PMI Manufaktur Anjlok ke 46,9, APINDO Ungkap Penyebabnya
Gambar atau konten salah?
Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) mengungkapkan alasan di balik menyusutnya sektor manufaktur dalam negeri. Kondisi ini terlihat jelas dari angka Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang ambles ke titik 46,9 pada Juni. Bandingkan dengan posisi 50,0 di bulan sebelumnya.
Ketua Umum APINDO, Shinta Kamdani, menjelaskan bahwa akar masalahnya ada pada permintaan global yang melemah. Konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utamanya. Meskipun Amerika Serikat dan Iran sudah mencapai kesepakatan damai, dampaknya masih terasa.
"Kalau kita lihat dari segi demand kan, kalau dengan kondisi geopolitik yang ada, jadi secara global ini kelihatan memang demand ada penurunan pastinya. Karena masih ada ketidakpastian lah walaupun ada tanda-tanda kesepakatan, tapi sampai saat ini kan masih permasalahan karena masalah perang, ini masih berdampak," kata Shinta kepada wartawan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta Selatan, pada Selasa, 07 Juli 2026.
Bukan cuma permintaan global yang rendah. Nilai tukar rupiah yang bergejolak juga ikut mendorong kontraksi ini. Pada pukul 10.45 WIB, nilai tukar rupiah masih bertengger di level tinggi, yaitu Rp 17.990.
Ditambah lagi, nilai ekspor Indonesia pada Mei 2026 turun menjadi US$ 23,20 miliar. Angka itu merosot 5,73% dari periode sebelumnya. Beban industri pun semakin berat. Mulai dari harga bahan baku hingga biaya logistik, semuanya naik.
"Tapi dari segi supply kita juga melihat memang cost biaya berusaha, cost industri ini juga terus meningkat gitu, terutama dalam kondisi yang ada ya, karena tadi saya katakan juga bahan baku, logistik, ini juga semua banyak sekali peningkatan," pungkasnya.
S&P Global mencatat penurunan PMI Manufaktur Indonesia dari 50 di bulan Mei menjadi 46,9 di bulan Juni. Ini bukan angka biasa. Penurunan ini dipicu oleh berkurangnya permintaan terhadap barang-barang buatan Indonesia. Pesanan baru menyusut untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir. Laju penyusutannya pun menjadi yang tercepat dalam setahun.
Para pelaku industri menghubungkan kondisi ini dengan daya beli masyarakat yang melemah. Tekanan harga menjadi biang keladinya. Permintaan dari dalam negeri turun, diikuti juga oleh pesanan ekspor yang lesu.
"Kesehatan sektor manufaktur Indonesia menurun dua kali dalam tiga bulan terakhir menutup semester pertama 2026. Tingkat penurunan merupakan yang paling kuat dalam setahun," ujar Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, dalam laporannya pada Rabu, 01 Juli 2026.
Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor manufaktur Indonesia sedang menghadapi tekanan dari dua sisi sekaligus. Dari luar, permintaan global belum pulih akibat konflik. Dari dalam, biaya produksi membengkak dan daya beli masyarakat tergerus. Semua faktor ini saling terkait dan memperburuk situasi industri manufaktur di tanah air.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Harga Listrik ke Singapura Belum Sepakat, Ini Kendalanya
Harga Emas Antam Turun Rp 15.000 per Gram Hari Ini
Microsoft PHK 4.800 Karyawan, Divisi Xbox Paling Terpukul
Prabowo Tunjuk Danantara Kelola Ekspor Listrik ke Singapura
Tokopedia Bantah PHK, Sebut Penataan Tenaga Kerja
Pemerintah Tetapkan Harga Patokan Ayam Rp 19.500 dan Telur Rp 24.000
Berita Terbaru
Belgia Hancurkan AS 4-1, Melaju ke Perempatfinal Piala Dunia
Tebak Rider MotoGP 2026 Pencinta Nasi Goreng, Menang Saldo Rp250 Ribu
PMI Manufaktur Anjlok ke 46,9, APINDO Ungkap Penyebabnya
Aksi Ojol di Medan Tuntut Potongan Tarif 8 Persen
7 Jenis Garam Termahal Dunia, Ada yang Rp27 Juta per Kg
Brasil Pertahankan Ancelotti Usai Tersingkir di 16 Besar Piala Dunia
60 Ribu Camaba Tak Daftar Ulang, DPR Minta Evaluasi