Pasar Padurenan Baru Bekasi Terserang Sampah, Penjualan Turun

Tika M. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Pasar Padurenan Baru Bekasi Terserang Sampah, Penjualan Turun

Gambar atau konten salah?

Pasar Padurenan Baru di Kota Bekasi kini terasa sangat mengenaskan. Setelah sekian lama menjadi pusat kegiatan jual‑beli kebutuhan rumah tangga, pasar ini kini terabaikan, penuh sampah, dan hampir tidak lagi menarik bagi pembeli maupun pedagang.

Seorang pedagang kebutuhan rumah tangga bernama Dani mengingatkan bahwa pasar ini didirikan pada tahun 2005. Pada saat itu, kawasan pasar masih ramai, dipenuhi pembeli yang datang untuk membeli sayur, daging, dan barang‑barang pasar basah.

“Dulu ramai, sisi sana (area yang sekarang kosong dan menjadi tempat sampah) itu dulunya tempat sayur, daging, gitu‑gitu lah. Pasar basah lah kita bilangnya,” ujar Dani ketika ditemui di lokasi pada 15 Juni 2026.

Namun, menurutnya, kondisi pasar tidak bertahan lama. Setiap tahun jumlah pembeli yang datang terus menurun karena pasar tersebut kalah bersaing dengan pasar lain yang berada tidak jauh dari lokasi. Bahkan penurunan jumlah pembeli sudah terjadi sebelum pandemi COVID‑19 pada 2020.

“Kayanya orang pada pilih belanja di Pasar Bantar Gebang. Dari sini naik motor paling 10‑15 menit lah. Mungkin di sana lebih lengkap, kalau di sini kan makin lama makin sedikit penjualnya,” ujarnya.

Masalahnya, ketika jumlah pengunjung pasar turun, pedagang yang tidak mampu bertahan terpaksa menutup usahanya. Sementara dari sudut pandang pembeli, pasar yang tidak lengkap menjadi kurang menarik untuk dikunjungi. Akibatnya jumlah pengunjung semakin sedikit, yang pada akhirnya membuat lebih banyak pedagang tidak mampu bertahan.

Situasi tersebut kemudian menjadi siklus yang terus berulang hingga membuat pasar menjadi sangat mengenaskan. Ditambah dengan tumpukan sampah yang menimbulkan bau busuk, kini para pedagang hanya bisa mengandalkan pelanggan tetap yang merupakan warga sekitar.

“Kalau yang sana (area pasar yang jadi tempat sampah) sudah kosong lama. Kan tiap tahun yang dagang makin dikit, makin pada mepet (pindah lokasi lapak) ke sini semua. Jadi di sana sudah kosong lumayan lama, makanya banyak yang sudah rubuh kan,” terang Dani.

“(Tumpukan sampah) pasti mengganggu. Sekarang pembeli hampir semua langganan sih, kalau pembeli harian gitu jarang banget yang datang. Rata‑rata mereka juga datang pagi doang, kalau siang ke sore sepi banget memang pasar ini, benar‑benar cuma nunggu kalau ada langganan datang saja,” sambungnya.

Ketika ditanya alasan belum pindah meski kondisi Pasar Padurenan Baru sudah sangat mengenaskan, Dani mengatakan para pedagang yang bertahan merupakan “tim inti” yang sudah berjualan di kawasan tersebut sejak pasar didirikan.

“Ini yang masih bertahan bisa dibilang ‘tim inti’-nya sih. Memang rata‑rata ini pedagang yang masih di sini orang lama semua. Jadi mungkin sudah punya langganan masing‑masing,” kata Dani.

Senada, pedagang lain bernama Sumardi mengatakan pasar tersebut memang sudah lama sepi. Bahkan menurutnya omzet yang diperoleh terus merosot sejak awal ia berdagang di sana pada 2006 hingga sekarang.

“Dulu ramai, cuma tiap tahun itu orang turun terus. Tapi yang paling terasa itu dua tiga tahun ke belakang itu jatuh banget. Banyak yang nggak bertahan juga akhirnya,” papar Sumardi.

Ia juga mengatakan satu‑satunya alasan masih bertahan adalah karena memiliki beberapa pelanggan tetap yang menjadi satu‑satu harapan dan sumber pendapatan. Namun, dengan kondisi pasar yang mengenaskan dan berubah menjadi tempat pembuangan sampah seperti sekarang, dirinya tidak keberatan jika sewaktu‑waktu Pasar Padurenan Baru digusur.

“Kalau misalnya ini mau direnovasi jadi bangunan lain, ya sudah, mau gimana lagi? Memang kondisi pasar seperti ini. Soalnya ini tanah pasar sudah ada pemilik barunya kan. Kemarin dia bilang Desember 2025 sudah harus kosong, tapi tiba‑tiba diperpanjang sampai sekarang belum ada kepastian. Mungkin dia bingung juga mau diapakan ini,” terang Sumardi.

Karena hal itulah ia mengaku sudah tidak berharap banyak lagi terhadap pasar tersebut dan hanya berjualan sembari menunggu kiosnya ikut tutup. Begitu pula dengan beberapa pemilik kios lain yang tampak tertidur pulas di dalam toko saat dikunjungi.

“Namanya juga pedagang, kan kita sudah punya konsumen masing‑masing. Kalau pindah kan kita musti cari konsumen baru, iya kalau dapat. Toh sekarang kan memang sudah terlalu banyak pedagang. Apa‑apa sudah online, di dekat sini juga banyak warung sama minimarket,” tuturnya.

Pasar Padurenan Baru menghadapi tantangan penurunan pengunjung, penurunan penjual, dan masalah sampah, yang membuatnya menjadi tempat yang kurang menarik bagi pembeli dan pedagang.

Pasar Padurenan BaruBekasipenurunan pengunjungsampahpandemi COVID‑19Pasar Bantar Gebangrenovasipedagang

Komentar

Memuat komentar...