Pertamina dan DOE Tingkatkan Kerja Sama Energi di Washington
Gambar atau konten salah?
Di Washington D.C., PT Pertamina (Persero) bertemu dengan U.S. Department of Energy (DOE) pada 11 Mei 2026, menindaklanjuti arahan Presiden setelah kunjungan kerja ke Amerika Serikat pada Februari 2026. Pertemuan ini merupakan bagian dari upaya Pertamina memperkuat hubungan Indonesia‑Amerika Serikat melalui pencarian kerja sama strategis di sektor energi.
Diskusi menyoroti penguatan kerja sama perdagangan energi, keamanan pasokan energi, pengembangan teknologi migas, serta peluang kolaborasi pengembangan migas non konvensional. Semua topik berfokus pada peningkatan kapasitas dan ketahanan energi nasional.
Oki Muraza, Wakil Direktur Utama Pertamina, menegaskan: “Amerika Serikat merupakan salah satu mitra strategis Pertamina dalam mendukung ketahanan energi nasional. Indonesia adalah salah satu negara dengan pertumbuhan konsumsi energi tercepat di kawasan Asia Pasifik, sehingga membutuhkan pasokan energi yang aman, terjangkau, dan berkelanjutan. Karena itu, Pertamina terus memperkuat kemitraan strategis dengan Amerika Serikat untuk mendukung keamanan pasokan energi, pengembangan teknologi, serta peningkatan kapasitas sektor energi nasional.”
Amerika Serikat saat ini menjadi salah satu pemasok energi utama bagi Pertamina. Lebih dari 70 persen impor LPG Indonesia berasal dari Amerika Serikat, dengan volume mencapai lebih dari 5 juta MT pada tahun 2025.
Untuk menjaga kepastian pasokan energi dan mendukung stabilitas harga domestik, Pertamina mendorong penguatan kerja sama jangka panjang melalui skema long‑term contract (LTC) dengan produsen dan eksportir energi asal Amerika Serikat.
Selain LPG, Pertamina terus menjajaki impor minyak mentah dari Amerika Serikat. Seiring pengembangan kapasitas kilang nasional melalui program Refinery Development Master Plan (RDMP), Pertamina melihat peluang peningkatan pengolahan crude jenis light sweet crude seperti WTI dari Amerika Serikat.
Dalam pertemuan tersebut, Pertamina dan DOE juga membahas peluang knowledge sharing terkait pengelolaan Strategic Petroleum Reserve (SPR) dan pengembangan infrastruktur penyimpanan energi guna memperkuat ketahanan energi nasional serta mengantisipasi potensi gangguan pasokan global.
Selain penguatan perdagangan energi, Pertamina turut mendorong kolaborasi dengan perusahaan‑perusahaan energi Amerika Serikat dalam pengembangan sumber daya migas non konvensional di Indonesia. Potensi kerja sama mencakup transfer teknologi, pilot project, investasi sektor hulu, pengembangan kapabilitas sumber daya manusia, hingga teknologi pengeboran dan completion.
Pertamina juga terus memperkuat kolaborasi teknologi dengan perusahaan energi Amerika Serikat pada pengembangan digital oilfield, reservoir optimization, dan advanced drilling technology guna mendukung peningkatan produksi migas konvensional nasional.
Arya Dwi Paramita, Corporate Secretary PT Pertamina (Persero), menyatakan bahwa penguatan hubungan energi Indonesia dan Amerika Serikat menjadi momentum penting untuk mendorong kolaborasi yang memberikan nilai tambah bagi ketahanan energi nasional. “Pertamina memandang kerja sama ini sebagai peluang untuk mempercepat pengembangan teknologi migas, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta membuka akses investasi yang mendukung kemandirian dan keberlanjutan energi nasional,” ujar Arya.
Pertemuan dihadiri oleh Oki Muraza, Arya Dwi Paramita, serta sejumlah pejabat DOE, antara lain Deputy Assistant Secretary for Asia and the Americas, Elizabeth Urbanas; Deputy Assistant Secretary for International Cooperation, Aleshia Duncan; dan Director of Asian Affairs, Margaux Murali.
Perbincangan ini menegaskan bahwa Pertamina berkomitmen untuk memperluas jaringan kerja sama energi dengan negara maju, sambil memastikan pasokan energi yang aman dan teknologi yang mendukung pembangunan nasional. Kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi Indonesia dan membuka peluang investasi baru di sektor migas.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait