MSCI Hapus BREN dan DSSA Karena Konsentrasi Tinggi
Gambar atau konten salah?
MSCI akan menghapus dua saham Indonesia yang masuk kategori high shareholding concentration (HSC) dari indeksnya. Saham-saham tersebut memiliki kepemilikan yang terpusat pada segelintir pemegang saham.
HSC berarti sebagian besar saham dimiliki oleh satu atau beberapa pihak saja. Ketika konsentrasi ini tinggi, risiko bagi investor bisa meningkat karena keputusan pemegang mayoritas dapat memengaruhi harga saham secara signifikan.
Menurut hasil rebalancing tahun lalu, dua emiten yang akan didepak adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Kedua perusahaan ini sudah masuk indeks MSCI, namun karena konsentrasi pemegang saham yang tinggi, MSCI memutuskan untuk mengeluarkannya.
Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menyatakan bahwa kedua saham tersebut sudah melemah sejak pengumuman MSCI minggu lalu. Ia menilai koreksi ini baik karena investor sudah memanfaatkan informasi HSC sebagai sinyal awal.
“Beberapa saham tertentu yang terindikasi, mungkin akan mengalami penyesuaian, baik bobot maupun kemungkinan dikeluarkan dari indeks (MSCI) dimaksud, sudah juga mengalami respons lebih awal dari para investor. Ini baik. Artinya kami mengonfirmasi bahwa informasi early warning yang kita hadirkan itu rupanya sudah ditangkap dengan baik oleh investor,” ujar Hasan kepada wartawan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (27 April 2026).
Hasan menekankan bahwa pengungkapan HSC menjadi bagian dari upaya transparansi pasar modal. Informasi ini dapat diakses publik melalui kanal BEI dan diharapkan memperkuat portofolio investor di Indonesia. Ia menambahkan bahwa setiap investor dapat menanggapi data ini sesuai profil risiko masing-masing. “Masing-masing boleh menyikapi itu sesuai dengan profil risiko masing-masing investornya. Kalau atas informasi itu kemudian mereka memutuskan sementara waktu, katakanlah melepas saham tertentu, melakukan pemindahan alokasi investasinya ke saham yang lain, ya tentu itu konsekuensi yang juga baik,” jelas Hasan.
MSCI akan menyesuaikan konstituen saham Indonesia pada 12 Mei 2026. Hasan berharap MSCI dapat memanfaatkan data keterbukaan BEI untuk menertibkan saham perusahaan Indonesia di indeksnya. “Berikutnya itu di tanggal 12 Mei 2026 ini, yang kita harapkan nanti akan mulai terlihat hasil dari pemanfaatan data dimaksud,” pungkas Hasan.
Selain itu, MSCI mengumumkan penundaan review indeks saham Indonesia di bulan Mei 2026. MSCI juga akan mengeluarkan saham Indonesia dengan kategori HSC. Saat ini, MSCI masih membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factors (FIF) dan jumlah saham (Number of Shares/NOS), tidak menambahkan saham Indonesia ke dalam indeks MSCI Investable Market Indexes (IMI), dan tidak melakukan kenaikan klasifikasi ukuran saham ke segmen yang lebih besar, termasuk dari Small Cap ke Standard.
MSCI sedang mengkaji aksesibilitas investasi di pasar modal Indonesia. Karena itu, MSCI akan mengeluarkan saham yang masuk dalam kategori HSC. MSCI akan terus menjalin komunikasi dengan pelaku pasar dan otoritas terkait di Indonesia, serta menyambut masukan mengenai sumber data dan indikator baru yang diperkenalkan, termasuk efektivitasnya dalam menentukan free float dan menilai kelayakan investasi. MSCI berencana memberikan informasi lebih lanjut sebagai bagian dari Tinjauan Aksesibilitas Pasar yang dijadwalkan pada Juni 2026.
Perubahan ini menandai langkah penting dalam menjaga kualitas indeks MSCI di Indonesia. Dengan menegakkan standar transparansi dan konsentrasi pemegang saham, investor dapat membuat keputusan lebih baik. MSCI dan OJK berusaha memastikan pasar modal Indonesia tetap menarik bagi investor global, sambil melindungi kepentingan investor domestik.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
MSCI Perketat Aturan Saham EPI, Berlaku 2026
Dolar Menguat, Ketegangan Timur Tengah dan Minyak Jadi Pemicu
IHSG Menguat 1,10%, Asing Beli Bersih Rp725 Miliar
IHSG Dibuka Hijau di Level 6.200
Dolar AS Mendekati Rp 18.000, Konflik Timur Tengah Picu Penguatan
IHSG Sesi I Menguat, Asing Jual Bersih Rp302 Miliar
