Hotel Piala Dunia 2026: Harga Sempat Meroket, Kini Anjlok

Fajar H. · 4 min baca · 3 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Hotel Piala Dunia 2026: Harga Sempat Meroket, Kini Anjlok

Gambar atau konten salah?

Bayangan keuntungan besar dari gelombang penggemar sepak bola global ternyata tidak semulus yang dibayangkan. Kota-kota penyelenggara Piala Dunia 2026, yang membentang dari Vancouver hingga New York, mendapati kenyataan pahit: lonjakan harga hotel yang sempat melambung tinggi kini ambruk, dan mimpi meraup cuan dari turis belum juga menjadi kenyataan.

Julie Rahaman, seorang akuntan dari Alberta, Kanada, nyaris membatalkan niatnya untuk menyaksikan pertandingan langsung di Vancouver. Pasalnya, tarif kamar hotel di kota tersebut sempat meroket hingga angka yang membuatnya tercengang: sekitar USD 1.000 atau setara dengan Rp 16.000.000 per malam. "Sampai pada titik di mana rasanya sangat tidak masuk akal," ujarnya kepada media. Biaya penginapan yang mencekik itu bahkan sempat membuatnya berpikir keras untuk menjual kembali tiket pertandingan yang sudah dibelinya.

Namun, nasib berkata lain. Pada bulan Mei, harga hotel di Vancouver dilaporkan turun drastis. Rahaman pun segera memesan ulang kamar, kali ini dengan tarif yang jauh lebih masuk akal, yakni sekitar USD 285 atau setara dengan Rp 4.560.000 per malam. Lonjakan dan penurunan harga yang ekstrem ini, menurut laporan dari New York Times, menjadi bukti nyata betapa ekspektasi tarif di kota-kota tuan rumah telah bergeser secara liar dalam beberapa bulan terakhir.

FIFA, sebagai badan pengatur sepak bola dunia, awalnya memproyeksikan kehadiran lebih dari enam juta penggemar dengan potensi perputaran ekonomi global mencapai angka yang sangat besar, yaitu USD 80 miliar atau setara dengan Rp 1.280 triliun. Namun, data dari industri perhotelan justru menunjukkan hasil yang tidak merata di berbagai kota penyelenggara. Di New York, misalnya, para pelaku bisnis hotel mengaku terus terang kecewa. "Sangat mengecewakan dan tidak memuaskan," kata Vijay Dandapani, kepala eksekutif Asosiasi Hotel Kota New York, menggambarkan situasi yang dihadapi.

Data dari perusahaan riset pasar CoStar mengungkapkan fakta yang lebih mencengangkan. Tingkat pemesanan kamar hotel di beberapa kota besar seperti New York, Toronto, dan Miami pada hari-hari pertandingan justru lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Awalnya, hotel-hotel di kota-kota tersebut menaikkan tarif mereka hingga 500 persen. Kenaikan gila-gilaan ini didasari oleh antisipasi akan terjadinya lonjakan permintaan yang luar biasa. Namun, karena pesanan yang masuk tidak sesuai dengan ekspektasi, harga-harga yang melambung tinggi itu akhirnya runtuh dengan sendirinya.

New York Times mencatat bahwa koreksi harga paling tajam terjadi di dua kota: Vancouver dan Monterrey. Hal ini merujuk pada data yang dirilis oleh perusahaan analisis perhotelan, Lighthouse Intelligence. Lesunya pasar tidak hanya terbatas pada sektor akomodasi. Sektor penerbangan juga ikut merasakan dampaknya. Berdasarkan data dari perusahaan penerbangan Cirium, jumlah pemesanan tiket pesawat dari Uni Eropa menuju beberapa kota tuan rumah di Amerika Serikat justru mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu.

Bandara JFK di New York mencatatkan penurunan jumlah penumpang lebih dari 15 persen. Sementara itu, Bandara Internasional San Francisco mengalami penurunan hampir 10 persen. Padahal, FIFA sebelumnya sempat memprediksi bahwa sekitar 40 persen dari total pengunjung turnamen akan berasal dari luar negeri. Angka ini menunjukkan bahwa prediksi tersebut meleset jauh dari kenyataan.

Meskipun demikian, tidak semua kota mengalami nasib buruk. Beberapa kota dilaporkan berhasil melampaui ekspektasi. Kansas City, misalnya, mencatat lonjakan pemesanan hotel sebesar 32 persen. Pendapatan dari sewa akomodasi jangka pendek di kota tersebut bahkan melonjak dua kali lipat dari proyeksi semula. Lonjakan ini didorong oleh daya tarik pertandingan-pertandingan yang melibatkan tim-tim papan atas. Namun, perlu dicatat bahwa tren di Kansas City juga menunjukkan pola yang unik: durasi menginap pengunjung cenderung lebih singkat, dan permintaan kamar sangat fluktuatif dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya.

Asosiasi perhotelan di sejumlah kota memberikan penjelasan mengenai penyebab kekacauan harga ini. Mereka menuding FIFA sebagai biang keroknya. Menurut mereka, praktik pemblokiran atau pemesanan kamar hotel dalam jumlah besar oleh FIFA di awal turnamen telah menciptakan apa yang disebut sebagai "sinyal permintaan semu" atau artificial demand. Sinyal palsu inilah yang mendistorsi pasar. Akibatnya, pihak hotel sempat terpancing untuk memasang tarif yang sangat tinggi, karena mereka mengira permintaan akan meledak. Namun, ketika permintaan palsu tersebut mereda, harga-harga pun jatuh.

Para pakar industri menilai bahwa prospek keseluruhan turnamen ini sebenarnya masih lebih baik jika dibandingkan dengan tahun lalu. Namun, angka riil yang tercatat tetap berada jauh di bawah target-target muluk yang telah ditetapkan di awal. Kondisi ini memicu kritik keras dari para suporter. Mereka merasa bahwa praktik penetapan harga tiket dan hotel yang tidak masuk akal ini telah mengeksploitasi mereka.

"Saya akan menyarankan para petinggi sepak bola untuk mempertimbangkan dengan serius apa yang mereka lakukan terhadap para penggemar dengan praktik penetapan harga tiket dan hotel ini," kata Tom Boyer, seorang ayah dari dua anak yang sudah telanjur memesan kamar Marriott dengan tarif non-refundable di Vancouver sejak awal April. Ia memesan kamar tersebut demi bisa menonton dua pertandingan Piala Dunia. "Permainan ini seharusnya menyatukan orang. Praktik-praktik seperti ini memecah keuntungan," tambahnya dengan nada kecewa.

Secara keseluruhan, cerita ini menggambarkan bagaimana ekspektasi yang terlalu tinggi, didorong oleh proyeksi ambisius dan praktik bisnis yang kurang transparan, bisa berujung pada kekecewaan. Baik bagi penggemar yang harus membayar mahal, maupun bagi industri perhotelan yang gagal menuai hasil sesuai bayangan. Fluktuasi harga yang liar ini menjadi pelajaran berharga bahwa pasar tidak selalu bisa diprediksi, terutama ketika ada kekuatan besar seperti FIFA yang ikut bermain.

Piala Dunia 2026harga hotelpenurunan hargaFIFAVancouverNew Yorkpemesanan kamar

Komentar

Memuat komentar...