OJK Genjot Literasi Keuangan di Banggai Kepulauan

Nurul H. · 4 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
OJK Genjot Literasi Keuangan di Banggai Kepulauan

Gambar atau konten salah?

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong pemahaman masyarakat tentang keuangan di daerah-daerah yang sulit dijangkau. Salah satu sasaran mereka adalah Kabupaten Banggai Kepulauan di Sulawesi Tengah. Wilayah ini masuk dalam kategori tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T. Tujuannya jelas: agar warga di sana tidak hanya paham soal uang dan produk keuangan, tapi juga bisa mengakses layanan perbankan dengan lebih mudah.

Soal akses, Banggai Kepulauan memang punya tantangan tersendiri. Letaknya yang berupa pulau-pulau membuat perjalanan ke sana tidak sederhana. Dari Kabupaten Banggai yang ada di daratan utama Sulawesi, orang harus naik speed boat sekitar satu jam. Kalau naik kapal feri, waktunya bisa sampai empat jam. Di dalam wilayah kabupaten itu sendiri, jarak antar desa cukup jauh. Warga harus menempuh perjalanan darat yang panjang untuk sampai ke desa lain.

Bupati Banggai Kepulauan, Rusli Moidady, menjelaskan kondisi geografis ini punya pengaruh langsung terhadap cara masyarakat mengelola uang mereka. "Banggai Kepulauan ini memiliki luas wilayah kurang lebih 6.700 km², di mana dua pertiganya adalah lautan. Jarak antara satu desa dengan desa lainnya pun cukup berjauhan. Kondisi geografis ini tentunya mempengaruhi tingkat literasi masyarakat dan cara mereka mengelola keuangan," kata Rusli di Desa Luk Panenteng, Kabupaten Banggai Kepulauan, pada Senin, 21 September 2026.

Pemerintah daerah setempat tidak tinggal diam. Bersama OJK Provinsi Sulawesi Tengah, mereka menggelar kegiatan Edukasi Keuangan dan Prainkubasi Keuangan Masyarakat Desa Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI) di desa yang sama. Rusli mengatakan sosialisasi dan edukasi keuangan sudah beberapa kali dilakukan, terutama menyasar desa-desa yang jauh dari pusat ibu kota kabupaten. Pemerintah juga berusaha menyediakan fasilitas yang memudahkan warga bertransaksi dan mengakses layanan keuangan.

"Kolaborasi selama ini sudah banyak dilakukan, terutama melalui sosialisasi dan edukasi. Selain itu, ada juga bantuan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan agar masyarakat lebih mudah melakukan transaksi ataupun mengakses layanan keuangan," jelas Rusli.

Kepala OJK Provinsi Sulawesi Tengah, Bonny Hardi Putra, menegaskan bahwa edukasi dan literasi keuangan adalah tugas pokok OJK. Karena itu, mereka berusaha menjangkau masyarakat di berbagai wilayah, termasuk Banggai Kepulauan. Pemilihan Desa Luk Panenteng sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Desa ini sudah menjadi bagian dari program Desa EKI yang dirintis OJK sejak 2023.

"Khusus di Kabupaten Banggai Kepulauan ini, kami sudah pernah bikin Desa EKI. Karena itu, kami ingin memperdalam dan meyakinkan bahwa edukasi kami bisa bermanfaat. Kami juga perlu menganalisa dan mengevaluasi kembali kegiatan yang pernah dilakukan," kata Bonny.

Desa EKI, menurut Bonny, adalah proyek percontohan. Tujuannya membangun ekosistem keuangan yang inklusif di tingkat desa. OJK mendorong agar setiap desa memiliki akses ke layanan keuangan, baik melalui bank maupun agen Laku Pandai. Laku Pandai adalah program perbankan yang memungkinkan warga melakukan transaksi melalui agen-agen di desa.

"Desa EKI ini sebenarnya percontohan. Kami inginnya semua desa ada ekosistem yang inklusif. Jadi di desa paling tidak ada bank, atau minimal agen-agen Laku Pandai. Dengan begitu, masyarakat tidak usah harus ke kota hanya untuk ambil uang cash, atau mau transfer harus berjalan puluhan kilometer," tambah Bonny.

Bonny juga mengungkapkan data menarik. Secara umum, masyarakat di Sulawesi Tengah sudah menggunakan produk dan layanan jasa keuangan. Tapi pemahaman mereka terhadap produk-produk itu masih rendah. "Secara umum dari data literasi dan inklusi keuangan, di Sulawesi Tengah, itu literasi keuangannya cukup rendah. Mayoritas masyarakat itu sebenarnya menggunakan produk jasa keuangan, tapi kurang literasinya atau ilmunya," jelasnya.

Kesenjangan antara penggunaan dan pemahaman ini yang coba dijembatani OJK. Caranya dengan memperluas akses melalui pengembangan Desa EKI dan meningkatkan literasi secara bersamaan. Program ini diharapkan bisa mendekatkan layanan keuangan ke masyarakat desa. Dengan begitu, kebutuhan transaksi sehari-hari bisa dipenuhi tanpa harus bepergian jauh.

Dalam upaya memperluas edukasi, OJK juga melibatkan Duta Literasi Media Massa. Mereka bertugas menyampaikan informasi tentang produk dan layanan keuangan dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dicerna. Salah satu duta literasi itu adalah Asmarandani Heryadi Putri, atau akrab disapa Dani.

Menurut Dani, literasi keuangan sebenarnya dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari menabung untuk pendidikan, meminjam uang, sampai belanja kebutuhan pokok. "Keuangan itu satu hal yang tidak akan pernah lepas dalam keseharian masyarakat. Mulai dari menabung untuk pendidikan, meminjam uang, hingga membeli sesuatu, semuanya berkaitan dengan keuangan," jelas Dani.

Dani berharap edukasi yang dilakukan OJK tidak berhenti begitu kegiatan selesai. Pengetahuan yang sudah diberikan harus berubah menjadi kebiasaan. "Sebagai Duta Literasi Media Massa OJK, saya berharap edukasi literasi keuangan tidak berhenti sampai saya pulang ke tempat asal. Edukasi ini harus terus berlanjut dan berkesinambungan. Pengetahuan tentang literasi keuangan harus berubah menjadi kebiasaan," pungkasnya.

Melalui kerja sama dengan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan, OJK terus memperkuat literasi dan akses keuangan di Banggai Kepulauan. Pengembangan Desa EKI diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem keuangan yang inklusif. Terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah 3T, yang selama ini kerap tertinggal dalam hal akses terhadap layanan keuangan formal.

Kondisi geografis Banggai Kepulauan yang berupa kepulauan dengan jarak antar desa yang berjauhan memang menjadi tantangan tersendiri. Namun, dengan pendekatan yang tepat dan kolaborasi yang solid, OJK dan pemerintah daerah optimistis literasi keuangan masyarakat bisa meningkat. Pada akhirnya, pemahaman yang baik tentang keuangan diharapkan bisa membantu masyarakat mengelola uang mereka dengan lebih bijak, tanpa harus terjebak dalam pinjaman ilegal atau investasi bodong.

OJKliterasi keuanganBanggai KepulauanDesa EKIinklusi keuanganedukasi keuangan3T

Komentar

Memuat komentar...