PHK Massal di Indonesia: Tekstil dan Plastik Terancam

Ani R. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 104 dibaca
Bisik.id
PHK Massal di Indonesia: Tekstil dan Plastik Terancam

Gambar atau konten salah?

Ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal di Indonesia diprediksi akan muncul dalam tiga bulan ke depan, menandai dampak langsung dari ketegangan di Timur Tengah. Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengingatkan bahwa perang di wilayah tersebut dapat memaksa perusahaan menurunkan tenaga kerja secara drastis.

Serikat pekerja sudah dibawa berdiskusi dengan perwakilan perusahaan mengenai kemungkinan pengurangan staf. Presiden KSPI, Said Iqbal menegaskan bahwa sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) menjadi yang paling rentan. Ia mengatakan: “Tapi realitanya, laporan dari anggota KSPI, bukan orang lain, serikat pekerja di perusahaan, terutama di sektor industri TPT, tekstil dan produk turunannya. Benang, kain, dan polyester dan sebagainya.”

Konferensi pers virtual berlangsung pada Senin, 4 Mei 2026. Di sana, Said Iqbal menambahkan bahwa industri plastik juga berada di garis depan ancaman PHK. Harga bahan baku impor, khususnya polimer dan petrokimia, telah melonjak karena pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Ia menjelaskan: “Kemudian industri plastik, karena harga bahan baku plastik naik tajam, sehingga industri kesulitan. Dia kan bahan bakunya impor, polimer impor, petrokimia banyak yang impor. Begitu diproduksi, impor kan berarti beli barangnya pake dolar, jualnya di pasar domestik pakai rupiah, sedangkan harga rupiah anjlok terhadap dolar, ya buntung lah, makanya harga plastik naik.”

Penurunan daya beli masyarakat akibat harga plastik yang naik hingga 50% juga menjadi faktor penting. Said Iqbal menyebut contoh ibu-ibu di pasar yang beralih menggunakan daun karena plastik menjadi mahal. Ia menegaskan: “Ada ibu-ibu cerita yang jualan di pasar biasa bungkus pake plastik, sekarang pake daun. Nah itu kan plastik turun. Itu kan ancaman PHK di industri plastik.”

Efek lanjutan dapat merembet ke sektor lain, seperti elektronik dan otomotif, yang banyak memakai komponen berbahan plastik. Ia berharap ketegangan antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran segera mereda. “Begitu pula industri elektronik bisa kena. Mudah-mudahan perang bisa kembali damai, selesai sehingga bisa turun harga plastik. Tapi nggak semudah itu kata perusahaan-perusahaan, dalam 3 bulan kepada serikat pekerja, di elektronik kan pakai plastik frame nya. Di otomotif spakbor, beberapa komponen lain juga pake plastik,” tambahnya.

Selain itu, sektor semen menghadapi tekanan akibat kelebihan pasokan. Permintaan semen menurun karena perang, sementara masuknya pabrik baru memperketat persaingan. Said Iqbal menjelaskan: “Apalagi sekarang dalam suasana perang. Permintaan terhadap semen kan berkurang. Udah mah oversupply, pabrik baru bikin lagi kemudian izinnya diberikan dan mulai operasional, permintaan semen akibat semen turun. Ya otomatis terjadi efisiensi buruh dan pekerja ya PHK.”

Hingga saat ini, belum ada respons resmi dari pemerintah kepada buruh. Said Iqbal juga menegaskan belum ada rencana diskusi mengenai ancaman PHK massal ini. Ia menekankan perlunya dialog lebih lanjut antara serikat, perusahaan, dan pemerintah untuk menghindari dampak sosial yang lebih besar.

Secara keseluruhan, situasi ini menyoroti keterkaitan antara geopolitik, nilai tukar, dan ketenagakerjaan di Indonesia. Perusahaan di sektor tekstil, plastik, elektronik, otomotif, dan semen harus menyesuaikan strategi produksi dan tenaga kerja agar dapat bertahan dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu. Peluang bagi pemerintah untuk memberikan kebijakan mitigasi menjadi kunci agar pekerja tidak terjerat dalam PHK massal yang dipicu oleh faktor luar negeri.

PHK massalketegangan Timur Tengahindustri tekstilplastikelektronikotomotifsement

Komentar

Memuat komentar...