Tugu Soeharto Semarang Tempat Ritual 1 Suro & Pasar Malam
Gambar atau konten salah?
Tugu Soeharto di Semarang, sebuah monumen yang berdiri di Kecamatan Gajahmungkur, menjadi pusat perhatian setiap malam 1 Suro. Monumen ini, yang tingginya kurang lebih 8 meter, terletak di Kelurahan Bendan Duwur, tepat di tempat pertemuan dua sungai, Kali Kreo dan Kali Garang. Tempat ini dianggap keramat karena konfluensi sungai tersebut diyakini memiliki kekuatan spiritual.
Hari biasa, tugu ini sering dilalui oleh para pemancing dan anak-anak yang suka berenang di sekitarnya. Namun suasana berubah drastis ketika malam menjelang 1 Suro. Orang-orang mulai mengumpul di sekitar tugu untuk melakukan ritual kungkum, yaitu berendam di malam hari dengan harapan mendapatkan keberuntungan atau wangsit.
Supriyanto, seorang warga yang telah puluhan tahun tinggal di kawasan tersebut, mengungkapkan bahwa ritual ini tidak hanya diikuti oleh penduduk Kota Semarang. Ia mengatakan, “Biasanya paling jam 00.00 WIB kungkum di bawah, cari tempat yang agak gelap, sama bawa kembang, jamas keris, cari wangsit. Tergantung orangnya ingin apa, misal ingin naik pangkat, rumah tangganya tentram.” Supriyanto berusia 56 tahun dan telah tinggal di sekitar Tugu Soeharto selama lebih dari satu dekade.
Menurutnya, semakin banyak orang mengetahui cerita keramat di sini, suasana malam 1 Suro pun menjadi lebih ramai. Ia menambahkan, “Karena sudah semakin banyak masyarakat yang mengetahui cerita keramat Tugu Soeharto, Supriyanto menyebut suasana di malam 1 Suro pun kini sudah lebih ramai. Oleh karenanya, warga luar kota yang hendak mencari wangsit baru akan mulai semedi sekitar pukul 01.00 WIB.” Ia juga menjelaskan, “Jadi kadang yang dari luar kota jam 01.00-02.00 WIB ke sininya, pas sepi. Nanti yang semedi ada dari Klaten, Sukoharjo, sampai pagi, kadang sampai jam 04.00 WIB, nyari wangsit.”
Selama 18 tahun tinggal di sekitar tugu, Supriyanto pernah menyaksikan berbagai aktivitas spiritual. Ia pernah menemani seseorang yang melakukan ritual dan tiba-tiba berlari untuk mendapatkan benda gaib. Ia berkata, “Ada yang cari akik. Kemarin ada yang semedi di atas jembatan, sama aku lagi berdiri. Tahu-tahu lari ke sungai, dapat liontin pink ada kembang-kembange, ada isinya yang gaib gitu.”
Menurut legenda turun temurun, Tugu Soeharto dipercaya sebagai tempat persembunyian Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, ketika masih bertugas di militer dan dikejar penjajah pada masa perang kemerdekaan. Meskipun belum ada catatan sejarah resmi, cerita ini tetap dijaga oleh masyarakat setempat.
Al Frida, Camat Gajahmungkur, menyatakan bahwa warga di RW 4 menggelar pasar malam dengan berbagai kegiatan. Ia menambahkan, “Memperingati Malam 1 Suro, panitia RW 4 mengadakan budaya tahunan yaitu pasar malam, pengajian, doa bersama dan pentas seni.” Pasar malam ini diisi stan UMKM yang berjajar mulai dari SPBU Bendan Duwur hingga jembatan di atas Tugu Soeharto.
Dr. Tsabit Azinar Ahmad, pakar sejarah dari Universitas Negeri Semarang, menjelaskan dua faktor yang membuat Tugu Soeharto dianggap sakral. Ia berkata, “Pertama, Tugu Soeharto itu sejarahnya berkaitan dengan tempat yang dulu pernah digunakan oleh Soeharto ketika dalam kejaran Belanda. Tetapi sumbernya masih cerita-cerita lisan yang berkembang di masyarakat.” Ia melanjutkan, “Ada yang bilang itu waktu Agresi Militer 1948. Bisa saja benar karena Pak Harto cukup lama bertugas di Jawa Tengah, tetapi secara sejarah ini masih perlu dibuktikan.”
Menurut Tsabit, pertemuan Kali Garang dan Kali Kreo dipercaya sebagian masyarakat Jawa sebagai lokasi yang memiliki kekuatan spiritual sehingga kerap digunakan untuk ritual pembersihan diri, khususnya pada 1 Suro. Ia menyatakan, “Ketika ada dua aliran yang bertemu, itu dianggap tempat sakral. Karena itu banyak orang melakukan kungkum, terutama pada malam 1 Suro yang juga dianggap sebagai momen sakral.”
Ia juga menekankan bahwa ketika masyarakat meyakini tempat tersebut pernah digunakan oleh tokoh besar dan kemudian tokoh itu selamat, maka tempat tersebut dianggap memiliki makna historis dan simbolis. Ia menambahkan, “Ketika masyarakat meyakini pernah digunakan oleh tokoh besar dan kemudian tokoh itu selamat, maka tempat tersebut dianggap memiliki makna historis dan simbolis.”
Dr. Tsabit menjelaskan bahwa fenomena ini menunjukkan bahwa Tugu Soeharto tidak hanya menyimpan cerita sejarah, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk merawat memori. Ia mengatakan, “Kalau dilihat dari perspektif sejarah, ritual yang masih dilakukan di sana merupakan bentuk merawat memori. Orang masih mengingat nilai-nilai budaya Jawa sekaligus cerita yang melekat pada tempat itu.” Ia menutup dengan, “Kalau memiliki nilai penting bagi sejarah dan budaya masyarakat, sebenarnya bisa dikaji untuk diusulkan menjadi cagar budaya.”
Setiap malam 1 Suro, tugu ini menjadi pusat kegiatan spiritual dan sosial. Dari pengunjung lokal hingga wisatawan dari kota lain, semua berkumpul di sini untuk berdoa, berkunjung, dan menikmati pasar malam. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat ikatan komunitas, tetapi juga menjaga warisan budaya yang masih hidup di tengah arus modernitas. Tugu Soeharto tetap menjadi saksi bisu sejarah dan tempat bagi generasi muda untuk belajar tentang nilai-nilai tradisi dan sejarah Indonesia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Tugu Soeharto Semarang: Kisah Sejarah Lisan Tanpa Bukti
Tugu Soeharto di Bendan Duwur: Monumen Sakral di Sungai
Pemerintah Solo Koordinasi Kirab Pusaka Malam 1 Suro
Niat Puasa Muharam 1-10: Cara Membaca dan Keutamaan Asyura
Batu Lingga Prasasti Klaten Dipindahkan ke Museum Klaten
Empat Anggota Keluarga Meninggal Akibat Keracunan CO di Tenda Posong
Berita Terbaru
Semeru Mengeram, Erupsi Pagi 05:20-07:00, Kolom Abu 1.000m
Tanah Sengketa: Film Horor Misteri Rilis 25 Juni 2026
Video Wisatawan Menanjak GAK Lampung Terbakar Media Sosial
Doa Awal Muharram: Membuka Tahun Baru dengan Syukur
Buaya 4 Meter Melintas Sungai Cimandiri, Warga Waspada
Tugu Soeharto Semarang: Kisah Sejarah Lisan Tanpa Bukti
Berbagai Susu Olahan: Proses, Penyimpanan, dan Penggunaan
Balik Nama Motor Bekas Tak Perlu BBNKB, Proses Ringkas
Honda Racing Dominasi Mandalika Festival Speed 2026
