Politisi Demokrat Surabaya Raih Gelar Doktor, Kaji Loyalitas Kader

Ayu W. · 4 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Politisi Demokrat Surabaya Raih Gelar Doktor, Kaji Loyalitas Kader

Gambar atau konten salah?

Politisi Partai Demokrat Surabaya, Herlina Harsono Njoto, resmi menyandang gelar doktor. Ia berhasil menuntaskan ujian terbuka Program Doktor Psikologi di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair). Disertasi yang diangkatnya membahas soal komitmen afektif kader partai politik. Lewat penelitian itu, ia menawarkan cara pandang baru tentang apa yang sebenarnya membentuk loyalitas kader di dalam organisasi politik.

Ujian terbuka Herlina, yang juga menjabat sebagai anggota DPRD Surabaya, dihadiri sejumlah tokoh. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi hadir langsung. Begitu juga Sekretaris DPD Demokrat Jawa Timur Mugianto, Ketua DPRD Surabaya Syaifuddin Zuhri, dan Ketua APSI Surabaya yang juga Inspektur Kota Surabaya Ikhsan. Wakil Rektor III Untag Surabaya Amanda Pasca Rini serta Wakil Dekan Fakultas Psikologi Universitas Lambung Mangkurat Neka Erlyani juga turut hadir. Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan atas pencapaian akademik Herlina yang berhasil menyelesaikan studi doktoral di tengah kesibukannya sebagai legislator dan aktivis partai.

Promotor Herlina, Prof. Dr. Suryanto, M.Si., Psikolog, memberikan apresiasi. Menurutnya, karya Herlina lahir dari perpaduan pengalaman panjang di dunia politik dengan proses akademik yang ketat. Ia menilai Herlina punya sudut pandang unik. Bukan karena ia mengamati politik dari luar, melainkan karena ia mengalaminya langsung sebagai kader partai dan anggota legislatif. Pengalaman itu membuatnya mampu melihat bahwa kehidupan partai tidak hanya ditentukan oleh struktur organisasi, jabatan, atau kepentingan kekuasaan. Ada faktor psikologis yang membentuk keterikatan seseorang terhadap organisasi.

“Bertahan tidak selalu berarti mencintai organisasi. Seseorang bisa bertahan karena merasa tidak punya pilihan, karena mempertimbangkan kerugian yang akan diterima, atau karena benar-benar memiliki keterikatan emosional terhadap partainya,” kata Suryanto, pada 22 Juni 2026.

Suryanto menilai, salah satu kekuatan penelitian Herlina adalah keberaniannya mengurai makna loyalitas politik secara lebih dalam. Penelitian itu tidak berhenti pada pengolahan data statistik. Ia berusaha menjelaskan alasan seseorang tetap bertahan, berpindah, atau kehilangan keterikatan dengan partai yang selama ini menjadi rumah politiknya.

Satu momen penting dalam sidang terbuka terjadi ketika Ketua Umum Pengurus Pusat Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), Andik Matulessy, meminta Herlina merumuskan kontribusi teoritis utama dari disertasinya. Khususnya bagi perkembangan psikologi politik Indonesia.

Menjawab pertanyaan itu, Herlina menegaskan bahwa komitmen emosional kader partai tidak terutama dibangun melalui hubungan yang bersifat transaksional. Menurut dia, identitas sosial dan kepemimpinan transformasional justru menjadi faktor yang lebih menentukan dalam membangun loyalitas kader.

“Dalam konteks organisasi politik di Indonesia, komitmen afektif kader lebih ditentukan oleh kekuatan identitas sosial dan kepemimpinan transformasional. Sementara pertukaran sosial yang bersifat transaksional justru bisa melemahkan keterikatan emosional terhadap partai,” kata Herlina saat sidang terbuka.

Herlina menjelaskan, temuan itu memperluas Social Exchange Theory. Teori itu selama ini berasumsi bahwa hubungan timbal balik akan memperkuat komitmen individu terhadap organisasi. Namun dalam konteks politik Indonesia yang masih diwarnai patronase, ketimpangan distribusi sumber daya, dan relasi kekuasaan, pertukaran sosial tidak selalu menghasilkan loyalitas yang lebih kuat.

“Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam psikologi politik Indonesia, komitmen kader tidak dibangun oleh apa yang diberikan partai. Tapi oleh seberapa kuat kader merasa menjadi bagian dari partai,” jelasnya.

Pada sesi yang sama, tim penguji juga menyoroti komposisi responden penelitian. Sekitar 27,9 persen responden berasal dari Partai Demokrat. Pertanyaan itu muncul karena Herlina sendiri adalah kader Demokrat sekaligus anggota DPRD Surabaya.

Menanggapi hal itu, Herlina mengakui adanya potensi researcher proximity bias atau bias kedekatan peneliti. Ia menjelaskan bahwa jaringan akses yang dimilikinya sebagai kader Demokrat membuat distribusi responden dari partainya menjadi lebih besar dibanding partai lain.

“Saya mengakui dengan jujur bahwa komposisi 27,9 persen kader Demokrat adalah over-representasi yang berakar pada jaringan akses saya sebagai kader partai tersebut. Sebagai kader Demokrat dan anggota DPRD Kota Surabaya, jaringan akses peneliti lebih padat ke sesama kader Demokrat,” urainya.

Herlina menegaskan, kondisi itu tidak mengurangi validitas penelitian. Ia menjelaskan bahwa riset yang dilakukan tidak bertujuan membandingkan karakteristik antarpartai. Tujuannya adalah menguji hubungan antara identitas sosial, kepemimpinan transformasional, pertukaran sosial, dan komitmen afektif kader.

“Penelitian ini menguji model relasional, bukan komparasi kelompok. Yang diestimasi adalah hubungan antar konstruk. Jadi relatif tetap kuat meskipun distribusi responden tidak seimbang,” katanya.

“Temuan utama bahwa identitas sosial menjadi prediktor terkuat dan pertukaran sosial berpengaruh negatif berakar pada karakteristik politik Indonesia yang patronase dan figur-sentris. Karakteristik ini melekat pada semua partai, bukan hanya Demokrat,” tambahnya.

Ia menyimpulkan, hasil penelitiannya tetap sah untuk menggambarkan mekanisme pembentukan komitmen afektif anggota DPRD di Jawa Timur secara umum.

“Maka, ini adalah potret sah tentang mekanisme komitmen afektif anggota DPRD Jawa Timur secara agregat, bukan potret Partai Demokrat,” tegasnya.

Usai dinyatakan lulus, Herlina menyampaikan rasa syukur. Ia mengaku sempat mengalami masa sulit selama menempuh pendidikan doktoral. Dalam pidato penutupnya, ia bercerita tentang periode hampir tiga semester tanpa perkembangan berarti. Setelah itu, ia kembali melanjutkan proses studi hingga tuntas.

Perjalanan akademik itu dijalani di tengah berbagai tanggung jawab sebagai anggota legislatif, kader partai, istri, dan ibu. Namun bagi Herlina, setiap tantangan justru menjadi pengingat bahwa sebuah cita-cita hanya bisa diraih melalui konsistensi dan ketekunan.

“Keberhasilan bukan milik mereka yang paling cepat, tetapi milik mereka yang tidak berhenti berjalan,” ujar Herlina.

Menurut Herlina, gelar doktor yang diraihnya bukanlah akhir perjalanan. Ia justru melihatnya sebagai awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Tanggung jawab itu adalah memberi manfaat bagi masyarakat serta berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya psikologi politik di Indonesia.

“Saya berharap capaian ini tidak berhenti pada diri saya. Tapi menjadi bagian dari ikhtiar untuk memberi kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat dan pengembangan ilmu pengetahuan,” pungkasnya.

Secara ringkas, penelitian ini mengungkap bahwa loyalitas kader partai politik di Indonesia lebih banyak dibentuk oleh rasa memiliki dan kepemimpinan yang menginspirasi, bukan oleh imbalan atau transaksi. Temuan ini sekaligus menantang asumsi lama dalam teori pertukaran sosial yang selama ini menjadi acuan.

komitmen afektifkader partai politikpsikologi politikidentitas sosialkepemimpinan transformasionalpertukaran sosialloyalitas politik

Komentar

Memuat komentar...