Tiga Saudara Perempuan Temukan Donor Sperma Bersama
Gambar atau konten salah?
Jakarta – Tiga wanita asal Inggris – Natasha, Gemma, dan Helen – tumbuh besar dengan keyakinan kuat bahwa mereka tahu siapa ayah biologis mereka. Namun, rahasia yang tersembunyi puluhan tahun akhirnya terungkap ketika ketiganya memutuskan untuk melakukan tes DNA secara mandiri.
Menurut BBC Health, hasil tes genetik tersebut mengungkapkan fakta yang mengejutkan: ketiga wanita tersebut ternyata lahir dari satu donor sperma asal Wales yang sama. Karena mereka lahir sebelum regulasi ketat diberlakukan di Inggris pada tahun 1991, mereka menyebut diri mereka sebagai generasi dari era “Wild West” atau masa tanpa aturan dalam dunia donor sperma.
Gemma dan Helen awalnya tumbuh bersama di Berkshire dan mengira pria yang membesarkan mereka adalah ayah kandung. Baru pada usia akhir 20-an, mereka diberi tahu bahwa mereka lahir dari bantuan donor, namun detail dokumen klinisnya tidak diketahui karena catatan masa lalu yang sangat terbatas.
Melalui notifikasi kecocokan DNA yang bekerja mirip aplikasi kencan, ketiganya kemudian terhubung dengan saudara perempuan lainnya, termasuk Natasha. Pertemuan pertama mereka digambarkan sangat emosional.
“Bertemu untuk pertama kalinya itu seperti sebuah cerita dongeng, rasanya sangat ajaib, ada air mata kebahagiaan,” kenang Gemma. Hal yang membuat mereka semakin merinding adalah fakta bahwa Gemma dan Natasha ternyata pernah tinggal di gedung asrama yang sama saat berkuliah di Leeds 15 tahun lalu, tanpa pernah tahu bahwa mereka adalah saudara kandung.
Ketiga wanita tersebut kini hidup tidak terpisahkan dan menjuluki diri mereka sebagai “sperm sisters” (saudari sperma). Mereka bahkan meluncurkan sebuah podcast dengan nama yang sama untuk mengejar ketertinggalan waktu selama 30 tahun sekaligus mengedukasi masyarakat.
Menurut Otoritas Fertilisasi dan Embriologi Manusia (HFEA) Inggris, lebih dari 85.000 orang lahir dari perawatan donor sejak regulasi diperketat pada tahun 1991. Hukum Inggris tahun 2005 juga telah melarang donor anonim, sehingga anak yang menginjak usia 18 tahun berhak mengetahui identitas donornya.
Meskipun aturan klinis saat ini sudah jauh lebih baik, ketiga saudari ini mengkhawatirkan maraknya praktik ilegal penyedia donor sperma tidak resmi melalui grup media sosial seperti Facebook. Mereka berharap kisah mereka bisa menjadi peringatan akan pentingnya keterbukaan identitas bagi psikologis anak.
“Kami lahir di era tidak ada aturan. Jika kami bisa menjadi suara bagi generasi anak-anak hasil donor berikutnya, semoga ini bisa menginspirasi para orang tua untuk berpikir dua kali sebelum merahasiakannya,” pungkas Gemma.
Kasus ini menyoroti bagaimana peraturan yang lebih ketat telah mempengaruhi generasi baru. Meskipun perubahan hukum telah menuntun pada transparansi yang lebih besar, masih ada risiko praktik tidak resmi yang dapat menimbulkan dampak psikologis bagi anak. Kesadaran akan identitas donor menjadi penting, tidak hanya untuk hak individu tetapi juga untuk kesehatan mental keluarga yang terbentuk di bawah sistem donor sperma.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Jepang: 95.119 centenarian, pola hidup simpel umur panjang
Tantangan Otak: Mainkan Game Jalur Visual Menantang Konsentrasi
BGN Hentikan MBG Hari Libur, Hemat Rp3 Triliun Operasional
Wabah Kolera di Borno: 90 Kematian, 12.000 Kasus, Kewalahan
Jamu Jadi Warisan Budaya, Standar Keamanan Diperketat
76 Sekolah Hentikan Makan Gratis, 39.352 Siswa Terpengaruh
Berita Terbaru
Tiga Saudara Perempuan Temukan Donor Sperma Bersama
5 Warung Soto Betawi Legendaris Klasik Jakarta Tradisional
KLH Adakan Pertemuan Lintas Agama untuk Moral Ekologis
Guide dan Porter Gunung Rinjani Perlu Kartu Akses Tahunan
Barantum Raih Rating 4,9/5 Google, Jadi CRM Lokal Populer
Timnas PUBG Mobile Indonesia Raih Tiket Asian Games 2026
BEI Tanggapi Penurunan Arus Informasi MSCI Indonesia