Nganjuk Dikepung Sesar Aktif: Segmen Pandan 18 Km Melintasi Tiga Kecamatan
Gambar atau konten salah?
Kecamatan Rejoso di Kabupaten Nganjuk dipastikan berada di jalur Sesar Kendeng Segmen Pandan. Ini bukan sesuatu yang bisa diubah atau direkayasa oleh manusia.
Wakil Bupati Nganjuk, Trihandy Cahyo Saputro, yang akrab disapa Mas Handy, menjelaskan bahwa sesar atau patahan bumi adalah fenomena alam yang sudah ada. "Sesar atau patahan ini sifatnya given, tidak bisa rekayasa," ujarnya. Menurut dia, yang bisa dilakukan pemerintah hanyalah memberi pemahaman kepada warga tentang potensi risiko bencana di sekitar area tersebut.
Salah satu cara untuk memberikan pemahaman itu, kata Mas Handy, adalah melalui Peta Potensi Risiko Bencana. Peta ini bisa membantu masyarakat memahami daerah mana saja yang perlu waspada.
Sebelumnya, Stasiun Geofisika Nganjuk yang berada di bawah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa wilayah Nganjuk memang dilewati oleh Sesar Kendeng. "Sesar Kendeng adalah salah satu sesar aktif di Pulau Jawa yang merupakan bagian dari Java Back-arc Thrust," jelas pihak BMKG Stasiun Geofisika Nganjuk pada 22 Juni 2026.
Bagian dari Sesar Kendeng yang melintasi Kabupaten Nganjuk adalah Segmen Pandan. Panjang segmen ini mencapai 18 kilometer. Lokasinya berada di perbatasan tiga wilayah sekaligus: Kecamatan Saradan di Kabupaten Madiun, Kecamatan Sekar di Kabupaten Bojonegoro, dan Kecamatan Rejoso di Kabupaten Nganjuk.
Sesar Kendeng ini bisa memicu aktivitas gempa di Nganjuk, Bojonegoro, dan daerah sekitarnya. Karakteristik gempa yang mungkin terjadi adalah gempa dengan mekanisme sesar naik.
Stasiun Geofisika Nganjuk juga mencatat adanya aktivitas kegempaan di wilayah tersebut pada masa lalu. Tepatnya pada tahun 2016, berdasarkan data BMKG, tercatat ratusan aktivitas gempa bumi swarm di sekitar Sesar Kendeng Segmen Pandan. Gempa-gempa kecil itu berkekuatan magnitudo antara 1 hingga 3. Lokasinya berada di wilayah Klangon, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun.
Intinya, keberadaan sesar ini adalah fakta geologis yang tidak bisa dihindari. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana masyarakat dan pemerintah sama-sama siap menghadapi risiko yang mungkin timbul di kemudian hari.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Rembesan Tanggul Lapindo Meningkat, PU Pastikan Masih Aman
NU Tetapkan Muktamar 1-5 Agustus 2026, Lokasi Masih Misteri
NU Dukung MBG, Minta Perbaikan Tata Kelola
Protes Mahasiswa di Mojokerto: DPRD Desak Evaluasi Total MBG dan KDMP
Politisi Demokrat Surabaya Raih Gelar Doktor, Kaji Loyalitas Kader
Gus Yahya Laporkan Capaian Reformasi NU di Munas
Berita Terbaru
Donnie Sibarani Panggung di Ultah ke-386 Amlapura
Mahasiswa HKBP Nommensen Robohkan Pagar DPRD Sumut
Nganjuk Dikepung Sesar Aktif: Segmen Pandan 18 Km Melintasi Tiga Kecamatan
Atlet Jakarta Raih Emas SEA Games, Dapat Penghargaan di HUT ke-499
Paqueta Peringatkan Lawan: Vini Jr di Puncak Performa
Stimulus Rp26,34 Triliun: Bantuan Beras, Diskon Tiket, dan Magang
Menteri PPA Desak Polisi Tangkap Pelaku Penyekapan