Piala Dunia 2026: Istirahat Minum 3 Menit Setiap Babak
Gambar atau konten salah?
Hydration break atau jeda minum di Piala Dunia 2026 tidaklah konsep baru. Sejarah menunjukkan bahwa jeda minum resmi pertama kali diterapkan pada Piala Dunia 2014 di Brasil. Aturan tersebut muncul sebagai hasil evaluasi FIFA setelah Piala Dunia Antarklub musim panas di Amerika Serikat, di mana pemain dan pelatih Chelsea mengeluhkan cuaca panas.
Di Piala Dunia 2026, FIFA mengumumkan pada bulan Desember bahwa semua 104 pertandingan akan dihentikan sementara selama tiga menit. Istirahat minum ini akan terjadi di tengah setiap babak, tepat pada menit ke-22 dan ke-65.
Jeda minum ini sebenarnya sudah pernah terjadi secara tidak resmi. Pada Piala Dunia 2024, di pertandingan babak penyisihan grup antara Amerika Serikat dan Portugal di Manaus, Brasil, pemain memanfaatkan jeda untuk minum. Karena dianggap membantu, jeda minum resmi pertama kemudian diadakan di turnamen yang sama, di Fortaleza, Brasil, pada pertandingan babak 16 besar antara Belanda dan Meksiko. Suhu di lapangan mencapai 39°C.
Sejak sebelum turnamen dimulai, pengadilan ketenagakerjaan di Brasil mengeluarkan perintah hukum. Perintah tersebut mewajibkan FIFA menerapkan jeda minum bila Wet‑Bulb Globe Temperature (WBGT) mencapai atau melebihi 32°C. FIFA akhirnya mematuhi aturan tersebut demi keselamatan pemain.
WBGT bukan sekadar termometer biasa. Indeks ini menghitung kombinasi suhu udara, kelembapan, kecepatan angin, dan intensitas radiasi matahari langsung. Dengan menggunakan WBGT, FIFA dapat menilai risiko heatstroke pada pemain. Risiko ini dapat membahayakan tubuh pemain dan merusak kualitas permainan jika mereka tidak dapat bermain maksimal.
Proses pengadopsian jeda minum tidak terjadi dalam semalam. Ada perdebatan panjang antara kepentingan bisnis hiburan—karena menghentikan pertandingan berarti memotong siaran TV—dan kepentingan keselamatan medis pemain. Beberapa stasiun televisi memotong siaran saat pemain minum dan menggantinya dengan iklan. Hal ini membuat banyak penonton marah karena dianggap mengganggu keseruan pertandingan.
Di sisi lain, pelatih memanfaatkan waktu istirahat ini untuk memberikan instruksi taktis mendalam, mirip dengan timeout di bola basket atau American football. Beberapa pihak menganggap jeda minum seperti membagi laga menjadi empat kuarter, sehingga dapat merusak ritme pertandingan.
Wasit akan meniup peluit pada menit ke-22 setiap babak untuk memulai jeda minum. Setelah tiga menit, peluit kedua menandai akhir istirahat minum dan pertandingan dilanjutkan. Aturan ini bertujuan mengurangi risiko heatstroke dan menjaga kualitas permainan.
Dengan mengadopsi jeda minum, FIFA menunjukkan komitmen terhadap keselamatan pemain sambil tetap mempertahankan struktur kompetisi. Keputusan ini menandai langkah penting dalam evolusi regulasi Piala Dunia, menyeimbangkan kebutuhan medis dengan ekspektasi penggemar dan penyiar.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Robi Syianturi Raih VO2 Max 80, Viral di Media Sosial
Robi Syanturi Capai VO2 Max 80, Rekor Atlet Lari Indonesia
Waktu Jalan Kaki Tak Penting, Asalkan Konsisten
Piala Dunia 2026: Cuaca Panas Ekstrem, 26 Pertandingan Risiko
Eriksen Kembali Sehat, Terima Alat ICD Selamatkan Hidup
Banjir melanda Jakarta, ribuan rumah terdampak pada akhir bulan
Berita Terbaru
Pepes Jamur Tiram Kemangi: Resep Mudah dan Lezat Sunda
Cape Verde Tahan Spanyol 0‑0, Piala Dunia 2026 Penuh Semangat
Cape Verde Debut Piala Dunia: Vozinha Tangkap 7 Penyelamatan
Hujan Ringan di Jawa Tengah Hari Selasa, 16 Juni 2026
Tugu Soeharto Semarang Tempat Ritual 1 Suro & Pasar Malam
Semeru Mengeram, Erupsi Pagi 05:20-07:00, Kolom Abu 1.000m
Tanah Sengketa: Film Horor Misteri Rilis 25 Juni 2026
Video Wisatawan Menanjak GAK Lampung Terbakar Media Sosial
Doa Awal Muharram: Membuka Tahun Baru dengan Syukur