ULN Indonesia 01 April 2026: Pertumbuhan 1,9% Publik Lebih Besar

Rini S. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
ULN Indonesia 01 April 2026: Pertumbuhan 1,9% Publik Lebih Besar

Gambar atau konten salah?

Bank Indonesia (BI) mencatat posisi utang luar negeri (ULN) negara sebesar US$ 439,8 miliar pada 01 April 2026. Dalam mata uang rupiah, nilai tersebut setara dengan Rp 7.768 triliun jika menggunakan kurs Rp 17.664 per dolar.

Angka tersebut menunjukkan kenaikan 1,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini lebih tinggi dari 1,0% pada 01 Maret 2026. Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan bahwa peningkatan ULN ini dipicu oleh pertumbuhan ULN sektor publik, sementara sektor swasta masih mengalami kontraksi.

ULN pemerintah pada 01 April 2026 berada di US$ 216,4 miliar dan tumbuh 3,7% secara tahunan. “Posisi ULN pemerintah pada April 2026 sebesar US$ 216,4 miliar, atau secara tahunan tumbuh sebesar 3,7% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada Maret 2026 sebesar 3,8% (yoy),” tulis Denny dalam keterangan tertulisnya pada Senin, 15 Juni 2026. Ia menambahkan bahwa pertumbuhan ULN pemerintah didorong oleh perlambatan pinjaman luar negeri.

Di sisi lain, pasar Surat Berharga Negara (SBN) mencatat arus masuk modal asing yang menandakan kepercayaan investor terhadap ekonomi nasional. Denny menjelaskan bahwa ULN ini diarahkan untuk mendukung kredit di sektor produktif dengan memperhatikan aspek keberlanjutan pengelolaan ULN.

Rincian alokasi ULN pemerintah meliputi sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (22,0%), administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (20,5%), jasa pendidikan (16,2%), konstruksi (11,5%), serta transportasi dan pergudangan (8,5%). “Posisi ULN pemerintah tersebut didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,99% dari total ULN pemerintah,” jelasnya.

ULN swasta pada 01 April 2026 tercatat sebesar US$ 193,2 miliar. Pertumbuhan ini mengalami kontraksi 0,7%, lebih rendah dibandingkan kontraksi bulan sebelumnya sebesar 1,4%. Kontraksi ini dipicu oleh ULN kelompok peminjam lembaga keuangan yang turun 5,0% secara tahunan, lebih rendah dari kontraksi 6,3% pada 01 Maret 2026.

Menurut Denny, sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian menyumbang 79,6% dari total ULN swasta. “ULN swasta tetap didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 75,8% terhadap total ULN swasta,” terangnya.

Struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian. Rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) stabil di 29,6% pada 01 April 2026. ULN jangka panjang mendominasi, mencapai 84,5% dari total ULN.

Bank Indonesia dan pemerintah terus memperkuat koordinasi pemantauan perkembangan ULN. “Indonesia akan terus mengoptimalkan peran ULN untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” pungkas Denny.

Perubahan posisi ULN ini menegaskan dinamika utang luar negeri di Indonesia. Sektor publik tetap menjadi pendorong utama, sementara sektor swasta menunjukkan penurunan. Keseimbangan antara utang jangka panjang dan pendek, serta fokus pada sektor produktif, menjadi kunci menjaga kesehatan struktur ULN. Dengan koordinasi yang terus diperkuat, Indonesia berupaya memanfaatkan ULN sebagai alat pendukung pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Utang Luar NegeriBank IndonesiaSektor PublikSektor SwastaJangka PanjangPDBSBN

Komentar

Memuat komentar...