Tiga Kuliner Favorit Jokowi, Makanan Haram yang Perlu Diwaspadai
Gambar atau konten salah?
Presiden ketujuh Republik Indonesia, Joko Widodo, baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-65. Di momen spesial ini, perhatian publik tidak hanya tertuju pada perayaan yang digelar di Solo, tetapi juga pada sederet kuliner favorit yang sering ia santap saat pulang ke kampung halaman. Ternyata, tempat-tempat makan yang jadi langganan Jokowi sudah sangat legendaris dan dikenal puluhan tahun lamanya.
Dalam serial khusus yang diberi nama #JKWKULINER, Jokowi membagikan tiga makanan andalan yang selalu ia nikmati bersama keluarga. Pertama, ada Ayam Goreng Mbah Karto Tembel yang berlokasi di Sukoharjo. Tempat ini terkenal dengan ayam gorengnya yang dimasak menggunakan bumbu santan kental dan disajikan dengan sambal blondo. Sambal blondo sendiri adalah sambal khas yang terbuat dari ampas kelapa yang sudah digoreng, memberikan tekstur dan rasa yang unik.
Kedua, ada Soto Gading. Soto ini memiliki kuah bening yang terlihat sangat sederhana. Namun, kesederhanaan kuahnya justru menjadi daya tarik tersendiri. Soto Gading biasanya dilengkapi dengan aneka lauk pelengkap yang membuat rasanya semakin kaya. Ketiga, ada Soto Triwindu. Soto ini sudah ada sejak tahun 1939, menjadikannya salah satu soto tertua dan paling legendaris di Solo. Kuah soto Triwindu juga bening, dan lauk favorit Jokowi di soto ini cukup unik. Ia suka memesan tempe daun, lidah goreng, dan paru goreng sebagai pelengkap.
Selain soal kuliner favorit presiden, ada juga daftar makanan tradisional yang perlu diwaspadai oleh umat Muslim. Tidak semua makanan tradisional otomatis halal. Beberapa makanan yang sudah sangat familiar di masyarakat ternyata bisa mengandung bahan-bahan yang diharamkan. Contohnya adalah marus, dideh, atau saren. Ketiga makanan ini dibuat dari darah hewan, dan dalam ajaran Islam, darah hewan termasuk bahan yang haram untuk dikonsumsi.
Makanan tradisional lainnya yang perlu dicermati adalah lawar khas Bali. Lawar adalah hidangan yang terbuat dari campuran daging cincang dan sayuran. Namun, beberapa resep lawar tradisional menggunakan campuran darah sebagai salah satu racikannya. Hal ini membuat status kehalalan lawar menjadi tidak otomatis, sehingga perlu ditanyakan kepada pembuatnya. Selain itu, produk populer seperti bakpia dan kue bulan juga berpotensi mengandung bahan haram. Dulu, bakpia bahkan pernah diisi dengan daging babi. Kulit bakpia juga bisa dibuat dari campuran minyak babi. Begitu juga dengan kue bulan, yang ternyata bisa mengandung lard atau lemak babi, atau menggunakan bahan-bahan turunan lain yang berasal dari sumber nonhalal.
Berita ketiga yang menarik perhatian adalah soal panduan mengonsumsi chia seed dengan benar. Chia seed memang dikenal sebagai superfood yang kaya akan serat, protein, dan omega-3. Namun, seorang dokter lulusan Harvard dan Stanford, Dr. Saurabh Sethi, mengingatkan bahwa cara mengonsumsi chia seed tidak boleh sembarangan. Jika dimakan dalam kondisi kering, chia seed bisa menyerap cairan di dalam tubuh dan berisiko menyebabkan penyumbatan pada saluran pencernaan.
Dr. Sethi menganjurkan agar chia seed direndam terlebih dahulu selama 15 hingga 30 menit sebelum dikonsumsi. Proses perendaman ini akan membuat biji chia seed mengembang dan membentuk gel. Tekstur gel ini membuatnya lebih aman dan mudah dicerna oleh tubuh. Konsumsi chia seed juga sebaiknya dimulai dari porsi yang kecil. Hal ini untuk menghindari efek samping seperti kembung atau sembelit. Pastikan juga kebutuhan cairan tubuh tercukupi dengan baik. Bagi pengguna obat pengencer darah, konsumsi chia seed perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan karena kandungan omega-3 di dalamnya bisa mempengaruhi proses pembekuan darah.
Secara keseluruhan, tiga artikel ini menunjukkan bahwa perhatian publik terhadap makanan tidak hanya sebatas soal rasa. Ada juga dimensi budaya, sejarah, hingga kepastian hukum agama yang ikut dipertimbangkan. Dari kuliner favorit seorang presiden hingga panduan aman mengonsumsi makanan sehat, semua informasi ini memberikan gambaran bahwa urusan makanan ternyata lebih kompleks dari yang terlihat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Enam Raksasa Es Krim Jepang Diduga Kartel Harga
Zanzabil, Kopi Jahe Betawi Abad 18 yang Masih Bertahan di Jakarta
Wanita Lansia Kecewa Beli Durian Murah di Promo Sheng Siong, Dagingnya Seperti Bubur Busuk
Zazil Bakery: Kisah Tarmuji, dari Tukang Pangkas Rambut ke Pusat Oleh-Oleh
7 Warung Pecel Lele di Jakarta untuk Tanggal Tua
Tradisi nanas bawa sial, lantai marmer rumah baru rusak
Berita Terbaru
Tiga Kuliner Favorit Jokowi, Makanan Haram yang Perlu Diwaspadai
Kampung Tugu: Jejak Portugis di Jakarta Utara
Marquez Kembali Menang, Rekor Rossi Kian Terancam
Timnas MLBB & PUBG Mobile Indonesia Lolos ke Asian Games 2026
Bupati Sidoarjo Peringatkan Kontraktor: Tepat Waktu atau Kena Denda
Bayi Keracunan Nitrit Usai Susu Formula Dicampur Jus Sayuran
STNK Dua Tahun Mati, Data Kendaraan Bisa Dihapus
Mesir bangkit, kalahkan Selandia Baru 3-1 di Piala Dunia 2026