OJK: 549.074 Laporan Penipuan, Rp 9,5 Triliun Hilang

Sigit W. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 96 dibaca
Bisik.id
OJK: 549.074 Laporan Penipuan, Rp 9,5 Triliun Hilang

Gambar atau konten salah?

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan masyarakat tentang risiko penipuan di dunia keuangan. Bersama Indonesia Anti-Scam Centre (IASC), OJK menerima 549.074 laporan penipuan antara 22 November 2024 dan 30 April 2026.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Frederica Widyasari Dewi, menyatakan, “Ada yang bisa tebak nggak kira‑kira jumlah kehilangan yang dilaporkan masyarakat Indonesia terkait scam dalam satu tahun terakhir? Yang sudah dilaporkan hilang itu Rp 9,5 triliun, banyak ya.” Pernyataan ini diucapkan pada acara Jogja Financial Festival 2026, 22 May 2026.

Menurut Frederica, ada lima modus penipuan yang paling sering dilaporkan. Modus pertama adalah penipuan transaksi belanja online. Modus kedua adalah impersonation atau panggilan palsu. Modus ketiga melibatkan investasi palsu. Modus keempat adalah penipuan kerja. Modus kelima adalah penipuan melalui media sosial.

Penipuan transaksi belanja online menampakkan 76.724 korban. Frederica menjelaskan, “Kena scam jual beli online, ini penipuan transaksi belanja online. Laporannya masuk ke OJK.”

Modus impersonation atau fake call mencatat 44.889 laporan. Frederica menambahkan, “Selanjutnya modus scam yang paling banyak digunakan lainnya adalah penipuan impersonation atau fake call sebanyak 44.889 laporan.”

Penipuan investasi mengakibatkan 26.613 laporan. Frederica menyebut, “penipuan investasi sebanyak 26.613 laporan.”

Penipuan kerja menjadi modus kelima dengan 23.906 laporan. Frederica mengungkap, “Paling banyak kena ke anak muda, salah satunya adalah penipuan kerja. Siapa yang pernah kena online scam penipuan kerja? Yang seolah, yang ngeklik‑ngeklik dapat uang masuk, tiba‑tiba kita disuruh transfer, karena akan ikut membership yang lebih besar, akhirnya uang kita hilang.”

Penipuan melalui media sosial mencatat 20.394 laporan. Frederica menekankan, “Secara Khusus terkait modus penipuan di media sosial, Friderica menyatakan saat ini love scam atau modus penipuan berkedok asmara menjadi yang paling berkembang di Indonesia.”

Dalam penjelasan tentang love scam, Frederica bertanya, “Ada yang pernah kena love scam? Pura‑pura punya pacar di online, padahal orangnya nggak ada. Ada nggak? Itu mulai banyak sekarang ya, hati‑hati.” Ia melanjutkan, “Sepertinya punya hubungan, yang dikirim gambarnya cowok keren, cewek cantik, padahal itu semua editan AI. Kemudian kita merasa punya hubungan, dan kemudian dengan suka rela kita men‑transfer. Itu hati‑hati dan mulai banyak penipuan di media sosial.”

Frederica menutup pidatonya dengan imbauan, “Kalau dulu orang mau merampok kita harus datangin kita, harus mungkin nyopet, atau mungkin melakukan tindak kekerasan dan lain‑lain. Sekarang nggak usah, kalian sendiri yang akan dengan suka rela mengirimkan uang atau memberikan password‑mu, memberikan OTP‑mu kepada orang yang kalian tidak kenal. Itulah fenomena di dunia digital yang kalian harus hati‑hati.”

Penjelasan ini menegaskan bahwa penipuan kini lebih canggih, memanfaatkan teknologi dan media sosial. Masyarakat diingatkan untuk selalu waspada, memverifikasi sumber, dan tidak mudah percaya pada janji‑janji manis yang datang lewat pesan teks atau panggilan telepon. Dengan informasi ini, diharapkan tingkat kejahatan penipuan dapat ditekan, dan korban dapat menghindari kerugian finansial yang besar.

OJKpenipuanscamimpersonasiinvestasi palsukerjamedia sosiallove scam

Komentar

Memuat komentar...