Pertamina EP Rantau Bor 5 Sumur Baru Usai Banjir

Andi B. · 4 min baca · 1 jam lalu · 24 dibaca
Bisik.id
Pertamina EP Rantau Bor 5 Sumur Baru Usai Banjir

Gambar atau konten salah?

Di tengah proses pemulihan setelah banjir besar yang melanda Aceh Tamiang, Pertamina EP Rantau Field tetap melanjutkan pengeboran sumur-sumur baru. Produksi minyak kini sudah kembali stabil, mencapai 1.700 barel per hari. Angka ini diraih setelah perusahaan menyelesaikan program pemulihan bertahap dan tiga sumur bor baru.

Tomi Wahyu Alimsyah, Field Manager Pertamina EP Rantau, menjelaskan bahwa pemulihan pascabencana dilakukan secara berkelanjutan. Dalam waktu empat bulan, produksi sudah kembali seperti sebelum banjir. Bahkan, perusahaan saat ini sudah memulai pengeboran lima sumur baru di wilayah kerjanya.

"Meski masih dalam masa pemulihan pascabanjir, kami tetap melakukan pengeboran untuk menemukan cadangan migas baru dan mempertahankan produksi. Penajakan sumur baru ini sangat penting untuk penyediaan energi nasional," kata Tomi dalam keterangannya pada Minggu, 11 Oktober 2026.

Dua sumur, yaitu RNT DZ-51 dan RNT DZ-52, berada di Kampung Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang. Keduanya dibor menggunakan Rig APS-752 berkekuatan 550 HP. Kedalaman akhir RNT DZ-51 mencapai 1.145 MMD, sementara RNT DZ-52 mencapai 1.037 MMD.

Tiga sumur lainnya—RNT DZ-11, RNT DZ-23A, dan RNT DZ-33—berada di Kampung Paya Meta, Kecamatan Karang Baru. Sumur RNT DZ-11 dibor dengan Rig TMMJ-12 berkapasitas 550 HP hingga kedalaman 1.132 MMD. Dua sumur sisanya masih dalam proses pengeboran.

Keberhasilan menajak lima sumur baru ini, menurut Tomi, ikut berkontribusi menjaga produksi di PEP Rantau Field. Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi nasional untuk memperkuat ketahanan energi dan menggali potensi cadangan migas di Aceh Tamiang.

Pertamina EP Rantau Field, yang merupakan bagian dari Pertamina Subholding Upstream Regional 1 Zona 1 (PHR Zona 1), selalu berpegang pada prinsip Environmental, Social and Governance (ESG) dalam setiap kegiatan operasi dan bisnisnya.

Tomi memastikan seluruh pekerja di atas rig sudah mengikuti pelatihan wajib Health, Safety, Security and Environment (HSSE). Pelatihan itu mencakup Basic HSSE Training, Corporate Life Saving Rules (CLSR), Pertamina Well Control (PETROL), serta sertifikasi keahlian di bidang pengeboran.

"Kolaborasi dengan kontraktor penyedia jasa rig dan dukungan penuh dari SKK Migas adalah bagian dari komitmen bersama menjaga ketahanan dan keberlanjutan energi nasional," jelasnya.

Sebelum mengebor lima sumur baru, Pertamina EP Rantau Field melakukan pemulihan pascabanjir secara bertahap. Ada empat fase yang diterapkan: fase darurat, fase reaktivasi, fase pemulihan, dan fase keberlanjutan. Fase-fase ini mencakup penanganan keselamatan, perbaikan fasilitas, hingga penguatan sistem operasional jangka panjang.

"Tahap awal fokus pada kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, kesehatan, dan listrik. Setelah kondisi membaik, tim bergerak mengaktifkan fasilitas dan sumur-sumur produksi," ujar Tomi.

Tim Pertamina EP Rantau Field melakukan berbagai cara agar pulih lebih cepat dari banjir. Salah satunya dengan menghidupkan kembali pembangkit listrik yang menjadi jantung operasi PEP Rantau Field.

Menurut Tomi, menghidupkan listrik adalah bagian penting untuk menggerakkan fasilitas umum dan peralatan produksi. Saat listrik mati, air bersih ikut hilang karena instalasi pengolahan air (WTP) juga terendam dan pompa tidak bisa bekerja. Produksi minyak pun berhenti total.

"Pembangkit listrik di sini menggunakan gas dari sumur yang sudah direaktivasi. Akibat banjir, HPCS yang kami miliki rusak berat. Kami melakukan berbagai inovasi untuk bisa menghidupkan listrik lagi," imbuhnya.

Setelah analisis matang, mereka memutuskan tidak mengaktifkan kembali HPCS (High Pressure Compressor Station) yang sebelumnya menjadi sumber tunggal pasokan gas untuk pembangkit listrik. Dengan semangat inovasi, mereka mencari pengganti dan menemukan bahwa SP-5, dengan sedikit modifikasi, ternyata bisa mengambil alih fungsi HPCS untuk menghidupkan listrik.

Saat ini, HPCS belum aktif. Pasokan gas datang dari SP-5 dan SP-1, dua sekaligus.

"Setiap ujian pasti ada hikmah. Salah satunya, kami melakukan simplifikasi di beberapa fasilitas. Setelah listrik teratasi, produksi yang sempat nol barel perlahan mulai naik," ujarnya.

Pada Mei dan Agustus 2026, produksi bahkan menyentuh 2.000 barel per hari. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kondisi sebelum banjir. Kini produksi minyak PEP Rantau Field stabil di 1.700 barel per hari.

Tomi menuturkan, banyak pihak menganggap pemulihan pascabencana ini tergolong cepat—hanya empat bulan. Padahal, perkiraan awal menyebut butuh waktu satu hingga tiga tahun untuk pulih.

"Pemulihan cepat ini bisa terwujud karena bantuan personil dari berbagai wilayah operasi Pertamina. Seperti Pangkalan Susu, Jambi, Lirik, Ramba, dan sejumlah lapangan lainnya ikut terlibat aktif dalam pemulihan fasilitas Rantau Field. Pertamina ini satu keluarga, jika satu tertimpa musibah, yang lain datang membantu," katanya.

Atas keberhasilan ini, SKK Migas memberikan penghargaan kepada Pertamina EP Rantau Field pada Rabu, 08 April 2026. Penghargaan ini sebagai apresiasi atas kinerja percepatan pemulihan produksi pascabanjir besar Aceh Tamiang yang terjadi pada akhir November 2025.

Sebelumnya, banjir besar dengan ketinggian 4 hingga 4,5 meter dan endapan lumpur setebal 30 hingga 80 sentimeter telah berdampak pada fasilitas produksi, perkantoran, dan permukiman pekerja. Pemulihan yang berhasil dilakukan dalam waktu singkat menunjukkan efektivitas koordinasi dan inovasi teknis di lapangan, terutama dalam mengatasi kerusakan infrastruktur kritis seperti pembangkit listrik.

Pertamina EP Rantau Fieldpengeboran sumur barupemulihan pascabanjirproduksi minyak stabilAceh Tamiangketahanan energi nasionalESG

Komentar

Memuat komentar...