OJK Edukasi Keuangan di Banggai Kepulauan

Surya B. · 5 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
OJK Edukasi Keuangan di Banggai Kepulauan

Gambar atau konten salah?

Mengelola keuangan bukan perkara mudah, terutama bagi mereka yang penghasilannya naik turun setiap bulan. Petani dan nelayan di daerah pesisir kerap menghadapi tantangan ini. Pemasukan yang tidak menentu membuat mereka harus pintar-pintar mengatur agar kebutuhan sehari-hari tetap tercukupi.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui salah satu misinya terus mendorong masyarakat untuk lebih melek finansial. Kali ini, kegiatan Edukasi Keuangan dan Prainkubasi Keuangan Masyarakat digelar di Desa Luk Panenteng, Kabupaten Banggai Kepulauan, pada 21 September 2026.

Kepala OJK Sulawesi Tengah, Bonny Hardi Putra, mengatakan bahwa memberikan edukasi dan literasi keuangan adalah tugas OJK. Karena itu, pihaknya berusaha menjangkau masyarakat di berbagai daerah, termasuk Banggai Kepulauan.

"Kegiatan ini dilakukan untuk memperkuat literasi dan edukasi bagi masyarakat Sulawesi Tengah, khususnya di Desa Luk Panenteng. Secara umum, data literasi dan inklusi keuangan di Sulawesi Tengah, literasi keuangannya cukup rendah, namun, inklusi keuangannya tinggi. Jadi mayoritas masyarakat itu sebenarnya menggunakan produk jasa keuangan, tapi kurang literasinya," ujar Bonny pada 21 September 2026.

Menurut Bonny, Desa Luk Panenteng punya potensi ekonomi yang besar. Potensi itu terlihat dari sektor pariwisata yang mulai tumbuh, sumber daya laut yang melimpah, dan sektor pertanian yang menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari warga.

"Masyarakat di Luk Panenteng sedang berkembang menuju lebih baik. Karena itu, OJK hadir sehingga mereka bisa mendapatkan literasi yang cukup sehingga pengelolaan keuangan mereka bisa lebih baik," jelasnya.

Dalam kegiatan ini, OJK menggandeng Duta Literasi Keuangan Media Massa. Tujuannya, meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap layanan jasa keuangan sekaligus mendorong penggunaan layanan keuangan secara bijak.

Asmarandani Heryadi Putri, Duta Literasi Keuangan Media Massa OJK, mengungkapkan sebagian warga Banggai Kepulauan mengaku belum terbiasa mengatur keuangan. Alasannya, penghasilan yang mereka miliki masih terlalu kecil. Ia pun mengingatkan bahwa pengelolaan keuangan bisa dimulai dari pendapatan berapa pun.

"Di Banggai Kepulauan ini, masyarakatnya rata-rata masih bingung mengatur keuangan. Banyak warga cerita mereka mau mengatur keuangan, tapi keuangannya terlalu kecil untuk diatur. Jadi saya menegaskan ke mereka bahwa mengatur keuangan tidak harus dimulai dengan yang besar," ungkapnya.

Dani—sapaan akrab Asmarandani—menegaskan keuangan tidak bisa dipisahkan dari berbagai aktivitas masyarakat. Mulai dari menabung untuk pendidikan, meminjam uang, hingga membeli kebutuhan harian. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami cara mengelola keuangan dengan baik.

Agar edukasi literasi keuangan lebih mudah dipahami, Dani menyesuaikan materi dengan kehidupan sehari-hari warga. Ia juga menghindari istilah keuangan yang rumit dan memilih bahasa yang lebih sederhana.

"Jadi saya coba masuk kepada contoh-contoh nyata di kehidupan mereka agar mereka mudah memahami literasi keuangan. Jangan menggunakan kalimat-kalimat keuangan yang sulit. Kami elaborasikan dengan kehidupan keseharian mereka, sehingga mereka lebih mudah memahami," ujar Asmarandani.

Dalam kesempatan itu, Dani juga mengingatkan masyarakat yang memiliki usaha—termasuk petani dan nelayan—untuk memisahkan uang usaha dan uang pribadi. Menurutnya, mencampur keduanya bisa membuat modal usaha ikut terpakai untuk kebutuhan rumah tangga.

Ia memberi contoh, petani perlu memisahkan uang yang disiapkan untuk membeli pupuk dari uang untuk kebutuhan pribadi. Begitu pula nelayan yang harus mengalokasikan dana untuk membeli atau merawat jala dan perlengkapan melaut.

"Bapak dan ibu yang mempunyai usaha pertanian atau nelayan, perlu membedakan antara uang usaha dan uang pribadi. Jangan sampai menyamaratakan uang usaha dan uang pribadi karena kalau sampai uang usaha itu pakai uang pribadi, bahaya. Bapak dan ibu harus mulai pintar membedakan mana uang usaha dan uang pribadi," tegasnya.

Dani menekankan kunci hidup sejahtera adalah cerdas menata anggaran. Masyarakat perlu membuat rencana penggunaan uang sejak awal, termasuk menentukan pembagian pendapatan untuk berbagai kebutuhan.

"Kunci sejahtera adalah cerdas menata anggaran. Kita bagi anggaran kita ke mananya harus jelas. Kita bisa membaginya sesuai dengan kebutuhan, misalnya untuk keluarga, kebun, pendidikan anak, simpanan, dan kebutuhan lainnya. Dengan membuat pembagian sejak awal, kita akan lebih mudah memantau pengeluaran kita," paparnya.

Asmarandani juga mengingatkan pemilik usaha untuk disiplin mencatat keuangan secara detail. Pencatatan penting untuk mengetahui hasil usaha, jumlah yang disimpan, serta alokasi dana untuk mencapai tujuan keuangan.

"Pemilik usaha perlu melakukan pencatatan keuangan usaha secara disiplin dan detail. Pisahkan dompet keuangan usaha dengan keuangan pribadi. Pokoknya pulang dari sini bapak dan ibu harus menjadi bendahara di rumah masing-masing," jelasnya.

Dani juga menekankan prinsip penting dalam mengalokasikan anggaran: membedakan kebutuhan dan keinginan. Masyarakat perlu membedakan pengeluaran yang benar-benar dibutuhkan dengan keinginan.

"Saya kasih contoh, sisihkan dulu, bukan nunggu sisanya. Misalnya pemasukan Rp1 juta, sisihkan dulu buat kesehatan Rp100 ribu, buat pendidikan anak Rp200 ribu, buat dapur, sisanya boleh beli lainnya," katanya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar mengutamakan fungsi daripada gengsi saat berbelanja. Pertimbangkan apakah barang yang ingin dibeli memang dibutuhkan atau hanya karena mengikuti tren.

"Yang terakhir, prinsip alokasi anggaran itu fungsi bukan gengsi. Bapak, ibu harus fokus dulu, 'Ini berfungsi gak buat saya?'" jelasnya.

Dani berharap edukasi literasi keuangan yang dilakukan OJK tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Pengetahuan yang diberikan perlu diterapkan secara berkelanjutan hingga menjadi kebiasaan.

"Edukasi literasi keuangan tidak berhenti sampai saya pulang. Ini harus terus berlanjut dan berkesinambungan, sehingga yang tadinya literasi keuangan hanya menjadi pengetahuan bisa berubah menjadi kebiasaan," ujar Asmarandani.

Ia berharap masyarakat Banggai Kepulauan semakin bijak mengelola keuangan, termasuk memahami dan memastikan legalitas pinjaman yang digunakan. Kehidupan yang lebih baik di masa depan perlu dipersiapkan melalui pengelolaan keuangan yang baik sejak sekarang.

"Saya berharap edukasi literasi keuangan tidak berhenti sampai saya pulang lagi ke tempat asal. Tapi ini harus continue dan sustain di mana ini yang tadinya literasi keuangan adalah pengetahuan harus berubah menjadi kebiasaan," ungkapnya.

"Saya ingin masyarakat khususnya Kepulauan Banggai yang tadi saya datangi, ke depannya mereka lebih bijak lagi mengelola keuangan, mereka lebih paham lagi mana pinjaman yang sudah license OJK atau belum. Lalu kemudian mereka juga harus semakin tahu bahwasanya kehidupan yang baik di masa depan harus dimulai diatur oleh keuangan yang oke juga di saat ini," imbuhnya.

Kegiatan edukasi keuangan bersama Duta Literasi OJK menuai antusiasme warga Banggai Kepulauan. Sejumlah warga mengaku mendapat pemahaman baru tentang pengelolaan keuangan, termasuk pentingnya menabung di bank.

Salah satunya, Christian Satinyan, seorang nelayan. Ia mengaku belum memiliki rekening bank. Namun setelah mengikuti edukasi, Christian mulai tertarik membuka rekening dan menyisihkan sebagian hasil usahanya.

"Kalau sudah dapat hasil, maka harus disisihkan ke tempat penyimpanan," ujar Christian.

Respons serupa datang dari Enim Yengese, perajin anyaman rotan di Desa Luk Panenteng. Selama ini pendapatan dari usaha anyaman digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan keperluan anak-anak. Ia mengaku belum rutin menggunakan layanan perbankan karena keterbatasan dana. Meski begitu, Enim mengatakan edukasi yang diberikan membuatnya semakin paham pentingnya mengelola keuangan dan membedakan kebutuhan dengan keinginan.

"Saya jadi lebih mengerti mana keinginan dan mana kebutuhan," kata Enim.

Sementara itu, Kori Satingan, petani mete, mengaku selama ini belum menggunakan layanan perbankan. Pendapatannya dari hasil pertanian yang dipanen setahun sekali lebih banyak digunakan untuk biaya sekolah anak. Kori mengatakan edukasi tersebut membuatnya mulai mempertimbangkan menabung di bank. Ia berencana menyimpan sebagian pendapatan untuk kebutuhan anak dan keperluan lainnya.

"Kalau nanti dapat uang sedikit, saya kasih (tabung untuk) anak. Kalau ada uang, bisa juga disimpan di bank," pungkas Kori.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa literasi keuangan masih menjadi tantangan di daerah pedesaan. Banyak warga yang sudah menggunakan produk keuangan tetapi belum sepenuhnya memahami cara mengelolanya. Dengan pendekatan yang sederhana dan contoh nyata dari kehidupan sehari-hari, OJK berharap masyarakat bisa mulai mengubah kebiasaan finansial mereka. Pemahaman tentang pemisahan uang usaha dan pribadi, pencatatan keuangan, serta membedakan kebutuhan dan keinginan menjadi langkah awal yang penting. Respons positif dari warga seperti Christian, Enim, dan Kori menunjukkan bahwa edukasi semacam ini memang dibutuhkan dan bisa mendorong perubahan perilaku keuangan yang lebih baik.

literasi keuanganpengelolaan keuanganpetani nelayanedukasi OJKpemisahan uang usahapencatatan keuangankebutuhan vs keinginan

Komentar

Memuat komentar...