Nadiv Asadel, Anak Hiperaktif, Kini Berlaga di Panggung Catur Dunia
Gambar atau konten salah?
Batumi, Georgia — Seorang pecatur muda bernama Nadiv Asadel tengah mengukir langkah di panggung internasional. Remaja asal Citra Raya, Tangerang, ini mewakili Indonesia di ajang FIDE World Cadets Cup 2026 yang digelar di Batumi, Georgia, pada kategori Open U-12.
Bagi Nadiv, turnamen ini bukan sekadar ajang mengejar kemenangan. Kejuaraan dunia ini menjadi panggung pertama baginya untuk mengukur kemampuan sebenarnya setelah menjalani latihan intensif selama hampir dua tahun.
"Asadel datang ke sini bukan dengan beban harus juara atau harus medali. Kami ingin dia menikmati permainan. Tapi tentu, sebagai orang tua dan tim pelatih, kami juga ingin melihat hasil latihan selama ini diuji secara objektif melawan pemain-pemain dari berbagai negara," ujar Hendriyanto, ayah sekaligus manajer Asadel, dalam keterangan kepada media.
Perjalanan Asadel menuju dunia catur tidak dimulai dari anak yang sejak kecil duduk tenang di meja belajar. Ia sangat aktif sejak kecil. Bahkan, ia pernah sulit mengikuti kelas di sekolah konvensional dan lebih senang bergerak di luar ruangan.
Karena itu, keluarganya memindahkan Asadel ke Sekolah Alam Tangerang Mekar Bakti, tempat ia mendapat ruang tumbuh yang lebih sesuai dengan karakternya.
"Dia dulu anak yang tidak bisa diam. Pernah dimasukkan TK, tapi tidak mau masuk kelas. Mainnya di luar terus. Di sekolah alam pun dia sempat perlu guru pendamping karena terlalu aktif. Tapi justru energi itu sekarang berubah menjadi daya tahan fokus di papan catur," kata Hendri.
Ketertarikan Asadel pada catur muncul saat duduk di kelas 4 SD. Setelah kalah dalam pertandingan catur di sekolah, ia meminta kepada orang tuanya untuk belajar lebih serius. Dari kekalahan kecil itu, perjalanan panjang dimulai.
Pada 2024, Asadel mulai berlatih di Sekolah Catur Utut Adianto (SCUA) Gading Serpong. Bakatnya kemudian mendapat perhatian Grandmaster Sean Winshand. Sejak saat itu, Asadel menjalani latihan privat dan program pembinaan yang lebih terarah.
Dalam satu tahun terakhir, intensitas latihan Asadel semakin meningkat. Ia berlatih teori dengan GM Sean Winshand, serta rutin melakukan sparring dan analisis bersama IM Muhammad Ervan dan IM Farid Firmansyah. Di luar sesi bersama pelatih, Asadel tetap menjalani latihan mandiri, membaca buku catur, berlatih endgame, dan bermain online.
"Dia justru senang kalau waktunya latihan. Ketemu coach itu dia semangat. Kami sebagai orang tua hanya menjaga agar proses ini tetap menyenangkan dan tidak berubah menjadi tekanan," ujar Hendri.
Di Batumi, Asadel menghadapi lawan-lawan dengan rating internasional. Pada beberapa babak awal, ia berhadapan dengan pemain dari Eropa dan Asia, termasuk lawan dari Korea Selatan, Taiwan, dan Jerman. Bagi Hendri, pengalaman ini sangat berharga karena menjadi ukuran nyata kemampuan Asadel.
"Rating FIDE itu menurut saya alat ukur yang fair. Yang dihitung hasil pertandingan dan rating lawan. Jadi apa pun hasil akhirnya nanti, itulah gambaran posisi Asadel saat ini. Dari situ kami bisa menyusun peta latihan berikutnya," jelasnya.
Hendri menyebut keluarga tidak ingin terburu-buru mengejar gelar. Setelah turnamen di Georgia, tim Asadel akan mengevaluasi seluruh partai untuk menyusun program latihan satu tahun ke depan.
Rencananya, Asadel akan mengikuti turnamen internasional secara berkala sebelum menjadikan turnamen di Serbia pada Juni 2027 sebagai ujian akhir dari program latihan tahunan.
"Harapan saya bukan hanya untuk Asadel. Saya ingin catur Indonesia punya ekosistem pembinaan junior yang lebih terarah. Anak-anak Indonesia punya potensi besar, tinggal bagaimana kita membangun jalannya dengan sabar," kata Hendri.
Asadel sendiri senang bisa merasakan atmosfer kejuaraan dunia. Ia menikmati kesempatan bertemu lawan dari berbagai negara dan belajar dari setiap pertandingan.
"Saya senang bisa main di sini. Lawannya kuat-kuat. Saya mau main sebaik mungkin dan belajar dari setiap game," ujar Asadel.
Bagi Hendri, keberangkatan Asadel ke Georgia sudah menjadi pencapaian tersendiri. Namun lebih dari itu, turnamen ini menjadi awal baru: dari anak yang dulu sulit duduk diam di kelas, kini Asadel belajar duduk berjam-jam di papan catur, membaca posisi, mengambil keputusan, dan membangun mimpinya pelan-pelan.
"Yang penting dia bahagia bermain catur. Kalau prosesnya dijaga, saya percaya hasil baik akan datang," tutur Hendri.
Perjalanan Nadiv Asadel menunjukkan bahwa bakat catur bisa muncul dari anak yang awalnya sulit duduk tenang. Energi berlebih yang dulu menjadi tantangan di sekolah konvensional kini berubah menjadi ketahanan fokus di papan catur. Dengan pembinaan yang sabar dan terarah, potensi besar anak-anak Indonesia bisa terus berkembang di kancah internasional.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
900 Perenang dari 27 Negara Ramaikan Oceanman Bali 2026
Ogura Rebut Pole MotoGP Brno, Kalahkan Bagnaia
Veda Ega Pratama Terpuruk di FP2 Moto3 Ceko, Tertinggal 2,1 Detik
Kuis MotoGP berhadiah Rp 750 ribu, tiga pemenang sudah diumumkan
Vallensia Fahira Hotmauli Siap Rebut Emas Perdana MMA di Asian Games
Prabowo Setuju Anggaran Pelatnas Multiyears
Berita Terbaru
Nadiv Asadel, Anak Hiperaktif, Kini Berlaga di Panggung Catur Dunia
Turki Gagal di Piala Dunia 2026 Usai Dua Kekalahan
Jadwal Sholat 21 Juni 2026 untuk 38 Kota di Jatim
Pabrik Plastik dan Mainan di Medan Johor Terbakar Hebat
900 Perenang dari 27 Negara Ramaikan Oceanman Bali 2026
Pertemuan Kiai Sepuh NU di Kediri: Jaga Keakraban Lewat Silaturahim
Pembukaan Munas-Konbes NU 2026 Digelar di Kediri
Hotel Piala Dunia 2026: Harga Sempat Meroket, Kini Anjlok