Remaja 17 di California Diderita Diabetes Tipe 1 & Addison

Lina F. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 72 dibaca
Bisik.id
Remaja 17 di California Diderita Diabetes Tipe 1 & Addison

Gambar atau konten salah?

Seorang remaja perempuan berusia 17 tahun di California tiba di unit gawat darurat setelah muntah terus-menerus selama satu malam penuh. Kunjungan medis awalnya tampak sederhana, namun segera mengungkap kondisi kesehatan yang sangat kompleks dan langka.

Gejala yang dialami mirip dengan diabetes klasik: sering haus, buang air kecil berlebihan, penurunan berat badan drastis, dan kelelahan. Kadar gula darah diukur mencapai 453 mg/dL, jauh di atas batas normal 70-90 mg/dL. Dokter memutuskan diagnosis diabetes tipe 1 dan mulai pemberian insulin.

Namun, ada hal aneh. Meskipun sudah mendapatkan dosis insulin, ia sering mengalami gula darah rendah di pagi hari. Selain itu, ia tetap sangat sering buang air kecil meski asupan cairannya sedikit. Ibu sang remaja menambahkan petunjuk penting: kulit putrinya cenderung "mudah menjadi cokelat", yang bisa menjadi tanda ketidakseimbangan hormon tertentu.

Karena respons tubuhnya tidak biasa terhadap pengobatan diabetes, tim dokter memutuskan untuk melakukan tes pada kelenjar adrenal, kelenjar yang terletak di atas ginjal dan mengatur tekanan darah serta respons stres. Hasilnya mengejutkan: sistem imun remaja ini menyerang kelenjar adrenal sendiri. Kondisi ini dikenal sebagai Penyakit Addison.

Di Addison, tubuh tidak mampu memproduksi hormon kortisol dan aldosteron yang cukup. Kekurangan hormon ini menjelaskan mengapa pengobatan diabetes tidak berjalan lancar dan mengapa ia terus kehilangan cairan tubuh.

Kombinasi diabetes tipe 1 dan Penyakit Addison mengarah pada satu diagnosis langka: Autoimmune Polyendocrine Syndrome Type 2 (APS-2). Sindrom ini diperkirakan hanya menyerang sekitar 1,5 hingga 2 orang dari 100.000. APS-2 terjadi ketika sistem imun secara keliru menyerang berbagai kelenjar pembuat hormon dalam tubuh. Kasus ini terbilang unik karena biasanya kedua penyakit ini muncul dalam waktu yang berjauhan, namun pada remaja ini, keduanya terdeteksi secara bersamaan saat pertama kali masuk rumah sakit.

Setelah mendapatkan kombinasi pengobatan insulin untuk diabetesnya dan terapi steroid untuk menggantikan fungsi kelenjar adrenal, kondisi remaja ini membaik pesat dalam dua bulan. Berat badannya mulai kembali normal, kadar gula darah menjadi lebih stabil, dan fungsi hormon tubuhnya mulai seimbang. Mengingat ia harus menjalani pengobatan seumur hidup untuk dua penyakit autoimun sekaligus, dokter juga memberikan dukungan konseling untuk membantu secara emosional.

Kasus ini menjadi pengingat bagi dunia medis bahwa gejala yang terlihat seperti penyakit umum terkadang bisa menjadi tabir bagi kondisi langka yang lebih serius. Diberitakan Live Science, remaja ini menunjukkan bahwa pemeriksaan menyeluruh sangat penting ketika respons terhadap pengobatan tidak sesuai harapan.

Video: Bolak-balik Rumah Sakit karena Kolik-Diduga Autoimun, Ini Kisah Andaru (Gambas:Video 20detik) kna/kna

Reaksi cepat dan diagnosis yang tepat memungkinkan pasien mengatasi dua penyakit autoimun sekaligus. Kasus ini menegaskan betapa pentingnya perhatian medis terhadap gejala yang tidak biasa, sekaligus memberi harapan bagi pasien yang menghadapi kondisi langka.

Diabetes tipe 1Penyakit AddisonAutoimmune Polyendocrine Syndrome Type 2Hormon kortisolHormon aldosteronInsulinPengobatan steroid

Komentar

Memuat komentar...