Pendapatan BUMA turun 16% di FY2025, arus kas positif

Rizki W. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 95 dibaca
Bisik.id
Pendapatan BUMA turun 16% di FY2025, arus kas positif

Gambar atau konten salah?

Pendapatan PT BUMA Internasional Grup Tbk pada tahun fiskal 2025 turun 16% dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai US$1,48 miliar. Penurunan ini terutama disebabkan oleh volume kerja yang lebih rendah, meskipun Average Selling Price (ASP) kontraktor tambang tetap stabil dengan penurunan hanya 1% YoY. Perubahan ini didukung oleh peningkatan porsi kontrak rise-and-fall, yang membantu menjaga harga jual tetap konsisten.

Ekuitas EBITDA juga mengalami penurunan, jatuh ke US$175 juta dengan margin sebesar 14%. Penurunan ini dipengaruhi oleh volume yang lebih rendah, biaya pesangon yang meningkat, serta kenaikan biaya bahan bakar. Jika biaya pesangon tidak dipertimbangkan, EBITDA akan berada di US$207 juta dengan margin 17%, menunjukkan dampak signifikan dari biaya tersebut.

Grup mencatat rugi bersih sebesar US$128 juta, yang dipicu oleh penurunan EBITDA, penyisihan piutang usaha dari kontrak di Australia yang telah berakhir, serta penurunan nilai aset pada operasional di Australia dan Amerika Serikat. Faktor-faktor ini menambah beban keuangan yang harus diatasi.

Direktur BUMA International Group Iwan Fuad Salim mengungkapkan bahwa sebagian faktor tersebut diimbangi oleh keuntungan nilai wajar sebesar US$41 juta dari investasi Grup di 29Metals. Selama tahun, harga saham 29Metals pulih, dan grup juga memperoleh keuntungan selisih kurs sebesar US$36 juta—berbalik dari kerugian US$19 juta pada FY24 menjadi keuntungan US$17 juta pada FY25. Selain itu, pembalikan pencadangan piutang di Australia terjadi setelah putusan Mahkamah Agung Queensland memenangkan BUMA Australia, dengan penyelesaian keuangan yang diharapkan terealisasi di 2026.

Arus kas bebas (free cash flow) Grup menunjukkan perbaikan signifikan, menjadi positif US$8 juta dibandingkan negatif US$60 juta pada FY2024. Pada kuartal keempat 2025, arus kas bebas mencapai US$57 juta, menjadi pencapaian kuartalan tertinggi sepanjang tahun. Hal ini menandakan peningkatan likuiditas yang kuat.

Belanja modal (capex) tetap terjaga secara disiplin, sebesar US$179 juta, relatif stabil YoY. Alokasi dana seimbang antara kebutuhan pemeliharaan (maintenance) dan pertumbuhan (growth), menunjukkan kebijakan investasi yang terukur.

Operasional Grup menunjukkan peningkatan progresif sepanjang tahun. Overburden removal meningkat dari 76 MBCM pada kuartal pertama 2025 menjadi 79 MBCM pada kuartal keempat. Peningkatan ini didukung oleh perbaikan terarah pada perencanaan, pelaksanaan shift yang lebih disiplin, pelaksanaan maintenance, serta penyelesaian hambatan operasional (bottlenecks). Dari Januari 2025 hingga Januari 2026, jam kerja alat meningkat 6%, waktu henti (downtime) berkurang 31%, jam non-produktif turun 17%, dan cycle time membaik 3%. Akibatnya, biaya unit (unit cost) turun dari US$2,22/BCM pada kuartal pertama 2025 menjadi US$1,83/BCM pada kuartal keempat 2025.

Di tingkat Grup, perbaikan-perbaikan ini menghasilkan kinerja keuangan yang semakin kuat secara progresif. EBITDA meningkat dari US$14 juta pada kuartal pertama 2025 menjadi US$48 juta pada kuartal keempat 2025, mencerminkan perbaikan bertahap (sequential improvement) yang kuat sepanjang tahun.

“Kami merespons dengan cepat melalui pengetatan disiplin operasional, penguatan pengendalian biaya dan fundamental pemeliharaan, serta pengambilan langkah-langkah tegas guna menjaga likuiditas dan memperkuat neraca keuangan. Langkah-langkah tersebut mendorong peningkatan produktivitas, biaya, dan arus kas sepanjang tahun, serta memberikan fondasi yang lebih kuat saat kami memasuki 2026,” kata dia dalam siaran pers, ditulis Minggu (29 Maret 2026).

Selama FY2025, Grup menyelesaikan sejumlah inisiatif pendanaan untuk memperkuat likuiditas dan memperpanjang profil jatuh tempo utangnya. Pada bulan Februari, PT Bank Central Asia Tbk bergabung dengan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dalam fasilitas sindikasi sebesar US$1 miliar, yang memperluas basis pendanaan Grup.

Di bulan Maret, Grup menerbitkan Sukuk Ijarah sebesar Rp2 triliun (US$121,7 juta), yang merupakan Sukuk Ijarah Korporasi Syariah Berperingkat A+ terbesar dalam Satu Kali Penerbitan di Indonesia. Di bulan Oktober, Grup menerbitkan Obligasi III BUMA Tahun 2025 sebesar Rp884 miliar (US$53,8 juta).

Di bulan November, Grup melunasi lebih awal Senior Notes sebelum jatuh tempo senilai US$212 juta, meningkatkan likuiditas dan fleksibilitas struktur permodalan. Secara keseluruhan, langkah-langkah ini memosisikan Grup dengan profil jatuh tempo utang yang lebih seimbang.

Sepanjang FY2025 hingga awal 2026, Grup berhasil mengamankan tiga kontrak signifikan yang mencakup operasional di Indonesia dan Australia. BUMA Australia memperoleh perpanjangan kontrak sekitar A$740 juta di Blackwater Mine hingga Juni 2030, serta perpanjangan kontrak di Goonyella Riverside Mine hingga September 2027. Setelah penutupan tahun buku, BUMA mengamankan kontrak jangka panjang dengan PT Adaro Indonesia di Tambang Tutupan Selatan hingga Desember 2030, mencakup sekitar 239 MBCM overburden removal dan 44 juta ton produksi batu bara, memperpanjang kemitraan yang telah terjalin selama lebih dari 20 tahun.

Secara keseluruhan, PT BUMA Internasional Grup Tbk menunjukkan perbaikan operasional dan keuangan yang konsisten. Penurunan pendapatan dan EBITDA diimbangi oleh langkah-langkah pengendalian biaya, peningkatan efisiensi operasional, dan strategi pendanaan yang kuat. Dengan kontrak jangka panjang yang teramankan dan arus kas bebas yang positif, Grup mempersiapkan fondasi yang lebih stabil untuk memasuki tahun fiskal berikutnya.

Pendapatan BUMA 2025EBITDAArus kas bebasSukuk IjarahObligasi BUMAKontrak AustraliaLikuiditas

Komentar

Memuat komentar...