Messi Berjalan 64% Waktu, Tetapi Jadi Top Skor Piala Dunia

Sinta R. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Messi Berjalan 64% Waktu, Tetapi Jadi Top Skor Piala Dunia

Gambar atau konten salah?

Lionel Messi bergerak seperti siput di Piala Dunia 2026. Ia nyaris tidak berlari. Tapi anehnya, ia justru menjadi salah satu pemain paling tajam di turnamen ini.

Usia Messi sudah 39 tahun. Namun pemilik delapan Ballon d'Or itu membuktikan bahwa kemampuannya belum pudar. Justru di usia senja, ia menjadi mesin gol paling ganas. Dari lima pertandingan, Messi sudah mengemas delapan gol. Jumlah itu sama dengan Kylian Mbappe, yang usianya 12 tahun lebih muda.

Yang menarik, ketajaman Messi tidak datang dari kerja keras fisik. Data FIFA menunjukkan ia lebih banyak berjalan daripada berlari sepanjang turnamen.

Menurut laporan Telegraph, Messi telah menempuh jarak 35.858 meter dalam lima laga. Lebih dari setengahnya ia lalui tanpa berlari. Tepatnya 22.958 meter atau 64 persen dari total jarak tempuhnya dilakukan dalam kecepatan zona satu. Kecepatan itu berkisar antara 0 hingga 7 kilometer per jam. Itu setara dengan jalan santai.

Telegraph bahkan melakukan pengujian saat Argentina melawan Cape Verde di babak 32 besar. Setiap 15 menit pertandingan, mereka mencatat waktu lari Messi. Rata-rata ia hanya berlari 51 detik per 15 menit. Artinya, dalam 90 menit penuh, total waktu larinya hanya sekitar lima menit.

Perbandingan dengan striker lain semakin memperjelas betapa minimnya pergerakan Messi. Ia hanya melakukan lari cepat sebanyak 298 kali dari lima pertandingan. Jumlah itu paling sedikit dibandingkan striker tajam lainnya. Harry Kane mencatat 600 kali lari cepat. Vinícius Júnior 514 kali. Ousmane Dembélé 477 kali. Mikel Oyarzabal 461 kali. Kylian Mbappe 336 kali. Hanya Erling Haaland yang mendekati Messi dengan 314 lari cepat. Tapi Haaland sempat absen di laga terakhir penyisihan grup.

Tapi ada satu momen di mana Messi benar-benar mengerahkan seluruh tenaganya. Itu terjadi saat Argentina melawan Mesir di laga terakhir. Argentina sempat tertinggal 0-2 hingga menit ke-70. Setelah menit ke-75, Messi berubah. Ia bergerak cepat, mobile, dan aktif di sisi sayap. Ia menjadi pemain dengan sentuhan bola, tembakan, dribel, dan peluang terbanyak sejak menit tersebut. Argentina akhirnya bangkit dan menang 3-2.

Akhir pekan ini Argentina akan menghadapi Swiss di perempatfinal. Pertanyaannya: Messi mana yang akan tampil? Versi siput yang berjalan santai? Atau versi on fire seperti masa mudanya?

Yang jelas, statistik menunjukkan bahwa Messi bisa tetap menjadi ancaman meski hampir tidak berlari. Ia menghemat energi untuk momen-momen krusial. Dan ketika timnya butuh, ia bisa mengubah mode. Ini bukan soal malas. Ini soal efisiensi. Di usia 39 tahun, Messi memilih kapan harus bergerak dan kapan harus diam. Dan sejauh ini, strategi itu berhasil.

MessiPiala Dunia 2026efisiensijalan santaidelapan gol39 tahunperempatfinal

Komentar

Memuat komentar...