Petani Maritengngae Kebutuh Perbaikan Irigasi & Benih Jagung
Gambar atau konten salah?
Petani Desa Maritengngae di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, mengeluh hanya bisa panen sekali setahun karena saluran irigasi sekunder yang tidak berfungsi selama 8 tahun terakhir. Mereka meminta saluran irigasi segera diperbaiki dan juga bantuan bibit.
“Itu warga menyampaikan ke saya terkait irigasi yang sudah tidak maksimal sehingga air tidak sampai ke warga,” kata Kepala Desa (Kades) Maritengngae Syamsul Taju kepada petugas pada 16 April 2026. Ia menjelaskan bahwa masalah ini sudah dibawa ke rapat dengar pendapat (RDP) DPRD Pinrang. Menurutnya, petani Desa Maritengngae terakhir kali dapat melakukan panen dua kali setahun pada tahun 2017.
Syamsul menambahkan, “Kondisi irigasi yang sudah tua kan itu sejak 1947 jadi sudah tidak maksimal dan air tidak sampai ke sawah warga. Makanya jika dulu bisa panen dua kali setahun sekarang sisa sekali setahun. Ya kurang lebih terakhir 2017 panen dua kali, setelah itu hanya sekali setahun.”
Selain saluran yang tua, kondisi lahan sawah yang bertambah juga menjadi tantangan. Karena itu warga hanya mengandalkan air hujan dan pompanisasi listrik. “Jadi itu warga bergantung air hujan dan ada juga yang pompanisasi listrik sebagian,” jelas Syamsul.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Pinrang dapat membantu mencari solusi agar perbaikan irigasi dapat dilakukan secara jangka panjang. Untuk solusi jangka pendek, ia menuntut bantuan benih jagung agar warga tetap dapat memanfaatkan lahan pertanian. “Memang ini informasinya butuh dana besar dan ini kewenangan dari BBWS Pompengan Jeneberang. Ya, kalau kami selain solusi perbaikan irigasi, juga ada bantuan benih jagung ke warga sehingga tetap dapat memanfaatkan lahan secara maksimal,” terangnya.
Di sisi lain, Secretaris Komisi II DPRD Pinrang Baharuddin Pasi mengaku telah berulang kali memperjuangkan perbaikan saluran irigasi sekunder ke Balai Besar Pompengan Jeneberang. Ia menegaskan bahwa informasi terakhir yang diterimanya adalah pengerjaan perbaikan akan dimulai pada tahun 2027. Namun, ia menambahkan bahwa anggaran terdampak efisiensi. “Meski begitu, kami tidak akan pernah berhenti memperjuangkan saluran irigasi Suppa ini karena kondisinya memang sudah sangat parah,” jelasnya.
Dengan saluran irigasi yang tidak berfungsi, petani di Desa Maritengngae terpaksa mengandalkan hujan dan listrik untuk irigasi. Kebutuhan akan perbaikan dan bantuan bibit menjadi titik krusial bagi kelangsungan pertanian di wilayah tersebut.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bulan Muharram: Larangan dan Amalan yang Harus Diikuti
1 Muharram Jadi Hari Libur Nasional 2026 Tanpa Cuti Bersama
Muharram: Bulan Mulia, Pahala Ganda bagi Semua Muslim
Cek Status PIP Juni 2026: Cara Online dan Pencairan
Puasa 1 Muharram: Keutamaan Penghapusan Dosa Masa Awal Tahunan
Gempa 4,8 M di Manokwari, Papua Barat, Dirasakan MMI II‑III
Berita Terbaru
Jadwal Salat Denpasar 05 Juni 2026: Subuh, Zuhur, Asar
Jakarta Menang di Short Course, Ade Jona Cita Olimpiade
BMKG Prediksi Cuaca Jawa Timur 5 Juni 2026: Variasi Tinggi
McDonald's Indonesia Gelar Kampanye FIFA World Cup 2026
ORADO Resmi Jadi Anggota KONI, Domino Menjadi Olahraga Nasional
Suporter AS Kekecewa: Tempat Duduk Piala Dunia 2026 Terbagi
Batam Siapkan Jalan & Landfill TPA Telaga Punggur, Rp45,45 M
Jadwal Sholat Jumat 5 Juni 2026 Lengkap di Jawa Timur
