PMI di Zona Kontraksi, Indonesia Ketinggalan dari Vietnam yang Naik Kelas

Dian P. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
PMI di Zona Kontraksi, Indonesia Ketinggalan dari Vietnam yang Naik Kelas

Gambar atau konten salah?

Kondisi ekonomi Indonesia sebenarnya bisa dilihat dari satu angka saja. Angka itu adalah data PMI manufaktur yang terus merosot. PMI, atau Purchasing Managers' Index, adalah indikator kesehatan sektor industri. Kalau angkanya di bawah 50, itu artinya sektor industri sedang dalam zona merah atau kontraksi.

Didik J Rachbini, ekonom dari INDEF yang juga Rektor Universitas Paramadina, menjelaskan bahwa meskipun ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% pada kuartal lalu, pertumbuhan itu didorong oleh sektor negara. Bukan dari sektor industri yang justru semakin melemah. Data dari S&P Global pada Juni 2026 menunjukkan PMI Indonesia hanya berada di angka 46,9. Bandingkan dengan Vietnam. Negara itu mencatat pertumbuhan ekonomi hingga 8%. Rahasianya? Sektor industri yang dibangun selama 2-3 dekade terakhir.

Vietnam menerapkan kebijakan yang ramah terhadap investasi. Mereka membangun sektor industri secara serius. Hasilnya, ekonomi Vietnam bertransformasi menjadi negara industri baru. Pada Juli 2026, Bank Dunia resmi menetapkan Vietnam sebagai negara berpendapatan menengah atas atau upper-middle-income country. Pendapatan nasional bruto (GNI) per kapita Vietnam mencapai sekitar US$ 4.970. Angka itu sudah melampaui batas US$ 4.636 yang ditetapkan Bank Dunia.

Kondisi Indonesia

Didik menilai sektor industri Indonesia sudah lama terombang-ambing. Tidak ada pijakan kebijakan yang jelas. Penurunan PMI manufaktur ke zona kontraksi adalah akibat dari kebijakan yang absen terhadap sektor industri dan investasi. Bukan hanya itu. Dunia usaha juga menghadapi tekanan biaya. Tekanan itu datang dari faktor geopolitik global dan masalah domestik. Pengusaha tidak akan menanamkan modal selama tidak ada kepastian kebijakan. Birokrasi yang rumit dan insentif yang tidak memadai membuat industri sulit tumbuh pesat.

"Ada juga faktor daya beli masyarakat yang menurun," kata Didik dalam keterangan tertulis pada Sabtu, 04 Juli 2026. "Tetapi itu terjadi karena sektor industri mengkerut. Ekonomi secara keseluruhan tidak cukup menyediakan kesempatan kerja yang produktif."

Masalah ini seperti lingkaran setan. Untuk memutusnya, diperlukan transformasi struktur industri, deregulasi, dan debirokratisasi. Tujuannya agar dunia usaha, terutama sektor industri, bisa berkembang. Pemerintah sebenarnya pernah menjalankan praktik kebijakan terbaik pada tahun 1980-an dan 1990-an. Hasilnya, ekonomi tumbuh 7-8% dan sektor industri tumbuh 10-12%. Sayangnya, kebijakan seperti itu tidak atau belum mampu dijalankan kembali.

"Kebijakan seperti inilah yang dijalankan oleh Vietnam sehingga sekarang sudah melompat menjadi negara industri berpendapatan menengah atas," ujar Didik. "Kita tidak pernah secara konsisten menjalankan kebijakan transformasi struktural dan deregulasi seperti itu lagi. Akibatnya, tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia berhenti di tingkat moderat 5 persen tanpa dukungan sektor industri yang kuat."

Kalau diteliti pertumbuhan tiap kuartal dari masing-masing sektor, sektor industri terus menurun dari waktu ke waktu. Ini alarm. Tanda bahaya. Sama persis dengan indikasi data PMI yang sedang menurun sekarang.

Kondisi di Vietnam

Vietnam mengambil jalan sebaliknya. Mereka membuat kebijakan transformasi struktur ekonomi dengan strategi industri yang jelas: "Masuk dulu ke rantai produksi global, baru naik kelas secara bertahap." Strategi ini adalah strategi outward looking. Persis seperti yang dilakukan Indonesia pada tahun 1980-an. Tahapannya adalah menarik FDI atau investasi asing langsung yang berkualitas.

Di sinilah perbedaannya. Indonesia menarik investasi yang tidak berkualitas. Contohnya restoran, jasa perdagangan, pengemasan, dan lain-lain. Sementara Vietnam mengarahkan investasi ke pasar ekspor sambil mengembangkan industri domestik. "Yang paling penting adalah proses transfer teknologi dan pengembangan inovasi di alam kebijakan tersebut," jelas Didik.

Menurut Didik, Indonesia sekarang kalah dengan "anak bawang". Vietnam. Negara yang pada tahun 1970-an rakyatnya masih mengungsi di Pulau Galang dan Rempang. Kalau tidak ada kebijakan untuk membangkitkan industri secara masif dan tidak memperbaiki iklim usaha, Indonesia bisa menjadi negara sakit di ASEAN.

Sekarang, Vietnam tidak hanya menjadi negara berpendapatan menengah atas. Mereka juga mulai memasuki fase yang disebut beberapa pengamat sebagai "Đổi Mới 2.0". Ini adalah transisi dari ekonomi berbasis upah murah menuju ekonomi berbasis inovasi dan teknologi. Nilai tambah industrinya tinggi. "Berbeda dengan Indonesia, dalam waktu yang tidak lama dan dengan tingkat pertumbuhan 8 persen, negara ini bisa melewati jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap)," tutup Didik.

Intinya, Indonesia punya contoh nyata dari masa lalunya sendiri dan dari tetangganya sekarang. Vietnam membuktikan bahwa kebijakan industri yang konsisten, deregulasi, dan fokus pada investasi berkualitas bisa mengubah nasib sebuah negara. Tanpa langkah serupa, Indonesia berisiko tertinggal di kawasan sendiri.

PMI manufakturkontraksi industrikebijakan industritransformasi strukturaldaya beliinvestasi berkualitasdaya saing

Komentar

Memuat komentar...