampaikan dalam acara peluncuran Bulan Pemberdayaan Perempuan yang disiarkan lewat YouTube Kemendikdasmen pada Rabu, 01 April 2026. Acara ini menandai langkah awal kampanye yang akan berlangsung selama bulan April 2026.

Mu'ti juga menyoroti hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang setara. Ia tidak menutup kemungkinan masih ada stigma yang menempatkan anak laki-laki lebih prioritas. “Di mana ketika ada misalnya keluarga yang secara ekonomi tidak cukup membiayai seluruh anaknya, kemudian ada anak laki-laki dan anak perempuan. Maka pilihan biaya pendidikan itu sering kali diberikan kepada anak laki-laki dan anak perempuan sering kali tidak diberikan kesempatan dengan alasan tidak ada biaya,” ungkap Mu'ti.

Stigma tidak hanya muncul dari masalah biaya. Beberapa orang masih menganggap perempuan tidak lebih pintar dari laki-laki. “Atau sebagian lain dengan alasan karena perempuan tidak usah pinter-pinter. Nanti juga pinter-pinter pun ujung-ujungnya juga ada ‘3 Ur’ (dapur, kasur, sumur). Nah ini yang harus kita selesaikan bersama-sama,” katanya.

Mu'ti menegaskan keyakinannya bahwa kecerdasan perempuan dapat melampaui laki-laki, khususnya dalam menyerap ilmu dan pendidikan. Untuk menangkis stereotip tersebut, Kemendikdasmen mencanangkan Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui pendidikan.

Penataan Bulan Pemberdayaan Perempuan ini diselaraskan dengan peringatan Hari Kartini pada 21 April 2026. Selama bulan tersebut, kementerian akan menggelar serangkaian aktivitas yang bertujuan membebaskan perempuan dari batasan tradisional.

“Kami berkomitmen untuk memberikan ruang yang lebih luas kepada para perempuan untuk memperoleh pendidikan dan memperoleh kesempatan mengembangkan potensi yang mereka miliki,” ujarnya.

Inisiatif ini dilaksanakan secara bersama antara Kemendikdasmen, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (KemenkoPMK), dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPA).

Dengan langkah ini, pemerintah berharap dapat mengurangi ketimpangan gender dalam pendidikan dan membuka peluang bagi perempuan untuk berkontribusi secara lebih luas dalam masyarakat.

3Mpemberdayaan perempuanbudaya tradisionalpembatasan genderpendidikan setaraKementerian PendidikanHari Kartini

Komentar

Memuat komentar...