Paus Bungkuk Mati Usai Dua Kali Dievakuasi di Pantai Perancak

Rini S. · 2 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Paus Bungkuk Mati Usai Dua Kali Dievakuasi di Pantai Perancak

Gambar atau konten salah?

Seekor paus bungkuk berukuran besar ditemukan terdampar di tepi Pantai Perancak, yang berada di wilayah Jembrana, Bali. Meskipun telah dua kali dievakuasi oleh warga dan petugas, mamalia laut tersebut akhirnya tidak dapat bertahan hidup.

Kejadian bermula pada Selasa, 14 Juli 2020. Sekitar pukul 11.45 Wita, warga setempat bahu-membahu mendorong paus itu kembali ke tengah laut. Namun usaha itu tidak membuahkan hasil. Paus tersebut kembali terdampar di pantai yang sama, di Kecamatan Jembrana.

"Siang tadi saya berlima mendorong paus ke tengah. Namun setelah sampai agak ke tengah, kembali terdampar hingga posisi sekarang ini," kata Nengah Padmasana, seorang warga yang ditemui di lokasi.

Pantauan di tempat kejadian sekitar pukul 13.30 Wita menunjukkan paus masih dalam kondisi hidup di pinggir pantai. Petugas bersama warga terus berupaya memberikan pertolongan. Sayangnya, air laut yang mulai surut membuat segala usaha menjadi sia-sia.

Padmasana menambahkan bahwa warga di sekitar Pantai Perancak terus bekerja sama agar paus bisa kembali ke habitatnya dan tetap bertahan hidup. Sementara itu, personel kepolisian tampak mengamankan lokasi yang terus didatangi warga yang penasaran.

"Sekarang kami amankan lokasi dulu sambil menunggu petugas (terkait). Untuk jenis (paus) belum kami ketahui," ujar Suparta singkat.

Upaya penyelamatan akhirnya berakhir dengan kabar duka. Mamalia laut yang diidentifikasi sebagai paus bungkuk atau humpback whale itu dinyatakan mati setelah dua kali dievakuasi oleh warga dan petugas gabungan.

Sebelumnya, tim dari Jaringan Satwa Indonesia (JSI) bersama aparat dan masyarakat telah melakukan berbagai langkah penyelamatan darurat. Petugas sempat memeriksa kondisi fisik paus, mengukur tubuhnya, dan membuat kubangan darurat agar tubuh mamalia raksasa itu tetap lembap sambil menunggu air laut pasang.

Dari hasil pengukuran, paus yang juga dikenal sebagai jenis paus belin ini memiliki panjang mencapai 7,7 meter. Namun jenis kelaminnya belum bisa dipastikan.

"Belum diketahui jenis kelamin jantan atau betina karena posisinya masih lurus," ungkap dokter hewan dari JSI, drh. Farida Ulya Nugrahatin saat ditemui di lokasi pada Selasa, 14 Juli 2020.

Kendati segala upaya penyelamatan telah dikerahkan secara maksimal, mamalia laut itu akhirnya mati. Kondisi paus yang sudah terlalu lama terdampar di daratan membuat kondisinya terus melemah.

Kapolsek Jembrana, AKP I Putu Suparta, mengonfirmasi bahwa paus tersebut dinyatakan mati pada sore hari. "Segala upaya sudah dilakukan untuk menyelamatkan paus tersebut, namun karena kondisi yang sudah lama terdampar, paus akhirnya mati. Informasi awal paus itu mati sekitar pukul 15.30 Wita," kata Suparta.

Saat ini, petugas di lapangan tengah melakukan proses nekropsi—semacam otopsi pada hewan—sebelum dilakukan penguburan. Langkah ini diambil untuk mencegah terjadinya pencemaran lingkungan akibat bangkai paus yang membusuk.

"Saat ini pihak JSI masih melakukan proses nekropsi sebelum dikuburkan. Untuk alat berat juga sudah menyiapkan lubang untuk bangkai paus ini," tandas Suparta.

Peristiwa paus terdampar di Bali ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Paus bungkuk sendiri termasuk mamalia laut yang sering bermigrasi jarak jauh. Ketika terdampar, faktor seperti sakit, kebingungan akibat kebisingan bawah laut, atau perubahan arus bisa menjadi penyebabnya. Kasus ini menunjukkan betapa sulitnya upaya penyelamatan mamalia laut berukuran besar ketika kondisi alam tidak mendukung.

paus bungkukterdamparPantai PerancakBalievakuasimatipenyelamatan

Komentar

Memuat komentar...