Target PLTS 100 GWp Terkendala Jaringan dan Pendanaan

Yanto K. · 3 min baca · 1 jam lalu · 13 dibaca
Bisik.id
Target PLTS 100 GWp Terkendala Jaringan dan Pendanaan

Gambar atau konten salah?

Target pemerintah untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 100 gigawatt peak (GWp) menghadapi kendala yang tidak sederhana. Bukan cuma soal membangun panel surya. Sistem kelistrikan nasional juga harus sanggup menyalurkan dan menyimpan energi yang dihasilkan. Ini masalah besar.

Di Asia Tenggara, kebutuhan listrik tumbuh lebih cepat daripada pembangunan transmisi terpusat. Solusinya? Pembangkit listrik terdistribusi. Misalnya PLTS atap dan jaringan mini. Ditambah dengan sistem penyimpanan energi baterai atau Battery Energy Storage System (BESS). Ini dinilai sebagai salah satu jalan keluar.

Persoalan ini dibahas dalam forum bertajuk Distributed Power Generation and Battery Energy Storage. Forum digelar Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) bersama Tenggara Strategics di Bangkok Climate Action Week 2026, Bangkok, Thailand.

Ketua Umum AESI Mada Ayu Habsari bilang target PLTS 100 GWp juga soal pemerataan akses energi. Termasuk untuk desa-desa terpencil yang mengandalkan pertanian dan perikanan. "Inklusi sosial dan ketahanan energi adalah semangat dari target 100GWp, termasuk menghadirkan energi melalui program elektrifikasi desa. Sebagian besar desa tersebar di daerah terpencil dan bergantung pada sektor pertanian dan perikanan lokal, sehingga penggunaan PLTS untuk kegiatan produktif merupakan solusi yang tepat. Pengalaman Indonesia dalam memberdayakan masyarakat membuktikan bahwa tantangan penyediaan kelistrikan di kawasan Asia Tenggara sejatinya seragam, mulai dari penyesuaian regulasi, proses perizinan, hingga struktur kontrak," ujar Mada. "Melalui forum ini, AESI mengajak pemangku kepentingan regional menyelaraskan langkah. Dengan perizinan yang adaptif dan agregasi proyek, kita dapat mengubah tantangan ini menjadi daya tarik bagi modal global."

Direktur Eksekutif Earth Sherpa Hirotaka Koike menambahkan, proyek energi skala komunitas tidak bisa sukses tanpa kondisi lapangan yang mendukung dan kebijakan pemerintah yang jelas. "Tantangan operasional di lapangan seringkali luput dari diskusi kebijakan makro. Kunci keberhasilan proyek skala komunitas terletak pada pembangunan ekosistem lokal yang mendukung, serta sinyal politik nasional yang kuat untuk mewujudkan visi sistem energi tersebut," tegasnya.

Deputy Program Director New Energy Nexus Zhou Yu punya pandangan lain. Menurutnya, elektrifikasi berbasis komunitas bisa menggabungkan sumber energi surya atap dari berbagai lokasi. Hasilnya? Satu portofolio proyek yang lebih menarik bagi investor. "Model elektrifikasi berbasis komunitas memiliki peran penting dalam mengagregasi sumber daya surya atap yang terfragmentasi menjadi portofolio yang layak investasi. Selain itu, model ini memastikan akses energi bersih yang andal dan terjangkau bagi masyarakat di wilayah terpencil dan kepulauan, di mana perluasan jaringan konvensional dinilai kurang ekonomis," tambahnya.

Soal Pendanaan dan Keamanan Baterai

Pembangunan pembangkit dan jaringan saja tidak cukup. Pendanaan juga jadi tantangan besar. Terutama untuk proyek energi terbarukan skala kecil. Biaya pengembangannya relatif tinggi. Karena itu, menggabungkan sejumlah proyek dalam satu portofolio dinilai bisa membantu menarik investor.

Senior Manager Climate Policy Initiative (CPI) Indonesia Luthfyana Kartika Larasati menjelaskan, skema pendanaan campuran atau blended finance bisa dipakai untuk mengurangi risiko awal proyek. "Aset energi terbarukan terdistribusi sering kali berskala kecil dengan biaya pengembangan yang cukup tinggi. Oleh karena itu, modal konsesional harus ditargetkan spesifik untuk memitigasi risiko awal dan merangkum aset-aset kecil ini menjadi satu portofolio terpadu," ujar Luthfyana. "Pendekatan agregasi ini akan menciptakan skala investasi yang memadai dan secara efektif menarik keterlibatan pemodal institusional."

Dari sisi teknis, Principal Strategist Energy Transition Forum for the Future SE Asia sekaligus President dan CTO Nascent Technologies Corp. Dr. Joey Ocon menyoroti standar keamanan dan daur ulang baterai. Ini penting sebelum proyek penyimpanan energi berkapasitas besar beroperasi. "Asia Tenggara tidak perlu merumuskan aturan baru terkait baterai, melainkan cukup mengadopsi standar yang telah teruji sebelum proyek berskala gigawatt beroperasi: sertifikasi keseluruhan sistem berdasarkan data uji ketahanan api yang nyata, libatkan otoritas pemadam kebakaran dalam penentuan lokasi, dan pastikan setiap baterai memiliki penanggung jawab di akhir masa pakainya. Memprioritaskan standar keamanan dan daur ulang sejak awal adalah kunci agar penyebaran sistem penyimpanan energi ini dapat bertahan dalam jangka panjang."

Intinya, target 100 GWp PLTS bukan sekadar angka. Ini menyangkut bagaimana listrik sampai ke desa-desa terpencil, bagaimana proyek kecil bisa digabung jadi portofolio besar, dan bagaimana baterai dikelola dengan aman. Semua harus berjalan seiring. Tanpa itu, target hanya akan tinggal wacana.

PLTSenergi suryabateraidesa terpencilelektrifikasipendanaankeamanan

Komentar

Memuat komentar...