Program Cikabayam: 250 Ayam Dibagikan ke Warga Banjaran

Yanto K. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Program Cikabayam: 250 Ayam Dibagikan ke Warga Banjaran

Gambar atau konten salah?

Di balik perbukitan hijau Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, sebuah langkah kecil untuk kemandirian pangan mulai disemai. Rabu, 15 Juli 2026, suasana di pemukiman warga tampak berbeda. Sejumlah masyarakat, mayoritas dari keluarga prasejahtera, berkumpul dengan binar harapan di mata mereka. Di tangan mereka, ada masa depan yang baru saja diserahkan: lima ekor ayam.

Salah satu penerima itu adalah Icah. Sehari-harinya, perempuan asal Banjaran ini menghabiskan waktu dengan berkebun di lereng bukit tak jauh dari rumahnya. Baginya, bantuan ternak ini bukan sekadar pemberian cuma-cuma, melainkan amanah untuk mengubah nasib ekonomi keluarganya di masa depan.

"Iya ini alhamdulillah saya mendapatkan ayam untuk di ternak di rumah," ujar Icah.

Icah bercerita bahwa lahan di sekitar rumahnya akan ia manfaatkan secara maksimal untuk membesarkan unggas-unggas tersebut. Dengan pendampingan dari pihak terkait, ia optimistis ayam-ayam ini akan berkembang biak.

"Ini saya punya lahan di rumah jadi nanti akan saya ternak sampai besar," katanya.

Langkah pemberdayaan ini merupakan bagian dari program Cikabayam, singkatan dari Citarum Harum Kambing, Domba, dan Ayam. Inisiatif ini lahir dari tangan Pangdam III/Siliwangi, Mayor Jenderal TNI Kosasih. Program ini memiliki siklus yang unik: warga mendapatkan bibit setelah peternakan yang dikelola TNI memasuki masa panen.

"Hari ini kita panen ayam, sebagian beberapa ayamnya kita sedekahkan ke masyarakat," kata Kosasih.

Namun, ada satu pesan tegas yang dititipkan: ayam-ayam ini dilarang keras untuk langsung masuk ke penggorengan. Setiap warga menerima lima ekor dengan tujuan utama untuk dikembangbiakkan, menjadi lumbung pangan mandiri di halaman rumah sendiri.

"Harapannya setiap rumah tangga ada ayam yang dipelihara untuk ketahanan pangan mereka masing-masing," ungkapnya.

Saat ini, TNI mengelola dua kandang besar di kawasan perbukitan Banjaran dengan total populasi mencapai 6.000 ekor ayam. Untuk tahap awal ini, ratusan ekor telah didistribusikan kepada warga yang membutuhkan.

"Hari ini kami bagikan ke masyarakat sebanyak 250 ekor. Kita bisa panen karena kan yang ukurannya kurang lebih 8 ons baru kita bisa ambil. Ini kan kurang lebih rata-rata 2 bulan baru bisa kita panen," bebernya.

Tak hanya ayam, program Cikabayam juga merambah ke sektor peternakan mamalia. Di lokasi yang sama, para prajurit mengelola kambing dan domba unggulan, termasuk persilangan antara domba Garut dan domba Dorper asal Australia untuk mempercepat produktivitas.

"Kemudian domba Dorper biar dikawinkan silang, jadi satu pejantan kurang lebih ada 20 ekor betina. Itu kambing begitu katanya. Jadi satu jantan 20 betina biar cepat perkembangbiakannya," ucap Kosasih.

Meski saat ini baru terpusat di Banjaran, Kosasih menegaskan bahwa semangat Cikabayam akan ditularkan ke berbagai daerah lainnya. Ia ingin setiap satuan di bawah komandonya menjadi motor penggerak ekonomi warga melalui peternakan.

"Ya, sementara baru daerah sini. Tapi setiap satuan saya perintahkan untuk melaksanakan kegiatan peternakan khususnya kambing dan ayam," tuturnya.

Motivasi Kosasih sederhana namun mendalam. Berangkat dari pengalaman pribadinya yang gemar beternak, ia melihat potensi besar karena ayam dan kambing adalah komoditas pangan yang sangat dekat dengan lidah masyarakat Indonesia.

"Terus kan masyarakat setiap hari rata-rata pasti makan ayam. Kemudian 80 persen masyarakat pun ada lah yang doyan kambing," ucap Kosasih.

Ia berharap program ini menjadi oase bagi masyarakat sederhana agar bisa lebih berdaya di rumah sendiri.

"Ya, mudah-mudahan terus bermanfaat buat kita semua, buat masyarakat mereka khususnya agar mereka juga di rumah mereka sederhana," ucapnya.

Pemerintah Kabupaten Bandung memberikan apresiasi terhadap inisiatif ini. Wakil Bupati Bandung, Ali Syakieb, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk selalu berdiri di belakang program-program yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat.

"Kita pokoknya Pemerintah Kabupaten Bandung, terutama Pak Bupati pasti mendukung semua program-program dari TNI, Polri, dari berbagai unsur," kata Ali.

Ali menekankan bahwa kemandirian adalah kunci. Dengan memelihara ayam tersebut, warga diajak untuk tidak lagi bergantung pada bantuan sesaat, melainkan mampu menciptakan sumber ekonomi yang berkelanjutan.

"Jadi berharap masyarakat Kabupaten Bandung ini bisa lebih baik lagi dari sekarang dan bisa lebih mandiri lagi dari sekarang," tutur Ali.

Program Cikabayam di Banjaran menunjukkan bagaimana peternakan skala kecil bisa menjadi alat pemberdayaan. Dengan 6.000 ekor ayam di kandang TNI dan distribusi bertahap ke warga, inisiatif ini mencoba membangun ketahanan pangan dari halaman rumah. Persilangan domba Garut dan Dorper juga menambah dimensi produktivitas. Meski baru berjalan di satu kecamatan, rencana perluasan ke satuan lain di bawah komando Kosasih menunjukkan ambisi yang lebih besar. Yang jelas, bagi Icah dan warga lainnya, lima ekor ayam bukan sekadar unggas—itu adalah awal dari sesuatu.

Program CikabayamBanjaranKetahanan PanganPemberdayaanAyamKambing DombaTNIKemandirian

Komentar

Memuat komentar...