Mudik Lebaran: Penumpang Mobil Bak Terbuka Rasa Nyaman
Gambar atau konten salah?
Mudik sudah menjadi tradisi di Indonesia. Untuk pulang ke kampung halaman, masyarakat memakai berbagai kendaraan: pesawat, kapal, kereta, mobil, motor. Di jalur mudik Cianjur‑Bandung, pemandangan menarik muncul ketika banyak mobil bak terbuka melintas.
Beberapa di antaranya ditutupi terpal plastik yang disangga oleh empat bilah bambu, sementara yang lain tidak ditutup sama sekali. Beberapa bak dilapisi tikar atau kasur, ada pula yang tanpa alas. Panas terjulang, angin kencang, namun penumpang tetap merasa nyaman dan menikmati perjalanan.
Arus lalu lintas di jalan tersebut sering padat. Pada H+1 Lebaran ini, pemudik lokal mendominasi kendaraan yang melintas.
Di sebuah minimarket di Rajamandala, Bandung Barat, kami berbincang dengan Ukar, 57 tahun, asal Ciranjang. Ia menggunakan mobil bak terbuka untuk bersilaturahmi ke rumah saudaranya di Tagog Apu, Padalarang.
“Ini sehari‑hari mobil digunakan untuk sayur, kalau Lebaran suka digunakan untuk silaturahmi ke rumah keluarga istri di Tagog Apu,” ujarnya.
Ukar menjelaskan bahwa ia tidak memiliki mobil tertutup seperti minibus, sehingga terpaksa memakai bak terbuka. Ia menambahkan, “Memang dekat, tapi deket ini, cuma dari Ciranjang ke Tagog Apu.”
Ia tidak melakukan persiapan khusus selain menyiapkan bambu, terpal, dan karpet sebagai alas. “Nggak ada sih, asal ada bambu, sama terpal, sudah beres, terus ini alasnya pakai karpet,” kata Ukar.
Mobil bak terbuka tersebut mampu menampung 15 orang. “Pakai ini sekeluarga masuk, kalau seperti pakai mobil kijang atau carry, harus dua mobil,” tuturnya.
Biaya mudik juga terjangkau. “Bensin tidak sampai Rp100 ribu, kalau punya uang lebih lumayan buat ngopi atau makan siang,” jelasnya.
Meskipun sadar bahwa mudik dengan bak terbuka tidak dianjurkan, Ukar mengaku terpaksa melakukannya karena kebutuhan. “Tahu ini salah, tapi hati‑hati saja, banyak kok yang sama dan saya yakin mereka juga karena pas‑pasan jadi mudik pakai mobil bak terbuka,” ucapnya.
Dewi, 29 tahun, salah satu penumpang, mengaku nyaman walau duduk di bak terbuka. “Nyaman‑nyaman saja, udah kebiasaan juga,” ujarnya.
Ia menambahkan, bagi yang belum biasa, bisa mabuk dan muntah. “Saya sih udah biasa, kepanasan, kehujanan, kena angin juga. Tapi memang kalau yang belum biasa suka mual, sampai masuk angin dan muntah‑muntah,” katanya.
Dewi juga mengakui bahwa mudik dengan bak terbuka berbahaya, terutama bagi anak-anak. “Ya berbahaya, tapi hati‑hati saja, enggak sering juga, setahun sekali pas mudik saja,” pungkasnya.
Perilaku ini menunjukkan bahwa banyak orang memilih mobil bak terbuka karena keterbatasan kendaraan tertutup dan biaya. Namun, risiko kesehatan dan keselamatan tetap menjadi perhatian bagi penumpang, terutama yang belum terbiasa.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Dolar AS Kembali Menguat, Rupiah Turun di Bawah Rp18.000
Gaji Ke-13 2026: Mulai Bayar ASN, TNI, Polri, Pensiunan
Bayi Ditemukan Telantar di Sungai Cibinong, Cibogo
Terowongan Tijuana‑Otay, 1.000 kg Kokain Ditangkap Besar
Jadwal Sholat Bandung 04 Juni 2026: Subuh 04:35, Zuhur 11:51
Jawa Barat Raih Opini WTP ke-15 Berturut‑turut 2025
Berita Terbaru
SPMB Jateng 2026: Pendaftaran Murid Baru Buka Resmi
Rakhmad Basuki: Dari Larangan Orang Tua Jadi Pelatih Pro
Tahu: Protein Nabati, Rasa Martabak, Bola, Gejrot Tradisional
SIM Digital Korlantas: Praktis, Aman, dan Dinamis Baru
Kobra Jawa Didampingi Relawan Dilepas dari Rumah di Klaten
Mourinho Setuju Kembali ke Real Madrid jika Perez Terpilih
IHSG menutup di zona negatif, turun 4,11%; global merosot
