Prabowo Tunjuk Danantara Kelola Ekspor Listrik ke Singapura
Gambar atau konten salah?
Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong bertemu di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, pada Senin, 06 Januari 2026. Salah satu topik utama yang dibahas adalah rencana ekspor listrik dari Indonesia ke Singapura. Dalam konferensi pers bersama setelah pertemuan, Prabowo mengumumkan bahwa ia telah menunjuk BPI Danantara untuk mengelola proyek ini.
"Indonesia telah menunjuk BPI Danantara untuk implementasi kerja sama perdagangan listrik lintas batas," kata Prabowo. Ia juga menyampaikan bahwa Danantara mendapat tugas tambahan di bidang perdagangan, ekonomi digital, ekosistem digital, dan keamanan siber. Prabowo dan Lawrence Wong juga membahas sejumlah capaian konkret lainnya.
"Kita bersepakat untuk terus kolaborasi juga di bidang pangan, dan rantai pasok. Di bidang pertahanan keamanan, kita juga akan implementasi perjanjian kerja sama kita," tegas Prabowo.
CEO Danantara, Rosan Roeslani, yang juga menjabat sebagai Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, mengungkapkan bahwa pihaknya telah bekerja sama dengan dua perusahaan Singapura, Keppel dan Sembcorp, untuk merealisasikan rencana ini. Rosan menyebut proyek ekspor listrik ini bersifat jangka panjang dan diharapkan memberikan keuntungan bagi kedua negara.
"Tadi Bapak Presiden mengamanatkan untuk Danantara bersama-sama nanti dengan dunia usaha, dengan private sector untuk membangun, ini kan sudah lama sebenarnya, sudah empat tahun lah ya lebih. Untuk supaya kerja sama ini bisa terlaksana," jelas Rosan.
Ia memaparkan bahwa total kapasitas listrik yang akan diekspor ke Singapura mencapai sekitar 3,4 gigawatt. Namun, pada tahap awal, ekspor akan dilakukan secara bertahap, dimulai dari 600 megawatt hingga 1,2 gigawatt.
"Totalnya sih nantinya tuh selama berapa tahun tuh 3,4 gigawatt, tapi pembangunan pertama antara 600 megawatt sampai 1,2 gigawatt," beber Rosan.
Dalam salah satu nota kesepahaman yang ditandatangani dalam pertemuan tersebut, Danantara bekerja sama dengan tiga perusahaan, yaitu Singapore Energy Interconnections, Keppel Electric, dan Sembcorp Energy. Rosan menjelaskan bahwa Keppel dan Sembcorp akan bertindak sebagai off-taker, atau pembeli listrik dari Indonesia.
"Keppel dan Sembcorp sebagai off-taker ya. Ya, karena mereka kan juga BUMN," ujar Rosan.
Pembangkit listrik untuk proyek ini akan dibangun di sekitar Batam, Bintan, dan Karimun, Kepulauan Riau. Rosan belum memberikan rincian mengenai jenis pembangkit yang akan digunakan, namun ia memastikan bahwa listrik yang dihasilkan berasal dari energi terbarukan.
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa negosiasi harga ekspor listrik ke Singapura masih berlangsung. Indonesia menginginkan harga yang disepakati bersifat win-win, atau saling menguntungkan.
Bahlil mengatakan bahwa pemerintah, sebagai regulator energi, memiliki hak untuk menentukan harga agar ekspor listrik tetap menguntungkan bagi Indonesia.
"Terkait dengan listrik ke Singapura, proses tahapannya berjalan, tapi kan kita masih menegosiasi tentang harga, dan regulasi kita kan memang harga itu ada di pemerintah. Kita pengin ada win-win, saling menguntungkan. Kerja sama itu harus saling menguntungkan. Nah, oleh karena saling menguntungkan, tinggal di titik itu saja," ujar Bahlil.
Ia menegaskan bahwa hingga saat ini, negosiasi harga masih jauh dari kata sepakat. Harga yang ditawarkan oleh pihak Singapura dinilai belum menguntungkan bagi Indonesia.
"Belum win-win. Saya merasa belum win-win kalau sekarang harganya," tegas Bahlil ketika ditanya apakah harga ekspor listrik sudah disepakati.
Meski demikian, Bahlil enggan membeberkan angka pasti dari tawaran harga yang diajukan Singapura. Ia optimistis bahwa dalam waktu dekat akan ada titik temu dalam kesepakatan harga ini. Ia kembali menekankan bahwa semua yang disepakati harus memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.
"Kalau sudah ada pembahasan, tapi saya pikir sebentar lagi akan ada titik temu kok. Kita pengin semuanya harus punya manfaat yang, yang win-win lah untuk kedua belah pihak ya," tegas Bahlil.
Proyek ekspor listrik ke Singapura ini sebenarnya sudah direncanakan sejak beberapa tahun lalu. Penunjukan Danantara sebagai pelaksana menunjukkan keseriusan pemerintah untuk merealisasikannya. Namun, negosiasi harga yang alot menjadi tantangan utama. Indonesia ingin memastikan bahwa ekspor sumber daya energinya memberikan keuntungan nyata, bukan sekadar memenuhi kebutuhan listrik negara tetangga. Dengan pembangkit yang direncanakan berbasis energi terbarukan, proyek ini juga sejalan dengan tren transisi energi global.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Tokopedia Bantah PHK, Sebut Penataan Tenaga Kerja
Pemerintah Tetapkan Harga Patokan Ayam Rp 19.500 dan Telur Rp 24.000
Adecco Rilis Panduan Gaji 2026 untuk 10 Sektor
Ibu di Medan Raib Rp 120 Miliar dalam 4 Bulan Akibat Love Scam
Uya Kuya Dorong Magang Nasional untuk Lulusan SMA dan SMK
Indonesia-Singapura Teken MoU Lingkungan dan Kredit Karbon
Berita Terbaru
Prabowo Tunjuk Danantara Kelola Ekspor Listrik ke Singapura
Cokelat Hitam Ternyata Bisa Bikin Bahagia
NTT Larang Kendaraan Tunggak Pajak Beli BBM Subsidi
Martinez Mundur Usai Portugal Tersingkir
Inspirasi Perkenalan Diri MPLS untuk Siswa Baru
Trump Sebut Tangis Pelayat Khamenei Air Mata Palsu
Israel 26 Kali Masuki Al Aqsa, Azan Dilarang 84 Kali di Hebron Juni 2026
Pria Toraja Sembunyikan Gigitan Anjing, Tewas Rabies
Nadira Az-Zahra Ditemukan di Bandung
Wakil Wali Kota Bandung: Saya Tak Pernah Diajak Rapat