Prabowo Tantang 3 Menteri: 100 GW PLTS dalam 2 Tahun

Guntur P. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Prabowo Tantang 3 Menteri: 100 GW PLTS dalam 2 Tahun

Gambar atau konten salah?

Presiden Prabowo Subianto memberikan tantangan langsung kepada tiga menterinya. Targetnya terbilang ambisius: membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) hanya dalam waktu dua tahun. Ini bukan sekadar proyek energi biasa. Ada konteks yang lebih besar di baliknya.

Prabowo mengaitkan target ini dengan posisi Indonesia di mata dunia. Ia menyebut, setelah peresmian Biosolar B50, nama Indonesia mulai sering disebut dalam forum-forum global. Negara-negara lain, kata dia, membicarakan langkah Indonesia dalam menekan emisi karbon.

Tiga menteri yang mendapat tantangan langsung adalah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, dan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani. Dalam sebuah kesempatan di Karawang, Prabowo secara bergantian menunjuk mereka dan bertanya, "100 gigawatt dalam dua tahun. Bisa Pak Rosan? Kok kurang keras, bisa? Bisa. Menteri Ekon, Menko bisa? Bisa. Menteri ESDM, bisa? Aku tidak tanya 'laksanakan', bisa nggak? Iya, bisa lah ya."

Ia kemudian menjelaskan bahwa Indonesia saat ini menjadi perbincangan dunia karena dianggap memimpin dalam upaya pengurangan emisi karbon. "Mereka tahu kita punya program B50 tadi. Berapa emisi kita hemat? 44 juta ton CO2 ekuivalen. Kita juga sudah diketahui oleh tim dunia, kita akan bangun 100 gigawatt tenaga surya. Tahun ini PLN akan mulai dengan 17 gigawatt tahun ini," ujarnya pada Sabtu, 11 Juli 2026.

Prabowo tidak menutup mata terhadap kemungkinan adanya keraguan. Ia mengakui bahwa target sebesar itu bisa saja dipandang mustahil oleh sejumlah kalangan. Bahkan ia mempersiapkan para menterinya untuk menghadapi kritik. "Dan kita akan di-'kenyek'. Saya kasih tahu, siap-siap, kita akan dihujat. Pakar-pakar yang pinter-pinter itu akan bilang, 'mana mungkin?'. Ya 'kan? Mana Mungkin?" katanya.

Namun, di tengah pembahasan serius tentang energi dan emisi, Presiden justru menyelipkan satu hal lain yang membuatnya gelisah. Bukan soal PLTS atau B50. Melainkan sepak bola. Ia mengaku masih resah karena Indonesia belum pernah lolos ke Piala Dunia. "Yang masih kita sulit adalah masuk Piala Dunia, nah itu saya masih resah. Jadi saya resah, terus terang saja saya resah. Kita bisa (bikin) B50, tapi tidak bisa masuk Piala Dunia, saya masih tidak puas. Bagaimana caranya masuk Piala Dunia? Saudara-saudara, jangan anggap enteng, sepak bola itu kehormatan, ya," pungkasnya.

Pernyataan Prabowo ini menunjukkan bahwa di tengah target besar di sektor energi, ada juga perhatian pada prestasi olahraga. Ia membandingkan kemampuan Indonesia menciptakan bahan bakar baru dengan ketidakmampuan menembus turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia. Bagi Prabowo, masuk Piala Dunia adalah soal kehormatan yang tak kalah penting.

Prabowo SubiantoPLTS 100 GWemisi karbonBiosolar B50menteri tantangantarget energiPiala Dunia

Komentar

Memuat komentar...