Aksi Ojol di Medan Tuntut Potongan Tarif 8 Persen
Gambar atau konten salah?
Ratusan pengemudi ojek online (ojol) memadati area gedung DPRD Sumatra Utara di Jalan Imam Bonjol, Medan, pada Selasa, 7 Juli 2026. Mereka datang dari berbagai platform aplikasi, bukan hanya dari dua merek besar yang selama ini dikenal publik.
Aksi ini diberi nama 707. Ada tujuh tuntutan yang dibawa massa. Salah satu yang paling utama adalah soal potongan tarif aplikasi. Para pengemudi mendesak agar potongan itu hanya 8 persen, sesuai dengan yang pernah disampaikan Presiden dalam pidato saat perayaan May Day lalu.
Seorang orator di atas mobil komando menyampaikan keresahan. "Pada perayaan May Day lalu tersampaikan melalui pidato Presiden bahwa peraturan pemerintah untuk menyelamatkan ojol Indonesia dari keterpurukan pendapatan sampai hari ini. Perpres yang disampaikan Bapak Presiden yaitu 8% potongan aplikasi. Namun, sama-sama kita lihat, sama-sama kita dengar, dan rasakan di lapangan, penerapan Perpres masih jauh dari ekspektasi dan harapan kita semua," ujarnya.
Menurut orator tersebut, dalam praktik sehari-hari, potongan yang dikenakan aplikasi masih jauh dari angka yang dijanjikan. "Perpres ini masih jauh dari solusi untuk mengobati luka bertahun-tahun ojol Indonesia. Yang disampaikan kemarin, kawan-kawan sama-sama mendengar, per 1 Juli juga akan diterapkan potongan aplikasi 8 persen. Peraturan yang harusnya, awalnya disambut dengan euforia luar biasa jutaan pengemudi ojol Indonesia, nyatanya sekarang sudah berjalan 1 minggu di bulan Juli. Dampak dari penerapan belum ada," katanya.
Ia juga menyoroti kelemahan aturan tersebut. Perpres hanya mengatur potongan untuk layanan antar penumpang. Layanan pengiriman barang dan makanan tidak tersentuh sama sekali. "Perpres menjadi ambigu ketika layanan yang dituju hanya layanan satu aplikasi atau dua aplikasi. Perpres hanya menyasar layanan bawa penumpang, sementara aplikasi yang kita ketahui bersama banyak layanan yang hari ini terus menerapkan argo-argo murah, potongan-potongan besar. Ini menjadi pertanyaan besar kepada kita, warga ojol Kota Medan. Layanan food, layanan antar barang, tidak tersentuh atau tersampaikan Bapak-bapak pemimpin kita," ungkapnya.
Massa aksi juga mempertanyakan mengapa pemerintah hanya fokus pada dua aplikasi besar. "Apa ini sebenarnya yang terjadi? Apakah para pembantu-pembantu presiden tidak mengetahui akar masalah yang sebenarnya? Ojol bukan hanya Gojek dan Grab. Ojol itu di Indonesia banyak, ini juga ojol, bukan tukang sapu," kata seorang orator.
Hingga berita ini diturunkan, aksi masih berlangsung. Para pengemudi bergantian menyampaikan orasi. "Kami ingin menyampaikan aspirasi yang sudah kami simpan bertahun-tahun dan berulang-ulang," ungkap seorang orator.
Para pengemudi ojol di Medan merasa aturan yang sudah dicanangkan belum berjalan efektif. Potongan aplikasi yang masih tinggi dan aturan yang hanya berlaku untuk sebagian layanan membuat mereka terus mendesak pemerintah untuk meninjau ulang kebijakan tersebut. Aksi ini menjadi salah satu bentuk tekanan agar janji Presiden tidak hanya menjadi wacana tanpa realisasi di lapangan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
DPR Dorong Magang Nasional untuk Lulusan SMA/SMK
PLN Padamkan Listrik Medan Selatan Hari Ini 4,5 Jam
Gempa M 3,2 Guncang Nias Utara
DPR Usul Magang Nasional untuk Lulusan SMA/SMK
BPOM Rancang Standar Nasional Batas Aman Mikroplastik
Israel 26 Kali Masuki Al Aqsa, Azan Dilarang 84 Kali di Hebron Juni 2026
Berita Terbaru
7 Jenis Garam Termahal Dunia, Ada yang Rp27 Juta per Kg
Brasil Pertahankan Ancelotti Usai Tersingkir di 16 Besar Piala Dunia
60 Ribu Camaba Tak Daftar Ulang, DPR Minta Evaluasi
Enam Tim Lolos Perempat Final Piala Dunia, Dua Slot Tersisa
Mi instan diduga picu wabah salmonella di 14 negara Eropa
Empat Pendaki Dievakuasi Helikopter Akibat Beruang di Hokkaido
Napi di Pangkalpinang Kendalikan Narkoba dari Sel
