Pertamina Ajak Anak Pesisir Belajar Alam dan Ekonomi

Bambang W. · 2 min baca · 1 jam lalu · 19 dibaca
Bisik.id
Pertamina Ajak Anak Pesisir Belajar Alam dan Ekonomi

Gambar atau konten salah?

PT Pertamina Patra Niaga menjalankan program pemberdayaan masyarakat di wilayah pesisir. Program ini bernama Sekolah Alam Anak Pesisir dan berlokasi di Desa Cendi Manik, Nusa Tenggara Barat. Sudah berjalan sejak 2014.

Program ini menggabungkan tiga hal: pendidikan, pelestarian lingkungan, dan penguatan ekonomi warga. Menurut Dian Hapsari Firasati, VP Community Involvement Development PT Pertamina Patra Niaga, inisiatif ini adalah bagian dari upaya perusahaan untuk memberikan manfaat jangka panjang. Caranya dengan mengembangkan potensi masyarakat dan memperbaiki akses pendidikan.

"Melalui Program Sekolah Alam Anak Pesisir, kami ingin menghadirkan ruang belajar yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, kreativitas, dan kemandirian anak-anak. Kami percaya bahwa pemberdayaan yang mengintegrasikan pendidikan, ekologi, dan ekonomi dapat menciptakan dampak berkelanjutan bagi masyarakat pesisir," kata Dian dalam keterangan tertulis pada Minggu, 11 Oktober 2026.

Program ini menjangkau 135 penerima manfaat. Alam dijadikan ruang belajar bagi anak-anak pesisir. Dengan pendekatan ini, anak-anak tidak cuma belajar di dalam kelas. Mereka juga belajar tentang ekosistem mangrove, menjaga lingkungan, mengembangkan kreativitas, dan memahami potensi ekonomi di daerah tempat mereka tinggal.

Dari sisi lingkungan, program ini sudah mendukung penanaman 4.500 bibit mangrove. Ini untuk rehabilitasi pesisir. Potensi penyimpanan karbonnya mencapai 80,763 ton CO₂ per hektare. Dari sisi pendidikan, sebanyak 1.772 peserta sudah terlibat dalam 11 kegiatan pembelajaran pesisir. Ada 860 kunjungan per tahun ke destinasi edukasi mangrove dan pesisir.

Dari sisi ekonomi, program ini menghasilkan tambahan pendapatan kelompok berbasis potensi lokal sebesar Rp 24 juta per tahun. Ada juga efisiensi biaya energi sebesar Rp 6,6 juta per tahun. Efisiensi ini berasal dari pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Program ini juga memperkuat kolaborasi dan partisipasi masyarakat dalam mengelola kawasan pesisir.

Apa yang membuat Sekolah Alam Anak Pesisir unik? Pendekatan pembelajarannya menggunakan konsep 3E: Ekologi, Edukasi, dan Ekonomi. Kawasan mangrove, pesisir, dan ruang terbuka dipakai sebagai media belajar langsung. Anak-anak bisa menanam dan merawat mangrove, mengenal ekosistem pesisir, memainkan permainan tradisional, hingga memahami potensi ekonomi lokal.

Pengembangan program dilakukan bertahap. Pada 2024, kegiatan difokuskan pada pembentukan kelompok, pembangunan Rumah Literasi sebagai ruang pembelajaran, dan peningkatan kapasitas melalui benchmarking ke Anak Alam Learning House di Sumbawa, NTB. Pada 2025, program mengembangkan Kurikulum 3E sebagai acuan pembelajaran. Pada 2026, pengembangan Pertakid dilakukan sebagai media pembelajaran bagi peserta didik Sekolah Alam Anak Pesisir.

Program ini menunjukkan bagaimana pendekatan terpadu bisa berjalan. Pendidikan, lingkungan, dan ekonomi tidak dipisahkan. Ketiganya dijalankan bersamaan untuk masyarakat pesisir. Hasilnya terlihat dari jumlah bibit mangrove yang ditanam, peserta yang terlibat, dan tambahan pendapatan yang dihasilkan.

Pemberdayaan MasyarakatSekolah Alam Anak PesisirPendidikan LingkunganMangroveEkonomi PesisirPertaminaKeberlanjutan

Komentar

Memuat komentar...